Suryadi

Menjemput kenangan 87 tahun silam: Sumpah Pemuda 1928

1 Nov 2015 - 17:15 WIB

Bagaimanakah bangsa Indonesia, khususnya kaum mudanya, memaknai Sumpah Pemuda, yang pada bulan ini kita peringati lagi? Mungkin, dalam riak zaman yang makin menggila ini, dan akibat digital amnesia, ingatan kaum muda kita terhadap peristiwa itu makin sayup. Mereka mungkin sedang galau dalam memaknai tiga kata inti dalam sumpah yang diikrarkan oleh kaum muda Indonesia tahun 1928 di Batavia (Jakarta): tanah air, bangsa, bahasa. Memasuki dekade kedua abad 21, ketiganya terasa makin terombang-ambing makin tak menentu di tengah meruyaknya budaya materialisme permisif global yang melanda bangsa ini.

            Mungkin kaum muda sekarang perlu mengingat lagi gagasan-gagasan para pendahulu mereka, yang telah mencentuskan Sumpah Pemuda.

“[D]alam boelan October j.a.d. di Betawi akan diadakan congres pemoeda-pemoeda Hindia, jang akan dihadiri oléh sekalian perkoempoelan-perkompoelan pemoeda Bp. Jang akan dibitjarakan ialah: Pemoeda dan kebangsaan, Gadis Bp. dan pendidikannja, Padvindrij kebangsaan, kepentingan pergerakan pemoeda-pemoeda bagi tanah air dan pendoedoeknja, dan kepentingan pergerakan-pergerakan itoe terhadap pergaolean hidoep bangsa-bangsa lain (internationalisme). Congres akan dipimpin oléh salah seorang dari student Sekolah Hakim Tinggi di Weltevreden.” Demikian laporan majalah Pandji Poestaka No. 73, Tahoen VI, 11 September 1928, hlm.1243.

Cobalah simak oleh kaum muda sekarang pokok-pokok pikiran Sugondo Djojopuspito dan kawan-kawan, predecessor mereka: ide tentang ‘pemuda dan kebangsaan’, ‘usaha untuk memajukan pendidikan gadis-gadis bumiputra’, ‘padvidrij (pramuka) kebangsaan’ (mungkin boleh disebut dengan kata lain: rasa patriotisme), dan ‘gerakan pemuda dalam konteks nasional dan internasional’.

Sejarah mencatat bahwa kaum muda selalu ditakdirkan mampu merebut momen-momen penting, juga berbagai peristiwa sosial-politik yang tak jarang hanya lewat berkelabat tapi menjadi unsur penting dalam memori kolektif bangsa ini di kemudian hari atau malah mengubah jalannya sejarah. Soekarno, Hatta, Bung Tomo, dan banyak pemuda lainnya telah melakukannya, tak terkecuali dalam pertemuan para pemuda di bulan Oktober 1928 itu, sebagaimana dilaporkan oleh Pandji Poestaka No.89, Tahoen VI, 6 November 1928:1541:

Kepoetoesan congrés pemoeda Indonesia. Berhoeboeng dengan kabar kongrés tsb. jang diadakan pada tanggal 27-28 Oct. jtl. di Betawi dikabarkan bahwa oléh congrés itoe diambil kepoetoesan seperti berikoet: Kami poetera Indonesia mengakoe: sama-sama bertoempah darah tanah Indonesia, berbangsa satoe, bangsa Indonesia, dan mendjoendjoeng  bahasa persatoean, bahasa Indonesia. Kemoedian diharapkan soepaja perkoempoelan-perkoempoelan kebangsaan Indonesia memperhatikan dasar persatoeannja, ja‘ni: Kemaoean sedjarah, bahasa, dan hoekoem ‘adat, pendidikan dan [ke]pandoean.”

Sugondo Djojopuspito dan kawan-kawan telah merebut sebuah momen yang kemudian menjadi salah satu torehan sejarah yang penting bagi bangsa Indonesia. Sebab ternyata Kongres Pemuda 1928 itu konon menurut laporan sebuah media tak lebih dari pertemuan orang tua-tua.  Pandji Poestaka edisi No. 88, Tahoen VI, 2 November 1928:1481 melaporkan (ejaan disesuaikan; kursif dari teks aslinya): “[K]ongres […] pemuda-pemuda tadi [tampaknya] sedikit terlampau berpenting-penting. Dipandang selewat tak ada bedanya dengan kongres orang-orang tua. Yang menghadirinya sebagian besar orang-orang tua pula, di antaranya dengan nyonya-nyonya, ada Lid-lid Volksraad; pers pun ada. […] Kami melihat student-student berbicara; bahkan yang berbicara ada yang telah bergelar Mr.. [...] Seandainya tidak ada anak-anak padvinder yang kecil badannya dan muda umurnya, tercerai di kiri kanan kami, boleh jadi benar-benar kami merasa duduk di tengah-tengah kongres orang tua.

     Dalam program kongres antara lain tersebut bahwa tuan Kyai Hadjar Dewantoro (tuan Soe[w]ardi Soerjanigrat) dari Yogya akan berpidato dari hal pendidikan. Beliau seorang guru (onderwijsman) yang ada nama dan ada umur dan ada pengalaman. Jadi patut sekali berpidato dari hal pendidikan. Sayang beliau tidak bisa datang, karena berhalangan. Maka hal pendidikan itu lalu dibicarakan saja oleh pemuda-pemuda sendiri, yang rasanya masih lebih berfaedah seandainya pemuda-pemuda itu mendengarkan pidato orang-orang tua dan menghimpunkan pengalaman dahulu.

     Karena itu maka kongres itu tampak sedikit terlampau berpenting-penting.  

     [A]da satu hal yang menyebabkan kongres itu sepanjang rasa kami kurang lengkap. Yakni kami tidak melihat di situ sifat kepemudaan. Tidak ada apa-apa yang meriang di hati, pemuda-pemuda tidak tampak keracaknya. Melainkan sekaliannya mengerutkan dahi dan menyambung alis kiri dan kanan, mendengarkan pidato atau debat yang berat-berat. [...] Sedang dalam kongres perkumpulan pemuda itu sendiri, seperti Jong Java, Jong Sumatra, Jong Islamieten Bond, Sekar Roekoen, dll., kelihatan mereka pandai juga bersuka-suka. [...]

     Tentang keriangan hati dalam kongres pemuda itu sunyi sekali. Barangkali satu-satunya yang melicinkan kerut kulit dahi dan memutus perhubungan alis, hanyalah larangan polisi saja.

     Oleh polisi dilarang: tidak boleh dipakai perkataan: kemerdekaan. Kalau perkataan itu dipakai, oleh polisi kongres itu dipandang kongres politik, dan tidak boleh dikunjungi oleh orang-orang di bawah umur 18 tahun. [...].”

Catatan Pandji Poestaka di atas menunjukkan bahwa Kongres Pemuda 1928 tak lepas dari sokongan generasi tua. Akan tetapi kaum muda yang terlibat dalam kongres itu aktif dan jeli memanfaatkan waktu dan kesempatan. Pelajaran yang dapat dipetik adalah: kaum/orang muda harus tetap memelihara kerjasama dengan kaum/orang tua dan menaruh rasa respek kepada mereka, sebab kehidupan mereka tak lepas dari kehidupan orang/kaum muda.

Deklarasi ‘bertanah air dan berbangsa satu’, serta ‘menjunjung Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan’ yang  muncul dalam Kongres Pemuda 1928 itulah yang menjadi momen penting yang menyebabkan kongres tersebut kemudian dikenang lama dan diingat sampai hari ini. Ikrar itu lahir pada saat yang tepat ketika gelora nasionalisme makin menggemuruh dalam diri bangsa Indonesia. Momen itulah yang belum muncul pada Kongres Pemuda Pertama (30 April – 2 Mei 1926) yang hanya menampilkan ceramah Soemarto tentang persatuan Indonesia, ceramah Bahder Djohan tentang nasib kaum perempuan di masa depan, dan ceramah Mohammad Yamin tentang bahasa-bahasa dan ilmu kitab Indonesia di masa yang akan datang (Pandji Poestaka, No. 34, Tahoen IV, 30 April 1926:764).

            Akhir kata, dalam peringatan Sumpah Pemuda ke-87 tahun ini, sudah selayaknya kaum muda kita bertanya kepada diri sendiri: sejauh manakah cita-cita para pendahulu mereka itu sudah terwujud dan apakah mereka sudah berkontribusi dalam mewujudkan cita-cita itu demi kejayaan bangsa ini. Tepoklah jidat dan tanyalah diri sendiri.

 

Dr. Suryadi - Leiden University Institute for Area Studies (LIAS), Universiteit Leiden, Nederland


TAGS  


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive