Suryadi

Minang Saisuak #242 - Rumah Bola “Medan Pedamaian Minangkabau”

10 Dec 2015 - 19:14 WIB

Rumah Bola “Medan Pedamaian Minangkabau” di Fort van der Capellen (Butusangkar), c.1903

Dalam keterangan foto ini, di bagian atas, tertulis: “Inl[andsch] societeit te Fort v[an] d[er] Capellen (Westkust v[an] Sumatra). Di bagian bawah ada catatan dalam Bahasa Melayu: “Rumah-bola Medan Perdamaian Minangkabau di Batoe Sangkar, Padang Darat”.  

Foto ini dibuat sekitar tahun 1903 dan dimuat dalam berkala Bintang Hindia yang terbit di Amsterdam (lihat keterangan tentang sumber foto). Foto ini adalah salah satu dokumentasi yang langka mengenai Rumah Bola (Societeit) ‘Medan Pedamaian Minangkabau’ yang terdapat di Batusangkar. Pada masa itu, muncul beberapa paguyuban pribumi yang diusahakan oleh intelektual Minangkabau yang mengambil nama “medan Perdamaian”. Anggotanya mengadakan berbagai kegiatan, seperti berdiskusi dan membaca koran/majalah bersama, mengadakan pertunjukan teater, dan lain-lain.

Kita ingat misalnya perkumpulan “Medan Perdamaian” pimpinan Ibrahim gelar Marah Soetan yang didirikan tahun 1902 di Padang, yang juga memajukan seni sastra dan tonil. Di Pariaman juga ada kelompok seperti ini yang berdiri atas anjuran Mahjoeddin Datoek Soetan Maharadja di akhir abad 19. Di Batavia pernah pula ada ‘Vereeniging Medan Perdamaian Anak Soematera” yang sering mengadakan pertunjukan tonil (lihat: De Indische Telegraf, 22 dan 23 March 1926).

Menarik untuk memahami lebih jauh makna istilah ‘medan perdamaian’ ini. Istilah tersebut tampaknya mengandung makna ‘kerjasama’ dan ‘berkumpul-kumpul’ yang anggotanya adalah kaum intelek atau orang-orang yang berafiliasi dengan birokrasi pemerintah. Jadi, ‘medan pedamaian’ adalah semacam pagauyuban pribumi yang sampai batas tertentu mengandung nuansa modernitas.

Pada zaman kolonial, societeit (rumah bola) asosiatif dengan tempat berkumpul para petinggi kulit putih sebagai bagian dari ruling class. Kadang-kadang ada satu-dua anggotanya yang berasal dari kalangan pribumi intelek atau pengusaha Cina. Namun, societeit seperti ‘Medan Perdamaian Minangkabau’ adalah milik orang Minang. Paguyuban seperti ini dapat muncul di Sumatra’s Westkust karena orang Minangkabau sudah biasa dengan tradisi musyawarah dan mufakat.

Dalam foto ini kelihatan datuk-datuk bersaluk tinggi dan berbaju resmi tuanku laras/demang/djaksa (yang menunjukkan afiliasi mereka dengan birokrasi Binnenlands Bestuur Pemerintah Kolonial Belanda) berkumpul di depan Rumah Bola ‘Medan Perdamaian Minangkabau’ di Batusangkar ini. Tampak pula dua orang putih; tentunya mereka adalah petinggi kolonial di Fort van der Capellen pada waktu itu.Yang berdiri di tengah (berpantalon putih) mungkin tuan controleur setempat. Disebutkan bahwa foto ini adalah kiriman Tuan P.J.T. de Nijs, mungkin orangnya yang berpantalon putih itu.

Karena keterangan di bagian bawah foto ini memakai kata “Batoe Sangkar”, maka setidaknya ini member petunjuk bahwa pada awal abad 20 nama “Batu Sangkar”, sebagaimana dikenal sekarang, sudah biasa dipakai oleh masyarakat Minangkabau. Ini mengingatkan saya pada pertanyaan Marwan, S.E., Kepada Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Tanah Datar, tentang kapan persisnya nama ‘Batusangkar [dulu ditulis ‘Batu Sangkar’] mulai dipakai. Hanya indikasi seperti dikatakan di ataslah yang baru dapat saya kemukakan: bahwa awal abad 20 nama ‘Batusangkar’ tampaknya sudah biasa dipakai.

Marwan bertemu dengan saya di Leiden, Belanda, tgl. 28 Oktober 2015. Beliau bercerita bahwa kunjungannya ke Negeri Belanda adalah dalam rangka mencari data sejarah tentang Kabupaten Tanah Datar. Ikut pula dalam ‘ekspedisi’ ke ‘Tanah Dingin’ itu Sekretaris Daerah Kabupaten Tanah Datar, Drs. H. Hardiman, dan Yendra Aprilla dari Dina Perhubungan Komunikasi & Informasi Kabupaten Tanah Datar. Entahlah, apakah data-data yang mereka cari berhasil mereka dapatkan dalam kunjungan yang lamanya hanya lebih kurang seminggu itu. Ada jutaan surat/arsip/catatan harian/surat kabar/majalah/sketsa/foto/ peta/buku, dll., yang harus diurah. Itu baru di Perpustakaan Universitas Leiden saja, belum lagi di institusi-institusi lainnya di Belanda.

Dalam bincang-bicang sambil minum kopi dengan ketiga petinggi Kabupaten Tanah Datar itu di sebuah kafe di Centraal Sation Leiden, dalam hembusan angin dingin musim gugur, diceritakan bahwa Kabupaten Tanah Datar berencana akan membangun museum yang bagus di bekas Benteng Fort van der Capellen. Semoga rencana itu jadi kenyataan, lengkap dengan isinya.

Tentu saja bangunan-bangunan bersejarah lainnya di Tanah Datar, khususnya kota Batusangkar, perlu pula dipertahankan, seperti gedung Rumah Bola ‘Medan Perdamaian Minangkabau’ ini. Tapi kurang jelas bagi saya, apakah masih ada bekas gedung rumah bola ini sekarang atau sama sekali sudah punah rarah dimakan orang atau zaman.(Sumber foto: Bintang Hindia No. 12, Tahoen jang pertama, 15 “Juni” 1903:135).

Suryadi - Leiden, Belanda | Singgalang, Minggu, 8 November 2015


TAGS   Minang Saisuak / Suryadi Sunuri / minangkabau / Fort van de Capellen / Batusangkar /


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive