Suryadi

Minang Saisuak #241 - Jirat Syekh Mungka

1 Dec 2015 - 14:44 WIB

Di Minangkabau, makam ulama-ulama terkemuka atau orang kaya-kaya kadang-kadang ditempatkan dalam sebuah bangunan yang sengaja dibuat untuk melindungi makam itu. Makam seperti itu disebut jiraik (sering di-Melayutinggikan menjadi jirat). Biasanya dalam jirat dimakamkan pula ulama-ulama lain yang masih termasuk trah murid oleh ulama terkemuka itu, atau, dalam kasus orang kaya-kaya, anggota keluarga atau keturunannya.

Rubrik Minang saisuak kali ini menurunkan sebuah foto klasik yang mengabadikan secara visual jiraik Syekh Mungka. Beliau adalah seorang ulama terkemuka yang pernah dimiliki Minangkabau pada awal akhir abad ke-19 dan awal abad-20.

Al-Faqir Apria Putra dalam blognya http://surautuo.blogspot.nl/2011/12/al-marhum-syekh-muhammad-saad-al.html menulis bahwa nama lengkap ulama yang foto makam-/jiraik-nya kami perlihatkan di sini adalah Syekh Muhammad Sa’ad al-Khalidi Mungka Tuo yang lebih dikenal dengan panggilan Syekh Mungka.

Menurut Apria pula, beliau dilahirkan di Koto Tuo, Mungka, Payakumbuh, pada tahun 1857 dari suku Kutianyia (Pitopang).  Ketika muda, beliau berguru kepada Syekh Abu Bakar Tabing Pulai (w.1889), Syekh Muhammad Jamil Tungkar (w.1890) dan Syekh Muhammad Saleh Padang Kandih (w.1912). Kemudian beliau memperluas pengetahuannya tentang agama Islam ke Mekah. Di Tanah Suci itu, beliau berguru kepada beberapa ulama terkemuka, seperti Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, Syekh Muhammad Hasbullah al-Makki dan Syekh Ahmad bin Zainuddin al-Fatani. Beliau juga dikabarkan pernah berguru kepada Mufri al-‘Allamah as-Zawawi, guru Sayyid Uthman Betawi. Di Tanah Suci, beliau juga bertemu dengan ulama-ulama terkemuka seperti Syekh Abdul Karim Banten (Tarikat Qadariyah wa Naqsyabandiyah), Syekh Abdul ‘Azim Maduri (Tarikat Naqsyabadiyah Muzhariyah) dan Syekh Abdul Qadir al-Fatani (Tarikat Syathariyah).

Kembali ke kampung halamannya, Syekh Mungka mendirikan sebuah surau bertingkat dua. Surau itu menjadi terkemuka dan menarik banyak orang-orang siak dari berbagai pelosok  Minangkabau, juga dari luar Minangkabau, untuk datang mengaji/menuntut ilmu agama. Pada akhir abad ke-19 beberapa pusat pendidikan Islam berkembang di darek, yang umumnya didirikan oleh ulama-ulama terkemuka yang pulang dari Mekah, salah satunya adalah Surau Syekh Mungka ini. Tentang fenomena ini, lihat misalnya catatan C. Snouck Hurgronje, “Een en ander inlandsch onderwijs in de Padangsche bovenlanden”, dalam prosiding Bijdragen tot de Taal,- Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië, ter gelegenheid van het Zesde Internationale Congres der Orientalisten te Leiden (Land en Volkenkunde).’s-Gravenhage: Martinus Nijhoff, 1883: 57-84.

Syekh Mungka wafat tahun 1922. Murid-murid hasil didikannya banyak yang menjadi orang hebat di lapangan keagamaan dan pergerakan di akhir aman kolonial dan awal kemerdekaan. Semasa hidupnya, Syekh Mungka juga bernah perang pena dengan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi soal tarekat Naqsyabadiyah. Lebih jauh tentang hal ini, silau-lah blog Al-Faqir Apria Putra yang disebutkan di atas.

Foto ini dibuat sekitar 1924, jadi belum lama setelah Syekh Mungka wafat. Rupanya setelah wafat, jirat ini segera dibuatkan warga dan anak murid beliau untuk beliau, tan cinta dan kasih sayang mereka kepada ulama/guru yang mereka hormati. Apria Putra, pengasuh FB-Surau Minangkabau yang tinggal di Mungka mengatakan bahwa sampai sekarang jirat Syekh Mungka ini masih ada. Sebagai bangunan bersejarah dan makam seorang ulama besar, jirat ini tentu perlu dilestarikan.

Suryadi - Leiden, Belanda | Singgalang, Minggu, 1 November 2015 (Sumber foto: Pandji Poestaka, No. 9, Tahoen II, 28 Februari 1924:170). 


TAGS   Minang Saisuak / Suryadi Sunuri / suryadi leiden / minangkabau / Syekh Mungka / Tarikat Qadariyah / Naqsyabandiyah / Syathariyah /


Comment

Author

Recent Post

Recent Comments

Archive