Suryadi

Minang Saisuak #240 - Bgd Dahlan Abdoellah masa bersekolah di Den Haag

24 Nov 2015 - 20:25 WIB

Dalam rubrik ‘Minang saisuak’ edisi Minggu, 29 Desember 2013, sudah diturunkan profil Bagindo Dahlan Abdoellah, salah seorang putra Pariaman generasi awal yang bersekolah ke Negeri Belanda. Lahir di Pasia, Pariaman, pada 15 Juli tahun 1895, Dahlan Abdullah – dalam dokumen-dokumen kolonial namanya biasa ditulis ‘Baginda Dahlan Abdoellah’ – menamatkan pendidikannya di Kweekschool (Sekolah Radja) Fort de Kock, kemudian melanjutkan pendidikannya ke Belanda. Di Kweekschool Fort de Kock, Dahlan Abdoellah kurang lebih seangkatan dengan Tan Malaka dan Sjarifah Nawawi (lihat: rubrik ‘Minang saisuak’, edisi Minggu, 27 Februari 2011). Selama berada di Belanda, Dahlan aktif dalam Perhimpoenan Hindia (Indische Vereeniging), organisasi pertama yang menghimpun para pelajar dari Indonesia di Belanda. Ia juga menjadi hulpleraar pertama pengajaran Bahasa Melayu di Universiteit Leiden, membantu Prof. Ph.S. van Ronkel.

Dalam rubrik ‘Minang saisuak’ kali ini kami turunkan foto langka yang mengabadikan Dahlan Abdoellah muda ketika belajar di Haagsch Genootschap Kweekschool yang beralamat di Antonie Duyckstraat 126, Den Haag. Dahlan mulai masuk di sekolah itu tahun 1913, tapi sebuah buku peringatan tentang sekolah itu mencacatat bahwa ia adalah seorang alumni dari periode 1911-1915. Arsip-arsip visual tentang Haagsch Genootschap Kweekschool pada periode Dahlan bersekolah di sana menunjukkan bahwa sangat mungkin hanya Dahlan sendiri yang menjadi siswa pribumi dari Hindia Belanda yang menjadi siswa sekolah tersebut.

Dalam foto ini kelihatan Dahlan berdiri paling kiri di barisan nomor tiga. Teman-teman seangkatan Dahlan, kebanyakan perempuan, berasal dari bangsa Belanda sendiri, antara lain (yang berhasil diidentifikasi) adalah Henri C. Planje dan Riet Hillen. Teman seangkatan Dahlan berjumlah 21 orang, enam orang di antaranya laki-laki. 

Diperkirakan foto ini dibuat pada musim panas 1915. Terlihat Dahlan Abdoellah dan kawan-kawannya berpose di depan pintu utama gedung Haagsche Genootschap Kweekschool dalam busana yang tidak menunjukkan suasana musim dingin. Pakaian yang mereka pakai mengindikasikan bahwa cuaca di Belanda (Eropa) pada waktu itu sedang hangat. Haags Gemeentearchief mencatat: Bagindo Dahlan Abdoellah mulai terergistrasi sebagai penduduk kota Den Haag pada tanggal 14 Oktober 1913, dan keluar secara resmi dari kota itu dan pindah ke Leiden pada tanggal 28 Januari 1918. Dahlan Abdoellah kembali ke Tanah Air pada tanggal 5 Januari 1924, setelah berada kurang lebih 13 tahun lamanya bermukim di Negeri Belanda. Karier terakhirnya adalah sebagai Duta RIS (Republik Indonesia Serikat) di Bagdad. Beliau wafat di ibukota Irak itu, semasa masih menjalankan tugas, pada 20 Mei 1950.

Demikian sedikit cuplikan lagi tentang rangkaian perjalanan hidup Bagindo Dahlan Abdoellah yang namanya sudah diabadikan untuk nama sebuah jalan di Pariaman. Tulisan ini adalah bagian dari data yang saya gunakan dalam menyusun biografi putra Pariaman aset nasional ini yang kini sedang saya kerjakan.

Suryadi - Leiden, Belanda | Singgalang, Minggu, 25 Oktober 2015 (Sumber foto: HaagsGemeentearchief, Belanda).


TAGS   Minang Saisuak / Suryadi Sunuri /


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive