Suryadi

Minang Saisuak #238 - Emas Hitam di Perut Sawahlunto

1 Nov 2015 - 17:31 WIB

Dinding yang berpendar karena cahaya kamera yang sedang dipacul oleh pekerja dalam foto ini adalah batubara kualitas terbaik di Indonesia. Itulah ‘emas hitam’ di perut bumi Ombilin, Sawahlunto. Tujuh orang pekerja yang terlihat dalam foto ini berada di bawah tanah, dalam lorong yang gelap dan lembab tapi penuh dengan batubara.

Sejarah telah mencatat bahwa adalah W.A. de Greve (meninggal dalam kecelakaan perahu di Sungai Kuantan pada 18 Oktober 1872) yang menemukan kandungan batubara di Sawahlunto. Geolog muda itu lahir di Frakener, Belanda, pada 15 April 1840. Dalam usia masih 19 tahun, ia telah meraih gelar insinyur pertambangan dari Akademi Delft pada 1859. Kemudian ia segera pergi ke Hindia Belanda untuk mengadu peruntungan. Pada 14 Desember 1861 ia ditunjuk oleh Pemerintah untuk menangani berbagai penelitan tentang bahan tambang di Hindia Belanda. Kemudian De Greve diutus kemana-mana, antara lain ke Seram dan Bangka. Sembilan tahun setelah penyelidikan yang dilakukan oleh seorang insinyur Belanda yang lain yang bernama C. de Groot van Embden, melalui surat keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda tanggal 26 Mei 1867, De Greve diperintahkan pergi ke Ombilin untuk melakukan penyelidikan lebih rinci mengenai kandungan mineral di sana, yang sejak tahun 1858 sudah diteliti juga oleh seniornya, Ir. de Groot.

Dalam laporannya yang pertama (1868), De Greve menulis bahwa Ombilin mengadung tak kurang dari 200 juta ton batubara, yang tersebar di beberapa tempat, seperti Parambahan, Sigaloet, Lembah Soegar, Sungai Durian, Sawah Rasau, dan Tanah Hitam. Tahun 1870 De Greve melaporkan hasil penelitiannya itu ke Batavia dan pada 1871 ia, bersama W.A. Henny, mempublikasikan hasil penelitiannya yang judulHet Ombilien-kolenveld in de Padangsche Bovenlanden en het Transportstelsel op Sumatra’s Weskust (’s Gravenhage: Algemeene Landsdrukkerij). Tahun itu juga dicatat sebagai awal eksplorasi kandungan barubara di Ombilin.

            Ombilin kemudian menjadi sebuah tempat di mana kisah tragedi dan keserakahan manusia modern dicatat dalam lembaran hitam sejarah. Tempat di tengah belantara Sumatera itu berubah menjadi kota tambang yang mengalirkan duit jutaaan gulden ke Amsterdam Ribuan manusia dari berbagai tempat di Nusantara dipaksa bekerja di sana, sebagian dalam keadaan dirantai. Umumnya mereka adalah orang-orang yang diberi cap ‘residivis’ oleh penguasa putih rakus dari utara itu. Itulah yang kemudian menjadi cerita yang melegenda: orang rantai Sawahlunto.

            Sisa dari keserakahan manusia itu kini meninggalkan bekas berupa sebuah kota yang heterogen dari segi etnisitas dalam ceruk kuali di hutan Bukit Barisan: kota sejarah Sawahlunto. Selama lebih dari seabad kota itu menyimpan kisah tragis, juga kisah romantis tentunya, seperti terefleksi dalam roman Njai Sida [Boenga Mawar Sawah Loento, 1905.

Pada tanggal 5 Agustus 2015, atas undangan Walikota Swahlunto, Bapak Ali Yusuf, S.Pt., dan Kadinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Darah kota Sawahlunto, Buyung Lapau, S.Sos, MSi., saya diberi kesempatan masuk ke bawah kota Sawahlunto, melalui mulut terowongan Mbah Soero, untuk melihat sisa-sisa kerakusan kolonialisme Belanda di masa lampau. Dalam terowongan yang sudah disulap menjadi salah satu objek wisata sejarah kota Sawahlunto itu, saya melihat sisa-sisa batubara yang dulu ditambang di zaman Belanda.

Foto ini, yang dibuat sekitar tahun 1918, mungkin salah satu lorong dalam tambang yang saya lihat itu. Terlihat para pekerja sedang mencungkil dinding terowongan yang penuh dengan arang batu yang berharga mahal itu, yang makin lama makin panjang dan bercabang-cabang seperti lobang tikus. Sekarang kita masih dapat melihat berbagai fasilitas yang pernah digunakan Belanda untuk mengeksploitasi emas hitam di Sawahlunto. Bagi peminat wisata sejarah, Sawahlunto adalah sebuah kota yang menarik untuk dikunjungi.

 

Suryadi - Leiden, Belanda | Singgalang, Minggu, 11 Oktober 2015

(Sumber foto: Frans Naeff, Het aanzien Nederlands Indië: herinneringen aan een koloniaal verleden. Amsterdam: Amsterdam Boek, 1978:112). 


TAGS   suryadi leiden / Suryadi Sunuri / Minang Saisuak / minangkabau /


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive