Suryadi

Paco-paco Minangkabau #31. Pantolan komunis Si Patai tewas

27 Oct 2015 - 16:29 WIB

     “Padang 4 Febr. [1927] (Aneta). Kemarin satoe patroli jang dikepalaï oléh sersan Menado Lindong soedah menangkap doea orang kawan si Patai: agaknja meréka itoe disoeroeh beli beras. Meréka itoe dipaksa oléh militér menoendjoekkan tempat semboenji si Patai. Apabila si Patai melihat kedatangan patroli itoe, ia menjerang dengan péstol browning dan rentjong. Militér menémbak si Patai itoe, kena di kepalanja dan toeboehnja, hingga mati. Dalam perkelahian itoe seorang kawan si Patai, Boejoeng namanja, [juga] mati ditémbak. Majat si Patai itoe hari ini dibawa ke kampoeng[nja]. (J.B.).” (a)

     “Padang 7 Febr. [1927] (Aneta). Majat si Patai tidak diserahkan kepada kaoem keloearganja dan telah dikoeboerkan pada soeatoe tempat jang tiada diketahoei orang. (J.B.).” (b)

***

Laporan majalah PandjiPoestaka, No. 11, Tahoen V, 8 Februari 1927, hlm. 171 (a) dan PandjiPoestaka, No. 12, Tahoen V, 11 Februari 1927, hlm. 189 (b) (rubrik Kroniek)  tentang tewasnya Si Patai (Rajo Jambi), seorang pantolah komunis yang ditakuti di daerah Padang dan sekitarnya. Tempat persembunyian si Patai berhasil ditemukan oleh pasukan tentara yang dikepalai oleh Sersan Lindong dari Menado. Pasukan ini merupakan bagian dari pasukan yang didatangkan dari Jawa untuk mengembalikan ketertiban umum di Sumatera Barat menyusul huru-hara yang disulut oleh orang-orang komunis di Silungkang dan beberapa daerah lainnya. Dilaporkan bahwa Sersan Lindong dan bosnya, Mayor Rhemrev, mendapat pujian dari Gubernur Jenderal di Batavia.

Suryadi - Leiden University, Belanda |  Padang Ekspres, Minggu, 4 Oktober 2015


TAGS   Minang Saisuak / Paco-paco / minangkabau / suryadi leiden /


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive