Suryadi

Horor Bandung dan Kekejaman Agresi Belanda pasca 1945

4 Nov 2015 - 13:20 WIB

“Niuwe foto’s wreedheden Nederlands-Indië opgedoken” (Foto-foto baru tentang kekejaman di Hindia Belanda bermunculan), demikian judul satu artikel Volkskrant  terbitan Amsterdam edisi 16 Oktober 2015 (lihat: http://www.volkskrant.nl/buitenland/nieuwe-foto-s-politionele-acties-nederlands-indie-opgedoken~a4164141/). “Niuw bewijs van executies in Indië” (Bukti baru tentang eksekusi di Hindia Belanda), kata artikel lain di harian itu yang ditulis oleh Lidy Nicolasen.

Artikel itu terkait dengan temuan baru sebanyak 179 foto di Verzetsmuseum  (Museum Perlawanan) Zuid-Holland di Gouda. Foto itu secara tak sengaja ditemukan oleh Joost Lamboo, kurator yang menangani koleksi visual museum tersebut. Ia menemukannya dalam tumpukan “memories of the Second World War” di gudang museum itu yang belum pernah ditata dan dikatalogisasikan. Salah satu dari koleksi foto itu diperlihatkan di sini: gelimpangan mayat beberapa orang anak muda Indonesia yang tampaknya mengalami eksekusi yang kejam setelah ditelanjangi.

Sejarawan visual Louis Zweers memastikan bahwa foto-foto yang kini sedang dipamerkan di museum tersebut asli dan otentik. Namun dia memberi alasan bahwa peristiwa-peristiwa yang diabadikan dalam foto-foto itu terjadi pada saat situasi di Hindia Belanda dalam keadaan chaos menyusul perginya Jepang, sebelum datangnya tentara Belanda untuk mengembalikan ketertiban.

Direktur Verzetsmuseum Zuid-Holland Arjen van Wijngaarden menambahkan bahwa tak ditemukan penjelasan yang terang mengenai konteks foto-foto itu. Dia mempersilakan para sejarawan untuk menelitinya lebih lanjut.

Peneliti Senior KITLV Leiden Profesor Henk Schulte Nordholdt mengakui bahwa pihaknya masih memiliki pengetahuan terbatas mengenai perang 1946-49 itu, yang menurutnya adalah sebuah perang terbesar yang pernah ditimpakan Belanda kepada bangsa lain.

Ada kesan bahwa komunitas akademis Belanda masih malu-malu kucing mengeksplorasi periode perang yang oleh Pemerintah Belanda disebut politioenele acties itu. Sementara media cetak, seperti Trouw, Volksrant, dan NRC, makin sering mengeksposnya.

Perang itu terjadi di abad modern, ketika banyak peristiwa sudah dapat diabadikan dengan mesin ketik, kamera, bahkan film. Dalam sistem dokumentasi dan pengarsipan Belanda yang begitu rapi, rekonstruksi historis mengenai apa yang sebenarnya dilakukan oleh tentara Belanda  di Indonesia pada periode 1946-1949 pastilah tidak akan sesulit merekonstruksi sejarah VOC di abad ke-16 sampai 18 ketika kertas pun masih merupakan barang langka dan mahal.

Ada sekitar 7 meter arsip NEFIS (Netherlands Forces Intelligence Service) di Arsip Nasional Belanda di Den Haag, arsip Ministerie van Defensie (lihat: https://www.defensie.nl/ ), arsip-arsip dan dokumen-dokumen  yang tersimpan di perpustakaan NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlongsdocumentatie) di Amsterdam, Nationaal Militair Museum di Soest, dan mungkin juga di sejumlah tempat lain di Belanda dan di Indonesia.

Apa yang lebih dikhawatirkan mungkin konsekuensi politis and ekonomis yang lebih besar bila terbukti bahwa ada kejahatan perang terstuktur telah dilakukan oleh Belanda di Indonesia selama periode decolonosatieoorlog. Tentang hal ini, tentu kita tak perlu benar menyiangkannya bagai hari dan menerangkannya bagai bulan.

Tuan Limboo tampaknya jauh lebih berani dan berterus terang. Foto-foto itu jelas berlatar seputar 1946 di Indonesia, katanya. Sebuah foto dalam koleksi itu yang mengabadikan sebarisan panjang tentara KNIL yang mengarak bendera berlambang kepala anjing – yang mengingatkan kita pada lambang NEFIS (Nederlands Forces Intelligence Service), CIA-nya Belanda zaman Agresi I dan II, jelas berlatar belakang kota Bandung, katanya. Limboo yakin bahwa foto-foto itu dibuat dengan kamera yang dipegang oleh tangan (seorang) serdadu KNIL. Foto-foto lainnya memberi indikasi kuat tentang tingkah laku tentara Belanda pada periode Agresi I dan II di Indonesia: penggeledahan orang Indonesia dengan cara menelanjangi mereka, pemandangan bumi hangus rumah-rumah penduduk, orang-orang yang mengungsi, show of force tentara KNIL, dll.  Henk Maier dalam artikelnya, “Maelstrom and Electricity: Modernity in the Indies” (1997) benar, bahwa ‘every picture tells a story’ (setiap gambar mengisahkan sebuah cerita).

Pada tanggal 4 November 2015, sebuah simposium mini yang bertajuk “Oorlog in Indonesië, 1945-1950” (Perang di Indonesia, 1945-1950) yang ditaja oleh Koninklijke Nederlandse Akademie van Wetenschappen (KNAW, Akademi Kerajaan Belanda untuk Ilmu Pengetahuan), akan digelar di Trippenhuis Amsterdam. Akan tampil sebagai pemakalah: Stef Scagliola dari Erasmus Universiteit Amsterdam dan tiga peneliti KNAW-KITLV: Henk Schulte Nordholdt, Bart Luttikhuis, dan Gert Oostindie yang baru menulis buku Soldaat in Indonesië, 1945-1950.

Namun, nama sejarawan yang cukup kontroversial menyangkut topik ini, Rémy Limpach, tak tercatat dalam senarai nama para pemakalah. “Kekerasan tentara Belanda pasca 1945 di Indonesia dilakukan secara terstruktur” kata Limpach, peneliti Nederlands Instituut voor Militaire Historie (NIMH), kepada koran NRC Agustus lalu. Ini berlawanan dengan pernyataan penuh eufemisme  dari Pemerintah Belanda selama ini: bahwa berbagai kekerasan dan tindakan sadis yang dilakukan oleh tentaranya di Indonesia selama politionele acties semata-mata hanyalah ‘ekses’ perang, bukan direncanakan secara sistematis.

Limpach membuktikan bahwa banyak kekejaman dan penyiksaan dilakukan secara terencana. Ia mengemukakan argumennya yang cukup kontroversial itu dalam disertasinya di University of Bern yang sekarang dalam persiapan untuk diterbitkan.Penelitiannya lebih didasarkan atas banyak surat pribadi tentara Belanda yang dikirim kepada keluarga mereka di Belanda. Ia bahkan menemukan arsip yang berisi “death list” yang dibuat oleh tentara Belanda.    

Kita berharap kisah kelam bangsa Belanda di Indonesia di awal abad 20 yang modern dan terang itu akan lebih terkuak lagi. Sebanyak 150.000 orang Indonesia tewas dalam perang itu. Begitu biasanya orang Indonesia melihat mayat keluarga dan handai tolan mereka yang mati kena peluru senapang, bazoka, dan bombardemen Belanda pada waktu itu, hingga dalam mengantar jenazah ke kuburan pun tiada lagi tampak mimik sedih dan isak tangis, kata Mohamad Radjab dalam Tjatatan di Sumatra (Djakarta: Balai Pustaka, 1949) berdasarkan kesaksiannya mengenai akibat dari kekejaman perang itu di Minangkabau.

Pengungkapan yang lebih serius dan menyeluruh tentang peristiwa ini, baik oleh akademisi maupun oleh Pemerintah Belanda sendiri, akan bermanfaat tidak saja untuk mempernbaiki hubungan kedua negara, tapi juga bagi kemanusiaan. Jika ada yang terbukti melakukan kejahatan kemanusiaan yang terencana, tentu harus diadili, sebagaimana diingatkan oleh tulisan besar di lorong masuk Verzetsmuseum Zuid-Holland: “Het tribunaal geef zelf je oordeel over aangrijpende gebeurtenissen rondom mensenrechten” (pengadilan itu sendiri memberimu pendapat tentang peristiwa-peristiwa basar menyangkut hak azasi manusia).

Dr. Suryadi - Dosen & peneliti di Leiden Institute for Area Studies (LIAS), Universiteit Leiden, Nederland

Artikel ini dimuat di harian Pikiran Rakyat, Bandung, edisi Senin (Kliwon), 2 November 2015 /20 Muharam 1347 H./Sura 1949


TAGS   Suryadi Sunuri / suryadi leiden / Bandung / Agresi Belanda /


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive