Suryadi

NAPAK TILAS HISTORIS DUNIA MELAYU

15 Nov 2015 - 19:46 WIB

Ahmad Dahlan, PhD, Sejarah Melayu. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2014, ISBN 978-979-91-0798-5 (hard cover)

Mungkin tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa buku ini adalah ‘cermin terus’ untuk menelusuri perjalanan sejarah bangsa Melayu sejak zaman sebelum ‘air bersentak naik, bumi bersentak turun’ hingga zaman sekarang. Tebalnya mencapai xxiv + 623 halaman, mencakup 30 bab, termasuk bab Pengantar oleh budayawan Melayu (almarhum) Dr. (HC) H. Tenas Effendy (hlm.xix –xxiii), Warkah Pembuka  atau bab pendahuluan (hlm. 1-24), dan Kesimpulan dan Saran (Bab XXX, hlm. 561-565).

 

Beberapa saat setelah saya menerima satu eksemplar buku ini dari sastrawan Riau Fakhrunnas MA Jabbar dan Ramon Damora dalam kesempatan kunjungan mereka berdua ke Leiden akhir April lalu, langsung muncul perasaan salut dalam hati saya bahwa ternyata masih ada politisi-birokrat yang memiliki waktu dan (terutama) minat untuk menulis buku yang jenisnya bukan otobiografi, di mana yang disebutkan terakhir ini makin menjadi trend di kalangan politisi di negara ini.

Sejarah Melayu disusun dengan pendekatan kronologis. Dalam bab-bab awal, penulis mengajak pembaca membayangkan sebuah dunia Melayu Raya dan dalam bab-bab terakhir pembahasan mengerucut ke wilayah Riau Kepulauan (Kepri). Cakupan geografis dan waktu yang dirangkum oleh buku ini sungguh sangat luas: buku ini merekonstruksi sejarah Melayu dari masa prasejarah, zaman penjajahan bangsa-bangsa Barat, dan era pasca kolonialisme, yang mencakup wilayah yang begitu luas, sejak dari Vietnam sampai Filipina Selatan.

Beberapa benang merah yang dapat ditarik dari buku ini, sejak bab pertama sampai bab terakhir, adalah: 1) pengertian ‘Melayu’ itu sendiri (yang kemudian sangat terkait erat dengan penyebaran agama Islam di rantau ini); 2) pusat-pusat pentadbiran penting Melayu, baik yang bersifat lokal maupun kemaharajaan, yang pernah muncul dan eksis di wilayah yang sangat luas ini, dan pengaruh kuasa-kuasa penjajah Barat terhadap dinamika internal pusat-pusat kekuasaan kerajaan/kemaharajaan Melayu tersebut; 3) pemuka-pemuka politik, cendekiawan Islam, dan wira-wira yang menonjol di dunai Melayu; 4) bahasa Melayu (dengan beragam variasinya) sebagai salah satu identitas penting puak-puak Melayu yang telah memfasilitasi terbentuknya tradisi kesusastraan Melayu yang cukup membanggakan di masa lampau.

Tentang pengertian ‘Melayu’ dan asal-muasal nenek moyang bangsa Melayu, dibicarakan dalam Bab I dan Bab II. Uraian mengenai pusat-pusat pentadbiran Melayu, baik yang awal maupun yang baru, serta para bangsawan, cendekiawan, dan wira-wira yang menonjol pada masanya, mengambil sebagian besar dari bab-bab buku ini. Bab III menguraikan 16 kerajaan Melayu awal, seperti Kerajaan Funan, Kerajaan Holotan, Kerajaan Kantoli, dan Kerajaan Melayu Tua Jambi; Bab IV bercerita tentang Kemaharajaan Sriwijaya dan Majapahit. Bab V pula, yang diberi judul ‘Persilangan Mitos dan Sejarah’, menguraikan tokoh-tokoh yang dianggap sebagai founding fathers bangsa Melayu, seperti Iskandar Zulkarnain, Demang Lebar Daun, dan Raja Culan, yang menjadi semacam link penjelas hubungan antara kerajaan-kerajaan Melayu tua dengan kerajaan-kerajaan dan kemaharajaan-kemaharajaan Melayu baru yang lahir belakangan.

Bab VI menguraikan tentang terbentuknya kerajaan-kerajaan di wilayah sekitar dua sisi Selat Malaka (Semenanjung Malaysia dan Riau). Runtutan dari Bab ini adalah uraian yang lebih detil mengenai terbentuknya Kerajaan Melayu Singapura (Bab VII), Kemaharajaan Melayu Malaka (Bab VIII) yang diteruskan lagi dalam dua bab berikutnya: Bab IX tentang wira Hang Tuah dan kawan-kawannya dan Bab X tentang wira Hang Nadim yang dianggap sebagai salah seorang penerus (successor) kewiraan Hang Tuah.

Bab XI menguraikan kemaharajaan Melayu yang berpusat di Johor. Sedangkan bab berikutnya merupakan runtutan dari bab ini yang berbicara tentang Sultan Mahmud Mangkat di Julang.

Bab XIII membicarakan kemaharajaan Melayu yang berpusat di Riau. Dua bab berikutnya (Bab XIV dan Bab XV) menggambarkan relasi kuasa dan pertelingkahan antara dua pihak di wilayah ini: puak Bugis dan Melayu.

Sembilan bab berikutnya (Bab XVI – XXIV) mengisahkan kemaharajaan Melayu yang berpusat di Lingga. Dalam bab-bab ini pembaca dajak menapaktilasi perjalanan sejarah wilayah Riau Kepulauan (Kepri) dalam rentang waktu tidak kurang dari empat abad (sejak abad ke-17 sampai abad ke 20). Penulis membicarakan pasang naik dan pasang surut Kerajaan Lingga, yang kemudian bertransformasi menjadi Kerajaan Riau-Lingga, perkembangan tradisi keberaksaraan (literacy) di Pulau Penyengat, friksi-friksi politik yang terjadi antara sesama kaum bangsawan yang, langsung atau tidak, dipicu oleh kehadiran penjajah Belanda di wilayah ini, penghapusan Kerajaan Riau-Lingga oleh kolonialis Belanda pada tahun 1911, sampai akhirnya bergabungnya bekas kerajaan ini ke pangkuan Republik Indonesia.

Dalam Bab XXV penulis membahas Kerajaan Johor, Malaysia dan Singapura, dilanjutkan kemudian dengan uraian tentang 23 kerajaan-kerajaan Melayu yang pernah eksis di Nusantara, sejak dari Kerajaan Samudera Pasai di ujung Sumatera sampai Ternate dan Tidore di Pulau Halmahera dan sekitarnya.

Bab XXVII khusus membicarakan Bahasa Melayu sebagai warisan untuk dunia. Dalam bab ini penulis menggambarkan perkembangan Bahasa Melayu sejak zaman kuno hingga zaman sekarang serta proses standardisasi yang telah dilakukan terhadap bahasa ini, baik oleh sarjana Barat (Belanda) maupun oleh sarjana Indonesia sendiri (setelah Indonesia merdeka). Akhir bab ini membicarakan Raja Ali Haji dan karya-karyanya, yang kemudian dilanjutkan dalam Bab XXVIII, di mana penulis membahas lebih jauh kehidupan dan pemikiran intelektual Melayu terkemuka ini dan salah satu karya legendarisnya: Gurindam Dua Belas.

Dalam Bab XXIX pembicaraan penulis merucut ke Pulau Batam. Bab ini menguraikan sejarah Pulau Batam sejak zaman lampau sampai zaman sekarang. Dalam Bab XXX (Kesimpulan dan Saran), penulis mengemukakan delapan pokok yang pada intinya melukiskan pertalian keturunan dan zuriat raja-raja Melayu, perlawanan kerajaan-kerajaan Melayu melawan penjajah Belanda dan Jepang, dan Bahasa Melayu sebagai warisan penting yang telah menjadi lingua franca di Nusantara yang kemudian bertransformasi menjadi dua bahasa nasional: bahasa nasional Republik Indonesia dan Kerajaan Malaysia. Dari 10 poin saran yang dikemukakan oleh penulis, dapat dikesan harapan kepada semua pihak yang berkepentingan, baik pusat maupun daerah, untuk menjaga warisan sejarah Melayu,baik yang yang berwujud benda maupun tak-benda. Caranya antara lain adalah dengan memberi penghargaan, dengan membangun kembali artefak-artefak sejarah, dan memperkenalkan nilai-nilai kemelayuan kepada generasi sekarang dan mendatang. 

Setelah membaca dan mengamati gaya tulisan buku ini, yang kaya dengan ilustrasi, menurut saya Sejarah Melayu diperuntukkan bagi pembaca yang lebih luas daripada sekedar komunitas akademik. Gaya bahasanya cenderung membebaskan diri dari struktur ketat dan kaku bahasa karya-karya ilmiah. Membaca buku ini membawa kita ke akar narasi Melayu yang mungkin masih lagi akan bertahan lama: stilistika hikayat sebagai salah satu ciri estetika Riau School yang sudah eksis sejak berabad-abad lampau.

Penulisanya sendiri, yang sekarang menjabat sebagai Walikota Batam, mengakui hal ini dalam esai apresiasinya, ‘Sagang Rembulan’, sempena terpilihnya beliau sebagai salah seorang penerima Anugerah Sagang 2015. Dalam esai itu Ahmad Dahlan, PhD menulis: “Jika kemudian Anugerah Sagang melirik Kitab Sejarah Melayu untuk sebuah nominasi, tentu bukan lantaran segenggam anugerah itu buku ini ditulis. Tidak juga karena buku ini hebat. Tidak ada yang terlalu istimewa dalam buku ini. Ia disusun bukan melalui riset yang dalam, dengan metode yang bagus serta kajian yang komprehensif. Kitab Sejarah Melayu hanya menghimpun hikayat dan riwayat lama dari dahulu sampai sekarang tentang sejarah Melayu, baik yang ditulis maupun yang terucap, baik yang tersurat maupun yang tersirat, baik yang terserak maupun yang terhimpun, yang selama ini berserakan di mana-mana.” (Batam Pos, lembaran ‘Jembia’, Minggu, 1 November 2015). Kutipan itu merefleksikan sikap rendah hati penulisnya. Dan memang dalam kenyataanya tidak sebuah buku pun, walau ditulis oleh seorang jenius sekalipun, yang dapat menjawab semua hal. Adalah tugas penulis yang lain untuk menyisiki tempat-tempat yang rumpang dalam buku ini.

Namun kita yakin bahwa ide dan pemikiran yang dituangkan dalam sebuah buku, betapapun sederhananya, jauh lebih baik dari sekedar omong berbuih mulut yang seketika hilang ditiup angin. Politisi-birokrat seperti Walikota Batam, Ahmad Dahlan, PhD., yang tetap mengalokasikan waktu dan pikirannya untuk menulis buku dalam kesibukannya sehari-hari melayani masyarakat, makin susah ditemukan di negeri ini. Kebanyakan dari mereka hanya suka berkoar-koar di depan kamera televisi atau pergi ‘studi banding’. Kenyataan ini saja sudah menjadi alasan yang cukup untuk memberikan apresiasi positif kepada buku ini dan penulisnya.  

Dr. Suryadi - Leiden Institute for Area Studies (LIAS), Universiteit Leiden, Nederland

**** Resensi ini dimuat di harian Batam Pos (lembaran ‘Jembia’), Minggu, 15 November 2015


TAGS   Resensi Buku Sejarah Melayu / Ahmad Dahlan / PhD /


Comment

Author

Recent Post

Recent Comments

Archive