Suryadi

Minang Saisuak #243 - Oto ‘Minang Jaya’ tambangan Rao-Rao - Padang

16 Dec 2015 - 17:26 WIB

Foto ini berasal dari laman Facebook Fadli Anas, seorang perantau Minangkabau yang, sebagaimana banyak perantau Minang lainnya, selalu rindukan kampung halaman dan tepian tempat mandi. Foto ini sendiri tentu merefleksikan kerinduan itu dan, sampai batas tertentu, mungkin dapat mewakili perasaan banyak perantau Minangkabau yang lain. Nostalgia. Itulah mungkin kata yang paling tepat untuk menggambarkan derita dan rundu dendam perantau dan manusia diaspora pada umumnya, di rantau manapun mereka berada.

Mungkin banyak orang abai terhadap foto-foto seperti ini. Ini terjadi karena sejarah sudah begitu didominasi oleh narasi-narasi besar yang berkisah tentang orang-orang besar pula. Sering sekali topik yang dibahas adalah mengenai perang dan orang-orang yang telah menyulut terjadinya perang itu: orang-orang yang haus kuasa dan darah.

Marilah kita melihat foto ini sambil berbisik kepada diri sendiri: kisah-kisah kehidupan orang-orang biasa yang diabadikan oleh teknologi fotografi di pertengahan abad yang lalu. Banyak hal yang dapat kita ketahui dari berbagai foto yang tidak terkait dengan orang besar atau penguasa, seperti yang diabadikan oleh foto ini, sebagaimana dikatakan oleh Karen Strassler dalam bukunya Refracted Visions: Popular Photography and National Modernity in Java, Durham & London: Duke University Press, 2010.

Sekarang social history yang menyangkut orang biasa makin populer dalam kajian sejarah. Sebuah bangsa atau etnis tidak saja berubah karena senapan, granat, bom, dan roket. Sebuah bangsa, dalam konteks ini masyarakat umum, berubah juga karena teknologi sepeda, rekaman suara, mobil, telepon, gramofon, dan juga teknologi kamera. Foto ini adalah sebuah ilustrasi penting untuk melihat bagaimana modernitas melalui teknologi transportasi mengubah orang Minangkabau pada abad yang lalu.

Foto ini mengabadikan oto bus Minang Jaya yang melayani trayek Raao-Ra – Padang. Tidak disebutkan tarikhnya, tapi mungkin pada awal 1970-an. Bagi orang tua-tua dari Rao-Rao yang lahir di Zaman Bagolak, tentu masih ingat dengan oto bus ini.

Beberapa orang menanggapi postingan Fadli Anas ini. Si Dun Pirolin Rao Rao, misalnya, menulis: “MINANG JAYA 4, supir utamonyo Mak SUTAN kontrolenyo Tuan Pokiah, ayah si Nofembri Anis, menambang ka Padang kecuali hari Komih. Iko otonyo CHEVROLET C50 tahun 1968, tapi mulai operasional tahun 1969, rumah-rumah/karoserinyo dibuek di MEDAN, kami dulu manyobuk BAK MEDAN. Ambo kadok basigantuang jo oto go pagi-pagi poi sikolah di ST Negeri Pasia Lowe (kini SMP). Tarimokasih banyak ka nan lah mampostingkan kodak go.” (diedit oleh Suryadi). “Stokarnyo mandiangko Komok”, tambah penanggap Erwin Rahman dan Sutan Rao. Ditambahkan lagi informasi oleh Sutan Rao bahwa “kontorole-nya Uwan Mulik [mungkin sama dengan Tuan Pokiah] (dalam foto kelihatan sedang bergelantung di pintu oto) dan sopirnya “Datuak Salimpauang nan tagak surang [di sisi kanan oto].” Siapakah anak kecil berkain sarung di latar depan? Mungkin kini dia sudah jadi orang. Pembaca asal Rao-Rao tentu dapat pula mengingat di mana foto ini dibuat.

Dalam sebuah nomor rubrik ini saya sudah pernah menggugah para sejarawan kita untuk menulis buku Minangkabau modernity dengan pendekatan sejarah sosial. Sebuah buku yang baru-baru ini rerbit dengan latar belakang Sri Lanka - Metallic Modern: Everyday Machines in Colonial Sri Lanka. New York - Oxford: Berghahn Books, 2014, oleh Nira Wickramasinghe - mungkin dapat menjadi inspirasi bagi para sarjana sejarah kita di negeri ini. Dengan demikian kita dapat melihat Minangkabau dari perspektif lain, yang selama ini cenderung dilihat dari ujung bedil Belanda, laras karaben tantara pusek, dan tusukan bayonet OPR di zaman PKI ‘65.

Suryadi - Leiden, Belanda | Singgalang, Minggu, 29 November 2015

(Sumber foto: https://www.facebook.com/fadly.arosa).


TAGS   minangkabau / Minang Saisuak / Suryadi Sunuri /


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive