Suryadi

Minang Saisuak #239 - Tewasnya Si Patai Maharajo Jambi

10 Nov 2015 - 08:39 WIB

Tewasnya Si Patai Maharajo Jambi: Hero Padangsche Ommelanden

Akhir tahun 1926 sampai Januari 1927 Ranah Minangkabau bergolak: orang-orang kominis (ditulis demikian, bukan ‘komunis’) melakukan pemberontakan di mana-mana. Yang paling heroik di daerah Sijunjung dan sekitarnya, khususnya di Silungkang dan Sawahlunto. Itu adalah masa ketika rasa palak kepada Pemerintah Kolonial Belanda memuncak akibat kebijakan-kebijakan penjajah yang makin lama makin mencekik leher rakyat.

            Sudah sejak awal 1920-an ideologi komunis mendapat sambutan hangat di Sumatera Barat yang bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah itu. Mulanya benih itu muncul di Padang Panjang, Serambi Mekah. Adalah Datuak Batuah dan kawan-kawan seangkatannya dari kampus Sumatra Thawalib yang dengan gairah menyala-nyala menerima ajaran komunis itu. Dapat diduga, sikap itu muncul lantaran rasa benci yang kian memuncak kepada Belanda yang identik dengan kapitalis penghisap sesama manusia. Itulah masa ketika komunis dan Islam berkelit-kelindan menggabungkan energi menentang kolonialisme Belanda yang mengotori bumi Indonesia.

            Pemberontakan Komunis 1926/1927 di Sumatera Barat menjalar ke mana-mana, tapi terkesan kurang terkoordinasi. Beberapa kajian mengenai peristiwa ini menyimpulkan bahwa pemberontakan itu terkesan prematur. Akibatnya, dalam waktu singkat pemberontakan itu berhasil dipadamkan. Tentara tambahan dari Batavia dan Cimahi (sebanyak 11 brigade) di bawah pimpinan Mayor Rhemrev yang diangkut dengan kapal Riemsdijk dari Batavia sampai di Padang pada bulan Januari 1927. Maka segeralah mereka melakukan pembersihan secara kasar dan bengis: di mana-mana para kepala pemberontak dibunuh dan ditangkapi. Dalam waktu singkat sudah dipenjarakan sebanyak 1100 orang di darek dan 150 di Ommelanden (Padang dan sekitarnya). Banyak di antaranya yang kemudian didigulkan.

Salah seorang ‘pemberontak kominis’ yang ditembak mati adalah Si Patai Maharajo Jambi: ‘Si Pitung’ Padangsche Ommelanden. Rusli Amran dalam bukunya tentang sejarah kota Padang (1986) mengatakan bahwa Si Patai yang konon punya ilmu kebal itu adalah seorang hero di mata rakyat, walau dicap pemberontak oleh Belanda.

Majalah Pandji Poestaka, No. 11, Tahoen V, 8 Februari 1927, hlm. 171 melaporkan: “Pantolan komunis Si Patai tewas. Padang 4 Febr. [1927] (Aneta). Kemarin satoe patroli jang dikepalaï oléh sersan Menado Lindong soedah menangkap doea orang kawan si Patai: agaknja meréka itoe disoeroeh beli beras. Meréka itoe dipaksa oléh militér menoendjoekkan tempat semboenji si Patai. Apabila si Patai melihat kedatangan patroli itoe, ia menjerang dengan péstol browning dan rentjong. Militér menémbak si Patai itoe, kena di kepalanja dan toeboehnja, hingga mati. Dalam perkelahian itoe seorang kawan si Patai, Boejoeng namanja, [juga] mati ditémbak. [...]  Majat si Patai tidak diserahkan kepada kaoem keloearganja dan telah dikoeboerkan pada soeatoe tempat jang tiada diketahoei orang.[...].”

            Foto ini mengabadikan kekejaman tentara kiriman dari Batavia: mayat Si Patai ‘Ribinhood kota Padang’diarak keliling kota sebelum kemudian dikuburkan di suatu tempat yang dirahasiakan (lihat laporan di atas). Ini tentu dimaksudkan agar para pengikutnya tidak mengeramatkan kuburannya, yang tentu berbahaya bagi pemerintah kolonial karena dapat memupuk sifat radikal melawan Belanda.

Selepas pemberontakan itu, Batavia membujuk masyarakat Minangkabau: peraturan pajak  (walaupun disebutkan rencana itu sudah disusun sebelum terjadinya pemberontakan Silungkang) akan ditinjau kembali. Sebuah tim peneliti di bawah koordinasi B.J.O. Schrieke juga dibentuk untuk menyelidiki mengapa pemberontakan itu sampai terjadi. Kemudian, Gubernur Jenderal Andries Cornelis Dirk de Graeff berkunjung ke Sumatera Barat (31/1 – 4/2 -1927).

Demikianlah taktik penjajah menenangkan wilayah yang rusuh. Namun, sifat penjajah yang mengeksploitasi sesama manusia tidak akan pernah hilang. Si Patai Maharajo Jambi, sampai matinya, telah menunjukkan penentangannya terhadap sifat busuk kolonialisme itu. Mudah-mudahan, Pemimpin Redaksi Singgalang Khairul Jasmi dapat mengabadikan kisah Si Patai dalam sebuah novel, seperti pernah disampaikannya kepada saya melalui sebuah SMS. (Sumber foto: Frans Naeff, Het aanzien Nederlands Indië: herinneringen aan een koloniaal verleden. Amsterdam: Amsterdam Boek, 1978:139).

 

Suryadi - Leiden, Belanda | Singgalang, Minggu, 18 Oktober 2015


TAGS   Minang Saisuak / Suryadi Sunuri / Patai Maharajo Jambi /


Comment

Author

Recent Post

Recent Comments

Archive