Suryadi

Minang Saisuak #237 - Anugrah bintang untuk putra Koto Gadang M. Rasad

27 Oct 2015 - 16:25 WIB

Anugrah bintang untuk putra Koto Gadang M. Rasad Dt. Gunuang Ameh

Dalam satu nomor rubrik ini, kami sudah menurunkan profil Moehammad Rasad gelar Maharadja Soetan, Hoofddjaksa Landraad di Medan. Beliau putra Koto Gadang. Kini kami turunkan pula secuplik cerita tentang putra Koto Gadang yang lain yang juga punya nama panggilan Moehamad Rasad. Beliau adalah Moehammad Rasad gelar Datoek Goenoeng Emas.

Belum diketahui kapan persisnya Moehamad Rasad lahir. Tapi, besar kemungkinan ia juga bersekolah di Fort de Kock, seperti banyak anak-anak Koto Gadang yang hidup sezaman dengannya. Yang jelas, pada Januari 1893 Rasad sudah menjadi leerling di kantor tuan Controleur Alahan Panjang. Dalam bulan Juli 1899 ia diangkat jadi inlandsch schrijver di tempat yang sama.

Moehammad Rasad kemudian dipromosikan ke posisi yang lebih tinggi: pada bulan Desember 1900 ia dipindahkan ke kantor Asisten Residen Solok.  Lima tahun kemudian, pada bulan Maret 1905, ia dipindahkan ke Singkarak, dan dalam bulan Agustus 1907 ia dimutasikan lagi ke Suliki. Lima tahun kemudian, Agustus 1912, ia dipindahkan ke Payakumbuh. Tampaknya ia lebih banyak ditugaskan di Sumatra’s Westkust.

Foto ini dibuat tahun 1924 ketika Moehammad Rasad gelar Datoek Goenoeng Emas masih bertugas di Payakumbuh. Konteks foto ini adalah ketika ia dianugrahi bintang perak oleh Pemerintah atas jasa dan pengabdiannya sebagai pegawai BB/Binnenladsch Bestuur. Tampak orang yang penting-penting dan patut-patut di Payakumbuh hadir dalam upacara penyematan bintang itu di dadanya.

Foto dan cerita tentang Moehamad Rasad ini menambah lagi khazanah pengetahuan kita tentang kultur dan partisipan pemerintahan kolonial di masa lampau. Orang-orang Koto Gadang jelas memainkan peran penting dalam bidang ini pada masa itu. Seperti telah dikaji oleh Elizabeth E. Graves dalam bukunya Asal-usul Elite Minangkabau Modern: Respons terhadap Kolonial Belanda Abad XIX/XX (penerjemah: Novi Andri, Leni Marlina dan Nurasni; Editor ahli: Mestika Zed), Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2007, orang Koto Gadang paling antusias menerima pendidikan sekuler yang diperkenalkan Belanda. Oleh karena itu mereka berhasil mendapatkan posisi yang kuat dalam berbagai bidang dalam lingkungan administrasi Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda pada akhir abad ke-19 dan paroh pertama abad 20. (Sumber foto: Pandji Poestaka, No.8, Tahoen II, 21 Februari 1924:146).

 

Suryadi - Leiden, Belanda | Singgalang, Minggu, 4 Oktober 2015


TAGS   Minangkabau / Koto Gadang /


Comment

Author

Recent Post

Recent Comments

Archive