Suryadi

Renung #56 | Dekker, akhirat, koruptor

10 Dec 2015 - 19:02 WIB

Mungkin banyak orang mengira bahwa Barat tak begitu peduli pada kepercayaan tentang adanya hidup sesudah mati. Sejak munculnya Zaman Pencerahan,‘Tanah Dingin’ Eropa itu makin hari semakin dipenuhi oleh para ateis dan mereka yang cenderung bersicepat untuk menikmati hidup yang singkat di dunia ini. Filsafat hidup mereka didominasi oleh pandangan: selama nyawa masih di badan, bekerja keraslah dan nikmati hasil kerja keras Anda itu sebelum Anda mati menjadi tanah. Sebab setelah kematian, tak ada apa-apa lagi.

Itulah prinsip hidup yang memunculkan filsafat eksistensialisme dan materialisme, yang di ujungnya melahirkan anak haram kapitalisme. Gelora semangat duniawi itulah yang membuat orang Eropa tahan berlayar berbulan-bulan menuju sudut dunia manapun (sebagian mati di jalan), menggarap isinya, dan mengambil segala yang ada tanpa rasa puas, persis seperti orang haus diberi minuman air laut.

Kini kapitalisme itu sudah mengglobal, merasuk ke dalam hati dan pikiran banyak manusia, tidak terkecuali di negeri ini. Semangat menumpuk harta (dan kuasa) makin menjadi tujuan hidup banyak orang. Sikap hidup asketis dan sifat kesederhanaan makin jauh dari masyarakat kita. Sebaliknya, gaya hidup boros, berfoya-foya, dan pamer kekayaan sudah menjadi trend di mana-mana. Lihatlah gaya perempuan dan laki-laki yang kita lihat sehari-hari di ruang publik. Berbagai perlengkapan dan asesoris yang melilit tubuh menunjukkan orientasi materialisme yang makin nyata.

Kemanakah masyarakat kita akan (atau telah) dibawa oleh budaya materialisme yang makin menggila ini? Makin nyata terlihat bahwa perasaan tak puas akan harta makin menebal dalam segala lapisan masyarakat. Langsung atau tidak, keadaan ini mempengaruhi kehidupan berbangsa dan bernegara. Aksi sikut-sikutan menjadi pemandangan biasa dalam masyarakat. Masing-masing orang makin cenderung mementingkan diri dan kelompok sendiri. Rasa kebersamaan sebagai sebuah nation-state makin menipis dan menuju titik nadir.

Ketika materialisme menebal,rasa keagamaan menipis, dan orang cenderung menggunakan agama sebagai kamuflase belaka. Dalam konteks ini bisa dipahami mengapa para politisi kita yang disumpah menjunjung al-Quran atau al-Kitab itu tak puas-puasnya mengorupsi uang rakyat. Malah, makin diingatkan akan hukuman dunia (penjara) yang mungkin akan mereka hadapi, makin tak peduli mereka, malah makin kuat nafsu mereka untuk melakukan penyelewengan terhadap keuangan negara. Hidup mereka dibelit oleh kemewahan yang makin dinikmati justru makin menimbulkan rasa tak puas.

Dengan gaya hidup seperti itu, Tuhan makin lama makin ditinggalkan di belakang. Glamour hidup yang penuh materi dan simbol-simbol kemodernan itu makin tak memberi ruang untuk berefleksi tentang hidup sesudah mati. Alih-alih yang makin mendominasi diri manusia adalah nafsu untuk menumpuk harta dan kekayaan. Dan bagi mereka yang memegang tampuk kekuasaan, prinsip aji mumpung pun digunakan: selagi berkuasa, gunakan kesempatan untuk menumpuk kekayaan, dengan cara apa saja.

Dalam konteks inilah, kiranya pidato seorang birokrat Belanda, yang dianggap menyimpang (deviant) di masanya,  penting untuk diperkenalkan kembali. Ia adalah Eduard Douwes Dekker alias Multatuli (1820-1887), yang menentang Pemerintah Kolonial Belanda, fellow citizen-nya sendiri, karena tidak setuju dengan praktek penjajahan oleh bangsanya sendiri yang memiskinkan, melacurkan kemanusiaan, dan mengekang hak-hak kaum pribumi, pemilik tanah Indonesia sendiri. Kita sudah sama mengetahui bahwa penentangan si penulis novel Max Havelaar  yang fenomenal ini telah membuat ia dipecat dari jabatannya dari birokrasi Hindia Belanda, lalu dipulangkan ke Eropa dan hidup di sana dalam keadaan serba berkekurangan di Jerman karena dipinggirkan oleh pemerintah Belanda (bangsanya sendiri) yang mendukung kolonialisme – penghisapan manusia atas manusia lainnya.

Pada 1855, ketika dilantik menjadi Asisten Residen di Lebak, Banten, Douwes Dekker mengingatkan para pemimpin lokal yang berada di bawah pemerintahannya tentang sumpah-janji mereka kepada Tuhan: bahwa seorang pemimpin jangan menyengsarakan rakyatnya; bahwa seorang pemimpin harus berusaha menyejahterakan masyarakatnya dan menciptakan keadilan.

Di akhir pidatonya di depan para menak dan kaum bangsawan di daerah Banten, Douwes Dekker berkata tentang balasan yang akan diterima seorang pemimpin setelah mati:

Dengarkan saya berkata bagaimana nanti terjadinya keadilan.

Suatu ketika akan datang yaitu masa perempuan-perempuan dan anak-anak kita akan bertangisan tatkala menyediakan kain kafan kita dan orang lalu akan berkata: ‘di sini ada orang mati.’ Dan siapa yang telah sampai ke dalam kampung niscaya akan membawa kabar matinya orang itu, dan barang siapa yang mempermalamkannya akan bertanya: ‘siapakah laki-laki yang mati itu (dahulunya)?’ Dan orang akan berkata:

Dia seorang yang baik dan adil. Hukumannya adil dan tiada diusirnya orang mengadu dari rumahnya. Didengarnya dengan sabar pengaduan orang yang datang kepadanya dan dikembalikannya apa nan hilang. Dan barang siapa yang tiada bisa merangkuhkan bajaknya ke tanah, sebab kerbaunya diambil orang dari dalam kandangnya, maka ia menolong mencarikan kerbau itu. Dan kalau ada anak gadis hilang dari rumah ibunya, maka dicarinya si pencuri itu dan dipulangkannya anak itu. Dan jika orang sudah bekerja, maka tiadalah ditahannya gaji orang itu dan tiada diambilnya buah-buahan dari pada orang nan menanam pohonnya. Tiadalah dipakainya pakaian yang wajib dipakai orang lain; demikianlah jua tiada dimakannya makanan kepunyaan orang miskin.

            Dan orang nanti berkata di dalam kampung: Allah kaya, Allah mengambilnya. KehendakNya berlaku….adalah seorang orang baik mati.

            Tetapi lain kali berhentilah pula orang lalu di muka sebuah rumah dan bertanya, ‘bagaimanakah sekarang gamelan tidak berbunyi, dan nyanyi anak-anak perempuan? Dan sekali lagi orang akan berkata: ‘ada orang mati.’

Dan barang siapa yang berjalan dalam kampung-kampung dan pada malam hari duduk dekat orang yang memperbasakannya serta keliling anak laki-laki dan perempuan rumah itu, demikian jua anak kampung tadi, niscaya akan berkata: ‘Di sana mati seorang laki-laki yang berjanji adil perbuatannya, dan dia menjual keadilan itu kepada barang siapa nan memberinya uang. Sawah ladangnya dipupuknya dengan peluh orang lain nan dipanggilnya, sedang ia mengerjakan kerjanya. Gaji kuli itu ditahannya, dan dimakannya makanan si miskin tadi. Ia jadi kaya sebab kemelaratan orang lain. Emas dan peraknya banyak dan permatanya bertimbun-timbun, tetapi orang peladang yang tinggal berdekatan tiadalah tahu menghilangkan lapar anaknya. Dia senyum seperti seorang yang berbahagia, akan tetapi kedengaran jua oleh kita geretak gigi orang yang mengadu, yang mencari keadilan. Air mukanya jernih, tapi haram tak ada setitik air susu pada susu perempuan-perempuan yang menyusukan anaknya.

            Kemudian akan berkatalah isi kampung itu: ‘Allah kaya….tiadalah kita menyumpahi seseorang!’

            Kepala-kepala negeri Lebak, semuanya kita nanti mati! Apakah yang akan diperkatakan orang di dalam kampung tempat kita berkuasa dulunya? Dan apakah yang diperkatakan oleh orang lalu nan memandang kita berkubur?

            Apakah akan jawab kita, bila sesudah kita mati, satu suara berkata pada nyawa kita dan bertanya:

Apakah akan jawab kita, kalau sudah mati kita, itu suara datang berkata kepada nyawa kita, dan bertanya: ‘apakah sebabnya ada ratap tangis di sawah ladang dan apakah sebabnya anak muda-muda menyembunyikan dirinya? Siapakah yang telah mengambil hasil tanah dari dalam lumbung, dan mengambil kerbau, yang sedianya membajak sawah, dari dalam kandangnya? Apakah [yang] kamu perbuat dengan saudaramu, yang saya suruh jaga padamu itu? Apakah sebabnya yang miskin berduka cita dan menyumpahi kehamilan perempuannya?

            Selengkapnya “Pidato Paduka Tuan Douwes Dekker, Asisten Residen di Lebak (Bantam) kepada kepala-kepala negeri di sana”, yang bagian akhirnya dikutip di sini, dimuat dalam Indologenblad No. 1-3, Tahun ke-3, 1911 dan No. 4-9, Januari-Mei 1912.

            Douwes Dekker, orang putih yang terlahir dari alam Eropa pencipta kapitalisme dan penghisapan manusia atas manusia itu, mengingatkan kita akan ganjaran yang akan diberikan oleh Tuhan kepada seorang pemimpin di akhirat nanti. Ia tidak beragama Islam, tapi ia mengingatkan kita akan hidup sesudah mati. Adalah benar kata ahli hikmah bahwa kearifan bisa datang dari mana saja.

            Lebih kurang 160 tahun lalu seorang Douwes Dekker sudah mengingatkan para petinggi masyarakat di negeri ini yang suka korupsi, melakukan pemalakan, dan menyelewengkan kekuasaan. Di zaman sekarang sifat busuk para penguasa itu malah makin menjadi-jadi. Lalu apakah yang dapat kita simpulkan dari kekuasaan? Kekuasaan tiada lain adalah tahi yang tahan berbilang zaman, yang tersimpan dalam jas-jas, pantalon-pantalon licin, kopiah beludru, saluak, tanjak, dan blangkon.

Suryadi | Leiden, November 2015    

* Esai ini dimuat dalam lembaran “Jembia” harian Batam Pos, Minggu, 6 Desember 2015


TAGS   Dekker / Suryadi Sunuri / Minang Saisuak /


Comment

Author

Recent Post

Recent Comments

Archive