Suryadi

Melawan Amnesia Sejarah : [Menggugat Patung] Jenderal Van Heutsz

28 Nov 2015 - 16:18 WIB

[MENGGUGAT PATUNG] JENDERAL VAN HEUTSZ [DI JAKARTA]

Kami telah menerima manifest dari P.P.P.I. yang berbunyi sebagai berikut:

Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia mengadakan rapat anggota pada hari Jumat tanggal 12 Agustus 1932 di Gedong Indonesia di Kramat 106 di kota Jakarta:

Setelah mendengarkan pembicaraan-pembicaraan tentang soal pendirian patung van Heutsz yang dianjurkan oleh van Heutsz komite, dan akan dilantik di muka [orang] ramai pada tanggal 23 Agustus 1932:

Lalu rapat mengeluarkan pikiran dan memutuskan:

pertama: bawa riwayat Jenderal van Heutsz adalah berarti suatu kesengsaraan [bagi] rakyat Indonesia sebagai bangsa yang terjajah dan nama van Heutzs adalah bergantung [terkait] dengan kehilangan kemerdekaan beberapa daerah di tanah tumpah darah Indonesia [yang] menjadi korban imperialisme;

kedua    : bahwa politik yang dijalankan oleh van Heutsz mengandung memperkuat persatuan Hindia Belanda yang selalu bertentangan dengan persatuan Indonesia;

ketiga   : bahwa mendirikan peringatan untuk Jenderal van Heutsz di dalam masa seluruh rakyat Indonesia menyusun kekuatannya untuk memerdekakan tanah air dan bangsanya, berarti dengan sengaja mendalamkan luka hati rakyat Indonesia yang telah beratus-ratus tahun dideritanya.

Kemudian Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia mengundang segala perkumpulan yang duduk di luar atau di dalam P.P.P.K.I., serta segala pers nasional, supaya memperingatkan kepada segala lapisan rakyat Indonesia, bahwa pelantik[an] [peresmian] patung van Heutsz itu adalah suatu undangan kepadanya supaya memperkuat persatuan Indonesian untuk mencapai Indonesia merdeka.

Pengurus P.P.P.I.

 

Begitulah bunyi manifest P.P.P.I.

Siapakah Jenderal van Heutsz itu? Jenderal van Heutsz adalah salah seorang jenderal yang bertangan besi semasa perang Aceh, dan yang kemudian, juga dengan tangan besi, menjadi Gubernur Jenderal antara tahun 1904 dan tahun 1909.

Memang sepantasnya bangsa kolonial Belanda menghormat-hormati kepadanya, mengagung-agungkan kepadanya, mengeramatkan kepadanya, sehingga didirikanlah baginya suatu patung besar di Jakarta, yang nanti tanggal 23 [Agustus 1932] ini akan “dinobatkan” dengan cara besar-besaran.

Sebab di bawah kejenderalan Van Heutszlah negeri Aceh bisa praktis ditundukkan, di bawah kejenderalan Van Heutszlah banyak uleebalang-uleebalang Aceh menandatangani surat penaklukan yang dinamakan “Korte verklaring”, di bawah kejenderalan Van Heutszlah pulau-pulau Nusantara kita yang masih merdeka diturunkan di bawah kibarannya bendera tiga warna. Aceh, Jambi, Kerinci, Selebes Selatan, Bali, Sumbawa, Sumba, Flores, Timor, Seram, ….semuanya negeri-negeri ini adalah merasakan tangannya Van Heutsz. Korte verklaring ditandatangani orang dimana-mana, – korte verklaring ini sesudahnya di Aceh menjadilah contoh surat penaklukan bagi raja-raja atau sultan-sultan di pulau-pulau lain. Oleh usahanya Van Heutszlah Hindia Belanda bisa “afgerond”, dibulatkan,– yakni: oleh usahanya Van Heutszlah maka negeri yang belum takluk bisa {2} ditaklukkan. Van Heutszlah penyebar persatuan Hindia Belanda, Van Heutszlah yang mendatangkan “orde en rust” alias “tertib dan tentram” dimana-mana, – “tertib dan tentram” buat Hindia Belanda, “tertib dan tentram” buat usaha Belanda, “tertib dan tentram” buat kolonialisme Belanda.

Oleh karena itulah sudah sepantasnya kaum Belanda kolonial mengeramatkan Van Heutsz itu!

Van Heutsz penyebar persatuan Hindia Belanda! Tetapi apakah yang tumbuh daripada benih-benih persatuan Hindia Belanda yang ia tebar-tebarkan itu? Ya, lahirnya memang tercapailah persatuan itu, lahirnya memang [ter]laksanalah “staatsafronding” itu, lahirnya memang tumbuhlah pohon-pohon persatuan Hindia Belanda daripada benih yang ia tanamkan itu. Tetapi di dalam hakekatnya rasa keinginan merdeka menjadi tumbuh pula dimana-mana. Di dalam hakekatnya Van Heutsz adalah ikut menjadi penanam rasa keinginan merdeka itu.

Memang sudah menjadi wetnya riwayat dan wetnya alam bahwa tiap-tiap negeri, tiap-tiap bangsa, tiap-tiap umat, yang dihilangkan kemerdekaannya, menjadi menyala di dalam kalbu-hatinya rasa keinginan merdeka. Apalagi kalau sesudahnya kehilangan kemerdekaannya itu, nasib[nya] menjadi makin jelek! Bukan rahasia lagilah buat dunia umum bahwa sesudahnya Aceh, sesudahnya Jambi, sesudahnya Kerinci dan lain-lain daerah ditaklukkan, kaum kapital masuk di situ!

Kaum kapital, – yang selamanya perlu akan “orde en rust”, “tertib dan damai”!

Rakyat Indonesian janganlah terlampau-lampau sekali merasa luka hati oleh penobatan patung Van Heutsz itu! Janganlah terlampau-lampau sekali merewes perbuatan kaum Belanda kolonial yang memang sudah sepantasnya itu. Hanya tanamlah hal itu dalam-dalam di dalam kita punya hati. Tanamlah dalam-dalam di dalam kita punya semangat, bahwa kita adalah bangsa yang terjajah, dan bahwa dus kita ingin merdeka.

Benih persatuan Hindia Belanda yang ditebar-tebarkan oleh Van Heutsz itu,– dari benih itu sejak beberapa tahun sudahlah tumbuh tanaman-tanaman Persatuan Indonesia. Suburkanlah tanam-tanaman ini, perkokohkan dan perteguhkanlah Persatuan Indonesia itu!

Dan terutama kamu, kaum Marhaen, rapatkanlah barisan kamu, rapatkan persaudaraan kamu,– sebagai[mana] Bung Karno berkata: rapat di dalam perjuangan biasa, lebih rapat jikalau musuh mengamuk.

Persatuan Indonesia, Persatuan Marhaen, buat Indonesia Merdeka,– itulah jawab kita! {3}

* Sumber: Fikiran Ra’jat: Madjalah-politik popoelér Nomor  8, 19 Agoestoes 1932: 2-3.  Ejaan disesuaikan; angka dalam tanda { } merujuk pada halaman asli majalahnhya; bagian kalimat dalam tanda [ ] merupakan tambahan dari penyalin; foto ilustrasi merupakan tambahan dari penyalin yang diambil dari: https://www.google.nl/search?q=van+Heutsz+ statue+in+Batavia).

Penyalin: Dr. Suryadi, Leiden University, Belanda 


TAGS   Melawan Amnesia Sejarah / Jenderal Van Heutsz / Suryadi Sunuri /


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive