Suryadi

Renung #55 | Perut

24 Nov 2015 - 20:35 WIB

Apabila perut terlalu penuh,

Keluarlah fiil yang tiada senonoh.

(Raja Ali Haji, Gurindam Dua Belas, Pasal III, bait 5)

Perut adalah bagian tubuh manusia yang paling nyata tampak perubahannya. Perubahan itu tak mungkin dapat disembunyikan, walau dalam baju longgar bergaya Hadramaut sekalipun.

Mungkin usia rata-rata manusia Indonesia tak lebih dari 70 tahun, dan memasuki usia setengahnya, malah sering lebih awal, perubahan perut sudah terlihat nyata: membuncit dan melebar ke kiri-kanan…tanpa dapat dikendalikan.

Walau banyak orang, terutama kaum hawa, gundah dengan perubahan pada bagian tengah tubuh ini, tak sedikit pula yang acap tak sadar akan perubahan itu dan menganggapnya sebagai sesuatu yang lumrah dan biasa saja.

Mungkin ada baiknya jika sesekali Anda, terutama yang sudah berusia kepala lima (dengan demikian juga berarti diri hamba sendiri), berdiri telanjang sendirian di depan cermin (yang selama ini lebih sering digunakan untuk memandang wajah). Pandangilah lamat-lamat postur tubuh Anda. Pasti ada yang berubah pada bagian tengahnya: perut. Bagian tubuh yang selalu disesaki oleh berbagai jenis makanan itu, baik yang natural maupun yang bercampur zat kimia, tampak sudah menggelembung (syukur jika tidak menggelambir) seperti balon ditiup. Ada dua kemungkinan yang terjadi pada pusar yang berada di titik tengahnya: membudur (meninjol ke luar) atau, sebaliknya, menjorok ke dalam, membentuk ceruk seperti lubang undur-undur.

Di depan cermin lebar bening itu, kepala Anda tiba-tiba terasa mengecil-mengerut. Dan postur tubuh Anda, layaknya sudah seperti kodok, dan…mungkin lebih persis seperti kodok yang sedang mengejan suara di tempat-tempat lembab di malam hari apabila perut yang makin membuncit itu disertai pula dengan dagu yang membengkak oleh tumpukan lemak yang tanpa diundang bergelayut di sana bagai sarang tawon.

Perut memang bagian tubuh manusia yang paling merepresentasikan hakikat dan sifat manusia itu sendiri: makhluk Tuhan homo homini lupus. Mungkin chip dari nafsu milik manusia yang membedakan mereka dengan malaikat berada di sebuah tempat di bagian tubuh manusia yang sejak mereka lahir sampai hampir matinya tak henti-hentinya digempur oleh berbagai jenis makanan dan minuman ini. Karena urusan yang terkait dengan perutlah, manusia–makhluk lemah ciptaan Tuhan itu–saling berperang dan berbunuhan, sejak zaman belum berbelum sampai kini.

Banyak orang tak menyadari betapa rakusnya perut manusia. Hampir tak ada waktu untuk membiarkan bagian tubuh penuh lemak itu kosong. Pagi-pagi ia sudah diisi dengan lontong dengan gulai pekasam dan cencaluk, ditambah dengan segelas minuman manis; tengah hari semangkok indomie rebus atau sepiring nasi dengan segala lauk-pauknya pun masuk pula; petang atau malam harinya meringsek lagi ke dalamnya sepiring nasi dengan satu-dua macam gulai dan sambal.

Namun, dalam kenyataannya, di luar waktu makan yang rutin itu, perut lebih sering lagi dibombardir oleh berbagai macam camilan dan jenis makanan lainnya. Apalagi di zaman sekarang, ketika gaya hidup modern membuat orang lebih sering duduk sambil tak henti memencet-mencet dua-tiga gadget di tangan atau menonton televisi, perut pun tak henti-hentinya diisi dengan berbagai macam camilan dan minuman, sajak dari kerupuk balado sampai popcorn, sejak dari  teh telur sampai Mecca Cola

Pendek kata, usus besar dan usus kecil dalam perut manusia tak pernah diberi kesempatan beristirahat. Bagi Anda yang sudah berkeluarga, sesekali kosongkanlah pikiran Anda dari pengaruh dunia maya, lalu tempelkan telinga Anda di perut pasangan Anda, di tengah malam menjelang dinihari. Maka Anda akan mendengar bunyi berisik ‘mesin giling’ yang tak henti mengeluarkan bunyi kriak-kriuk.

 Barangkali itulah hikmat puasa di kalangan umat Islam di mana selama sebulan nafsu mengisi perut sedikit dihambat. Puasa jelas mengurangi beban berat perut yang mengalami rodi selama hidup manusia. Hakikatnya, sebagaimana disebutkan oleh agama Muhammad S.A.W. itu, adalah ‘melawan nafsu’. Namun hal itu juga mungkin dimaksudkan agar usus manusia yang bagai mesin giling dan tak pernah berhenti bekerja itu dapat lebih rileks sedikit.

Banyak orang berjuang mengecilkan perut mereka. Untuk itu berbagai macam cara dan ikhtiar ditempuh: berolah raga, minum obat pelangsing, diet, dan bahkan memuntahkan apa yang sudah dimakan. Banyak yang gagal, sedikit yang berhasil. Entah berapa uang yang dihabiskan untuk memelihara bentuk perut supaya tetap langsing dan terlihat aduhai. Pusat kebugaran dan indoor sport yang tumbuh di kota-kota diserbu oleh lelaki dan perempuan yang ingin tetap tampil prima, terutama pada area perut.

Kaum hawa jelas makhluk yang paling pusing menghadapi pembuncitan dan penggelambiran perut ini. Bila bagian tubuh yang lain dipaksa tetap menggelembung (dengan menyumbatkan silikon ke dalamnya) sambil sia-sia melawan penuaan, perut justru ingin dikempiskan. Maka dunia medis dan kecantikan pun mencoba mencari keuntungan. Banyak yang melakukan operasi sedot lemak yang bermastautin di perut, dan berbagai upaya lainnya. Akan tetapi perut-perut yang sudah terlanjur mengembung dan menggelambir itu memberikan perlawanan: tak mau dikempiskan.

Tapi marilah kita memikirkan hal yang lebih jauh di balik wujud fisik perut manusia. Bayangkanlah jika perut manusia selama bertahun-tahun diisi dengan makanan yang diperoleh dengan cara tak halal. Katakanlah seorang koruptor atau pencuri, yang mengisi perutnya dan perut anak-istrinya dengan makanan yang dibeli dengan uang hasil korupsi atau hasil curian. Berhari-hari, berbulan-bulan, dan bertahun-tahun perutnya dan perut anak-istrinya diisi dengan ‘makanan kotor’. Dan sebagaimana telah sama kita ketahui, makanan itu diproses oleh usus besar dan usus kecil di perut, lalu menjadi darah daging. Manusia apakah yang akan hadir dengan darah daging yang berasal dari ‘makanan kotor’ itu? Betapa hinanya seorang kepala keluarga yang menghidup anak-istrinya dengan uang haram.

Perut pulalah yang mempengaruhi tabiat manusia. Pujangga Melayu Raja Ali Haji telah mengingatkan ini dalam salah satu bait Gurindam Dua Belas ciptaan beliau, sebagaimana telah dikutip di atas: “Apabila perut terlalu penuh, keluarlah fiil yang tiada senonoh’. Budayawan Kepri Abdul Malik menjelaskan lebih jauh makna di balik bait ini: bahwa ‘manusia tak boleh mengutamakan hidup ini hanya untuk makan sahaja. Kalau orientasi hidup hanya untuk makan [saja], manusia jadi lupa akan tugas dan tanggung jawab utamanya kepada Allah s.w.t. yaitu untuk mengabdi kepada-Nya dengan mengharapkan rida-Nya. Manusia yang hanya berorientasi makan menjadi orang yang pemalas dan banyak tidur hingga lalai untuk melaksanakan tugas-tugasnya sehari-hari. Malas merupakan fiil, perangai, atau perilaku yang tak senonoh, tak baik” (Batam Pos lembaran ‘Jembia’, Minggu, 1 November 2015). Sememangnyalah, apabila manusia hanya mengutamakan hidup untuk makan saja, apalah bedanya makhluk Allah yang mulia ini dengan binatang?

Di ujung malam  hamba elus perut hamba sendiri, perut istri hamba, dan perut anak-anak hamba sambil berefleksi: apakah yang sudah diisikan oleh orang tua hamba dan hamba sendiri ke dalam perut-perut orang terkasih itu? Nanti di dunia baka pasti semua itu harus dipertanggujawabkan di hadapanNya.

Suryadi – Leiden, Belanda

  • Esai ini diterbitkan di harian Batam Pos (lembaran ‘Jembia’), Minggu, 22 November 2015


TAGS   Renung / Suryadi Sunuri / suryadi leiden /


Comment

Author

Recent Post

Recent Comments

Archive