Suryadi

PUISI: Jiwa, Waktu

18 Sep 2015 - 17:28 WIB

 

Beratus ribu, bahkan mungkin berjuta puisi sudah diciptakan para penyair. Kata-kata telah lunyah oleh mereka, dan mereka tidak akan berhenti melukunya. Ada puisi-puisi yang diciptakan oleh penyair hebat, sedikit hebat, kurang hebat, dan tak hebat-hebat benar. Puisi-puisi itu bertebaran di berbagai surat kabar dan majalah, sebelum akhirnya (sebagian di antaranya) dibukukan, dijadikan buku puisi/antologi, dengan judul-judul yang manis memikat, yang dengan kapasitas yang ada pada dirinya masing-masing, memperkaya dan memberi katarsis pada jiwa manusia.

Jika kita menelisik halaman-halaman koran-koran dan majalah-majalah, baik yang lama maupun yang baru terbit satu-dua hari yang lalu, sangat mungkin kita akan menemukan puisi.  Jelaslah bahwa puisi menjadi bukti nyata atas efek dari tradisi keberaksaraan tulis (print literacy) dalam masyarakat Indonesia. Sebab kita tahu bahwa puisi dituliskan dulu, baru kemudian dibacakan. Namun demikian, seperti kata Eka Budianta dalam artikelnya, “Poetry reading: an Indonesian perspective”, Indonesia Circle 54 (March 1991): 19-28, tradisi baca puisi yang begitu mengurat-akar di Indonesia meneruskan dan mengekalkan tradisi kelisanan (orality) dalam  budaya keberaksaraan yang dihadirkan oleh dunia perbukuan modern.

Mengapa orang tak habis-habisnya, tak jera-jeranya, dan tak letih-letihnya menulis puisi? Berbilang zaman telah silih berganti berlalu, bermacam era akan datang, tapi orang tak henti menulis puisi. Energi apa yang mendorong orang – penyair atau bukan – merangkai kata-kata hingga menjadi teks literer yang disebut puisi?  Tak lain penyebabnya adalah karena dalam setiap zaman atau era, masih ada manusia yang punya jiwa, jiwa yang tidak tumpul, jiwa yang berpihak pada kebenaran, hati nurani, dan kemanusiaan.

Puisi merekam beragam perasaan hati manusia. Setiap teks puisi mewakili perasaan  selusin, seratus, seribu, ….., bahkan mungkin sekian ratus ribu laksa jiwa manusia di dunia ini. Jadi, setiap puisi yang ditulis penyair mewakili gejolak jiwa manusia, melintasi etnik, ras, agama, ideologi, dan budaya apapun. Penyair, dengan demikian, adalah wakil siapapun untuk menukilkan gerak jiwa dan perasaan hatinya, baik yang menyangkut diri sendiri maupun yang berkaitan dengan dunia atau keadaan di luar dirinya. Bila rasa cinta saya kepada seseorang tampaknya sudah dilayuhkan tanpa harapan, maka jiwa saya berpiuh-pirau bila membaca “Senja di Pelabuhan Kecil”-nya Chairil Anwar; bila saya ingin menyembulkan kembali ingatan-ingatan dan simbol-simbol primordialisme purba keminangkabauan saya, dan membuatnya beriak bekucak-kacau di zaman edan ini, maka saya terasa sebagai orang muntahi dalam suluk tahap akhir (makrifat) ketika membaca puisi-puisi Esya Tegar Putra, semisal “Tentang Gondoriah”, “Lumut Suliki Hijau Sutera”, dan “Ombak Laut Sailan”.

Bila cahaya sering dihubungkan dengan tempat gelap, maka teks puisi adalah pengejawantahan dari jiwa yang mencari kebenaran yang hilang di tempat terang. Demikianlah umpamanya, membaca puisi-puisi Wannofri Samry dalam antologi Menunggu Matahari (2010), kita merasakan sebuah asa yang masih tersisa di tengah alam yang sudah rusak dan kemanusiaan yang makin dilecehkan, yang dibuat hina-dina oleh keangkuhan kota-kota dan negara-negara yang dikendalikan oleh tuan-tu[h]an yang rakus tak kepalang, yang sampai sudah bau tanah pun usianya tetap bergairah memburu kekuasaan dan nikmat duniawi. Puisi-puisi Wannofri Samry mengandung nostalgia sekaligus kritik yang disampaikan dengan nada bicara seorang asketis, dengan suara lirih namun setajam sembilu. Dalam puisi-puisi itu waktu terasa begitu magis dan liar, yang fungsinya tiada lain hanya sebagai penanda kekalahan manusia. Berlaksa buku puisi lainnya yang sudah terbit di negeri ini merekam gerak jiwa dalam ruang waktu tertentu, yang ditegaskan dalam kolofon banyak puisi, yang bila dilihat dari masa kini tidak lain adalah catatan tentang kesesatan manusia yang terus berulang di tempat nan kelam. Puisi mencatat ketololan manusia yang melebihi keledai, sebab keledai saja tak pernah dua kali terperosok di lubang yang sama.

Banyak peristiwa berseliweran di sekitar kita sudah diasah oleh para penyair menjadi ‘batu akik’ puisi. Hanya saja, seperti proses mengasah batu akik lazimnya, ada yang kualitas asahannya bagus, ada yang masih kasar.  Para ‘penyair’ yang hanya ber-geneng-geneng tak berkeruncingan dengan kata-kata, hanya akan menghasilkan ‘batu akik’ berwarna buram, kata-kata esoterik yang kehilangan konteks budaya; sebaliknya mereka yang punya mesin gerinda kuat pengasah kata tentu akan menghasilkan puisi-puisi yang berkilat kilau sepanjang masa. 

Gejolak jiwa yang diabadikan dalam puisi mematrikan keadaan pada masa tertentu. Suasana sesak dalam transportasi publik di Jakarta ketika Belanda melakukan agresi kedua diabadikan oleh penyair Suhandawidjaja dalam puisinya “Trem Djakarta” (dalam Indonesia: Madjalah Kebudajaan, No. 1, Februari 1949: 64): “Tiit, tiiit, tiiiit! / Trem mengeluh berat beban. / Didalam, dibordes, ditangga, / Orang, orang, orang. // Wagon padat sesak. / Keringat siang merangsang hidung. / Dipodjok, terimpit budjang, /Gadis merengut bibirnja luntur. // Tukang kartjis menari Hawaii, / Melenggok-lenggok mentjari djalan./ ”Kartjis, kartjis, kartjiis!”/ ”Abonemen”, orang meringis. // Di Keramat trem berhenti./ ”Maasuk tuuan dan njoonja!”/Pegawai hitam berteriak garang,/Aksen Tapanuli keluar lantang. // Tiit, tiiit, tiiiit!/Pajah trem menarik beban./………… Duniapun sedang merana,/Manusia hilang pikiran./ [Djakarta, 4 Djanuari 1949].”

Dalam puisi Suhandiwidjaja di atas pembaca dapat menangkap turunan, untuk tidak mengatakan arketip, awal dari carut-marut transportasi publik di Jakarta yang tak banyak berubah sampai sekarang, rekaman abadi tentang bagian dari kesengsaraan rakyat berderai di negeri ini. Sesak-padat yang tak pernah terurai itu terus berlangsung di ranah transportasi publik ini, di seantero negeri, sampai kini, bahkan mungkin untuk selamanya. Sementara penyair Syarifuddin Arifin dalam “Di Terminal B Soeta, -to, erdeka-” (dalam buku puisi Galodo di Antara Dua Sungai,  Yogyakarta: Gambang Buku Budaya, 2015:67) menukilkan pula gerak jiwanya. Walaupun latarnya sama-sama di ranah transportasi publik, tapi penerima Anugerah Utama Puisi Dunia 2014 dari Numera Malaysia itu berbicara tentang hal yang lain: “ Aku menyuapkan sesobek roti ke mulutmu / kau mengunyahnya begitu lahap / membiarkan orang-orang bergegas / menyandang ransel, menenteng kardus / atau menyandang tas yang sarat muatan // di bandara sana mereka menunggumu /teleponmu berdering mengirim harap / kita berbeda koridor, memang / saatnya melepas bimbingan // akupun menelan roti yang kau kunyah / kenikmatan yang entah / di sana tak ada yang menantiku / bagaikan sepasang merpati / yang terbang melayah, melayang / aku dilambungkan, kepayang // kecuali harapan demi harapan / yang selalu hangus terpanggang  [Cengkareng, 2014].”

Dua penyair dari zaman yang berbeda (Suhandiwidjaja dan Syarifuddin Arifin) mencatat gerak jiwa masing-masing dalam rangkuman waktu tertentu dengan cara yang berbeda: Suhandiwidjaja menempatkan dunia di luar dirinya sebagai titik sentral; Syarifuddin Arifin memposisikan si aku lirik sebagai titik sentral. Kedua-duanya sah, kedua-duanya bermakna bagi sesiapa saja yang suka membaca puisi, karena setiap pembaca akan mencari tautan gerak jiwa masing-masing dalam kedua puisi itu: Anda, saya, juga dikau…

 

Suryadi | Leiden, 30 Agustus 2015

* Esai ini dimuat di harian Padang Ekspres (edisi perdana halaman budaya Cagak), Minggu, 6 September 2015


TAGS   puisi / suryadi leiden /


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive