Suryadi

Paco-paco Minangkabau #30. Para pantolan komunis berhasil dilumpuhkan

23 Oct 2015 - 19:29 WIB

     “Kepala-kepala kominis di Soematera Barat hampir semoeanja soedah dapat ditangkap atau diboenoeh, misalnya: Si Patai (ditémbak mati), Ngadimin (ditémbak mati), Soeman (ditangkap), Hadji Iman Samad (ditangkap), Nain (ditangkap), dan Hadji Dagam (ditangkap). Tetapi masih ada beberapa orang lagi jang tidak berapa pentingnja haroes ditangkap (J.B.).”

     “Aneta kabarkan dari Padang, bahwa ketika malam Selasa j.l. dibilangan Kotatengah ada orang mentjoba hendak merampok. Tiga orang dari pada perampok-perampok itoe soedah ditangkap. (J.B.).” 

     “Dari Padang Aneta mengabarkan t[g]l. 4 Februari Majoor Rhemrev terima soerat kawat pemberian selamat dari toean Besar Goebernoer Djenderal oentoek beliau dan pasoekannya.

     T.B. [Tuan Besar] meminta poedjiannja disampaikan djoega kepada sersan Lindong (J.B.).” (a)

     “Oléh patroli militér ditangkap beberapa orang pemimpin kedoea dari pergerakan kominis di Ommelanden. Diantaranja ialah Pakih Tahar, menantoe si Patai. (J.B.).” (b)

 

***

Tiga laporan dalam majalah Pandji Poestaka, No. 11, 8 Februari 1927, hlm. 171-172 (a) dan No. 15, Tahoen V, 22 Februari 1927, hlm. 241 (b) (rubrik Kroniek) yang memberitakan operasi-operasi pembersihan yang terus berlanjut terhadap pemberontak komunis oleh kaum militer di Sumatera Barat. Diberitakan bahwa masih terjadi aksi-aksi perampokan di beberapa tempat, seperti di Koto Tangah. Tapi secara umum situasi sudah boleh dibilang aman. Pantolan-pantolan perusuh berhasil ditewaskan atau ditangkap.

 Menarik, bahwa nama salah seorang pimpinan pemberontak adalah Ngadimin, yang kemungkinan besar berasal dari etnis Jawa. (Dalam laporan lain disebut nama Ngadiman; belum jelas, apakah Ngadimin dan Ngadiman adalah orang yang sama atau berbeda). Ini menunjukkan bahwa gerakan ini tidak semata melibatkan etnis Minangkabau. Kepala pemberontak yang paling ditakuti, Si Patai, juga berhasil ditewaskan.

Tampaknya Pasukan Mayor Rhemrev yang didatangkan dari Jawa itu telah melakukan operasi yang sangat keras, sehingga mendapat pujian Gubernur Jenderal. Sersan Lindong asal Menado yang berhasil membunuh Si Patai juga dapat pujian dari Gubernur Jenderal. Tapi tak terdengar pujian untuk komandan-komandan lapangan yang lain, seperti  Sersan Verdonk (yang mengepalai bivak Duku) dan Sersan Ranti, komandan bivak Koto Tangah.

Bagi orang Minangkabau sendiri, mungkin peristiwa 1927 ini adalah penderitaan pertama digebuk oleh tantara pusek sebelum terjadi lagi tahun 1958-1961 saat peristiwa PRRI yang menghancurkan mantagi orang Minangkabau.

Suryadi - Leiden University, Belanda | Padang Ekspres, Minggu, 27 September 2015


TAGS   Minang Saisuak / Paco-paco / minangkabau / Suryadi Sunuri /


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive