Suryadi

Melawan Amnesia Sejarah : Almarhum Syekh Djamil Djambek

24 Dec 2015 - 10:09 WIB

Pada petang 30, malam 31 Desember 1947, berpindahlah ia dari dunia ini ke alam baka dalam usi 86 tahun, di Bukittinggi. Syekh Muhammad Djamil Djambek, nenek Guru-Guru, penyiar Islam yang giat, penyebar ilmu agama Islam, yang mempunyai daerah rantau yang luas, anggota Dewan Penasehat Agung Republik Indonesia.

Pada masa remajanya, Teruna Djamil bukanlah pemuda yang tekun belajar. Ia seorang pemuda yang gemar bertualang, jadi tualang kelana yang melampau-lampau.

Orang tuanya yang taat beragama bersilau-mata memandang tingkah laku anaknya itu.

Sesudah ia akil-baligh, barulah ia mulai belajar membaca Quran di Pariaman dan di Padang Panjang.

Pada suatu ketika, yakni pada masa peralihan abad ke-19 dengan abad ke-20, ia mendengar orang tuanya hendak pergi ke Mekah. Alangkah terkejut orang tuanya itu demi mendengar permohonan anaknya supaya diperkenankan ikut ke Tanah Suci.

Permintaan itu dikabulkan, tetapi dengan suatu perjanjian: jika sudah sampai di Mekah, Djamil tidak boleh ikut pulang. Ia mesti tinggal beberapa tahun di Tanah Suci untuk belajar, sampai ia telah sanggup dilepas ke tengah gelanggang.

Oleh karena menyanggupi perjanjian inilah, ia diperkenankan mengiringkan ayahnya pergi naik haji.

Selama ia di Mekah, ia sungguh-sungguh menepati perjanjian itu. Salah seorang di antara gurunya ialah Syekh Achmad Chatib yang ternama.

Penghidupannya di Mekah penuh oleh kesengsaraan, kemelaratan dan kesempitan hidup, karena ia tidak mendapat belanja dari kampungnya, sebab ayahnya meninggal dunia dalam perjalanan pulang [dari Mekah]. Dalam lautan perjuangan yang pahit ini, ia meneruskan pelajarannya, sehingga ia dapat mencapai martabat guru.

Ketika ia pulang ke Sumatera Barat 10 tahun kemudian, ia mendapat perguruan-perguruan agama di tanah airnya tidak begitu teratur. Faham-faham yang menyesatkan banyak yang tersiar, dan menjadi amalan orang. {109}

Akan memperbaiki keadaan yang buruk inilah, yang jadi permulaan perjuangannya. Ia bekerjasama dengan marhum Hadji Abdullah Karim Amrullah.

Haji Abdullah Ahmad adalah tukang bicara, menyerbu ke kalangan kaum terpelajar, Haji Abdullah Karim Amrullah, ialah si penggiat ke mana-mana, menyerbu ke kalangan rakyat ramai dan menggenggam pemuda dalam tangannya. Syekh Djamil Djambek adalah otak dari pada sekalian gelora gerakan ini.

Pada mula tiga sekawan ini melancarkan gerakannya, golongan yang bertekun kepada cara-cara lama menganggap mereka itu kaum sesat, karena mengadakan pidato-pidato untuk siaran agama bertempat di tanah lapang pasar malam dan di dalam gedung-gedung komidi gambar [bioskop]. Mereka dimusuhi karena mereka hendak menyapu bersih fatwa-fatwa yang menyesatkan, membuka mata khalayak ramai, memberi ilmu kepada rakyat, supaya mempunyai dasar yang teguh dalam beragama, supaya tidak menjadi manusia yang ikut-ikutan saja, supaya mencapai tingkat kemajuan dalam segala lapangan.

Usaha ini bukan hanya terbatas pada bicara, bahkan dibuktikan dalam perbuatan. Mereka mengadakan siaran-siaran yang banyak,  seperti majalah Al Munir, majalah Al Ittifaq Wal Iftiraq, risalah-risalah bulanan, mendirikan percetakan dan mendirikan bibliotik kitab-kitab agama Islam. Di mana-mana didirikan perguruan agama, tersebarlah Perguruan Sumatera Thawalib sampai ke pelosok-pelosok, Sekolah Normal Al Islam di Padang, dan marhum Syekh M. Djamil Djambek sendiri mengadakan tempat pengajian, yang dikunjungi oleh murid-murid yang berdatangan dari seluruh Indonesia.

Risalah yang ditulis oleh orang besar yang baru berpisah dari kita itu, yang banyak mendapat perhatian, ialah risalah tentang Tariqat Naksabandi, dan tentang ilmu falak.  Tentang ilmu falak inilah ilmu beliau yang amat dikagumi orang, ilmu yang tidak ada mungkirnya, kata ahli yang menguji dan menuruti perjalanan beliau. Kitab yang paling besar, yang tak terhitung banyak hurufnya, tak terhitung banyak babnya, tak terhisab pula paedahnya. Yang akan tetap ini, yang menjadi hiasan dunia, yang tak dapat dituturkan dalam riwayat hidup selayang-tinjau ini, yang telah dilukis oleh marhum Syekh Djamil Djambek, iala kitab yang dilukis oleh beliau di dalam hati, dada dan kepala beribu-ribu muridnya yang tersebar di seluruh Indonesia dan Malaya.{110}

***

* Sumber: H. N. Arifin, “Almarhum Sjech Djamil Djambek”, Gema Suasana No. 2, Februari 1948: 109-110.  Ejaan disesuaikan; angka dalam tanda { } merujuk pada halaman asli majalahnya; kata-kata dalam tanda [ ] merupakan tambahan dari penyalin; nama orang dan instansi tetap ditulis menurut ejaan aslinya; foto ilustrasi berasal dari tks aslinya.

Penyalin: Dr. Suryadi, MA., Universiteit Leiden, Belanda 


TAGS   Melawan Amnesia Sejarah / Syekh Djamil Djambek / Suryadi /


Comment

Author

Recent Post

Recent Comments

Archive