Suryadi

Refleksi - Penyengat, perempuan, literasi

24 Dec 2015 - 08:36 WIB

Mungkin tak seluruh rahasia sebuah pulau kecil di zamrud khatulistiwa yang unik dan penting yang sudah berhasil diungkapkan orang. Pulau yang saya maksud adalah Penyengat. Di Pulau kecil ini pernah berdiri istana (pusat kekuasaan) sebuah kerajaan Melayu berdaulat di masa lampau, yang masih eksis sampai 1911, sebelum dihancurkan oleh orang putih: Kerajaan Riau-Lingga.

Dari logika kemiliteran, Pulau Penyengat yang kecil itu sama sekali tidak menguntungkan sebagai basis pertahanan. Pulau yang hanya berjarak sepenghisapan rokok (15 menit berkayuh sampan) dari Tanjung Pinang, ibukota Pulau Bintan, di mana penj[el]ajah Belanda pernah mendudukkan resident-nya, pastilah dapat digempur musuh dari segala arah dengan sangat mudah. Misalkan ada perang dengan orang-orang putih kasar pemburu rempah ratus asal Eropa itu, maka peluru-peluru meriam sebesar kelapa muda, yang ditembakkan dari kapal-kapal mereka dengan posisi jauh dari pantai pun dapat mencapai bubungan istana Sultan Riau Lingga yang berada di daratan Pulau Penyengat yang tak seberapa luas itu.

Tapi begitulah, sejarah telah mencatat bahwa di Penyengat, pulau kecil yang mungkin paling ajaib di Nusantara, berkembang tradisi literasi (keberaksaraan) yang telah menerangi dunia Melayu, yang belakangan menjadi perhatian banyak sarjana. Sudah sejak paroh kedua kurun ke-19 Von de Wall, Klinkert, Eysinga, Pijnappel, dan banyak sarjana Belanda lainnya mengagumi Pulau Penyengat. Dan sejak paroh edua abad ke-20 pula sampai sekarang, lusinan scholar, nasional dan global, telah mencoba merekonstruksi masa lampau Penyengat yang gemilang itu: Virginia Hooker, Barbara Watson Andaya, Jan van der Putten, Ding Choo Ming, Timothy P. Barnard, Abu Hasan Sham, dan Mulaika Hijjas– untuk sekedar menyebut beberapa nama saja. Ada ratusan publikasi ilmiah yang sudah dihasilkan tentang pulau kecil yang terselip di ceruk Bintan dan agak tercampak jauh di luar pantai daratan Sumatera itu. Akan tetapi masih terasa ada rahasia tentang Penyengat yang belum terungkapkan.

Pada pertengahan abad ke-19 penduduk Pulau Penyengat tak lebih dari 600 jiwa, termasuk famili bangsawan Bugis-Melayu dan 200 Cina Hokkien, kata Putten (2001:61) yang dalam disertasinya itu merekat kembali pernik-pernik kisah hidup, pemikiran, dan karya-karya Haji Ibrahim, salah seorang intelektual terkemuka dari Penyengat. Jumlah itu saja sudah terlalu sesak untuk pulau kecil yang hanya berukuran 2.000 x 850 meter itu. Orang Eropa yang pernah mengunjungi Penyengat  dan menulis laporan tentang lawatannya ke pulau itu, seperti J.T. Thomson (1847) dan G.F. de Bruyn Kops (1855), melihat perkampungan yang cukup padat yang ‘mengepung’ istana raja dan tempat tinggal para bangsawan di tengahnya, dengan kehidupan masyarakatnya yang sangat menonjolkan kesalehan beragama dalam pelukan Islam, hal yang juga sudah dilaporkan oleh Residen Belanda Angelbeek pada 1826.

Mungkin warga Penyengat khususnya dan orang Melayu pada umumnya harus berterima kasih kepada Raja Kecil, pecundang Istana Johor, keturunan Sultan Mahmud Syah, yang terpaksa menyingkir ke Siak dari Penyengat karena tak kuat menahan gempuran pasukan Tuanku Sulaiman yang dibantu oleh empat daeng asal Bugis itu. Pulau Penyengat – dinamakan demikian mungkin karena di pulau itu banyak penyengat (sejenis tawon kecil berpinggang ramping) –telah menjadi basis pertahanan pertama Raja Kecil ketika melarikan diri dari Johor, yang kemudian berhasil diduduki oleh Sultan Ismail dan pasukannya. Raja Kecil, penuntut tahta Johor yang menurut Timothy P. Barnard (1994) beribukan wanita Minangkabau dan pernah menjadi pedagang telur ikan terubuk itu, dan sepak terjang Tuanku Sulaiman berserta para kamerad Bugisnya, jelas telah memberi kontribusi dalam melahirkan Pulau Penyengat sebagai salah satu pusat tamadun Melayu. Karena jalan sejarah akibat perang saudara antara sesama bangsawan Johor itulah, Penyengat kemudian dipersembahkan sebagai tempat bermastautin para bangsawan keturunan Bugis yang kakek moyang mereka telah berjasa mempertahankan marwah Tuanku Sulaiman sebagai pengklaim pewaris tahta Johor. 

Alhasil, Pulau Penyengat yang mungil itu telah melahirkan generasi intelektual Melayu yang akrab dengan kertas, dakwat, dan kalam. Salah seorang di antaranya adalah Raja Ali Haji yang baru-baru ini gelar kepahlawanannya digugat oleh seorang anak muda di Riau. Mungkin kita tak perlu menggugat intelektual Melayu itu hanya karena beliau dekat dengan bangsa Putih. Sebuah era dan para tokoh yang telah dilahirkannya dikondisikan oleh berbagai faktor semasa; oleh karenanya, memandang  kehidupan Raja Ali Haji secara subjektif dan penuh emosi dari perspektif hari ini, berarti telah memperlakukan sejarah secara anakronis.

Sejarah telah mencatat bahwa gairah intelektualisme di Penyengat juga menyentuh kaum wanitanya. Tak dapat dinafikan bahwa Raja Ali Haji dan para intelektual Melayu lainnya dari Penyengat telah berkontribusi dalam melahirkan kaum wanita yang berkeberaksaraan di dunia Melayu. Oleh karena itu, mungkin tak berlebihan jika dikatakan bahwa Raja Ali Haji adalah feminis laki-laki yang awal di dunia Melayu. Di Penyengat, kaum wanita, walau waktu itu terbatas di kalangan elit lokal, telah dibuat akrab dengan tulisan yang menumpuhkan kritisisme dan percabangan pikiran. Mereka tidak canggung merepresentasikan ide dan pikiran mereka di atas kertas, dan tak sungkan pula berkompetisi  dengan kaum lelaki dalam forum intelektual Rusydiah Klab yang pernah eksis di Penyengat.

Dari 27 orang wanita penulis dan penyalin syair di dunia Melayu pada abad ke-19 yang diidentifikasi oleh Mulaika Hijjas dalam bukunya Victorious wives: The disguised heroine in 19th-century Malay Syair (2011), 8 orang di antaranya berasal dari Penyengat. Mereka adalah:  Raja Salihat bt Raja Haji Ahmad, penulis Syair Sultan Abdul Muluk (sebelum 1847); Daeng Wuh, penulis Syair Sultan Yahya (sebelum 1851); Raja Kalsum bt Raja Ali Haji, penulis Syair Saudagar Bodoh  (1865); Raja Safiah bt. Raja Ali Haji, pengarang Syair Kumbang Mangindera (sebelum 1859); Encik Tipah, mungkin pengarang atau penyalin Syair Sultan Marit (tarikh tidak diketahui [tapi mungkin sebelum 1867]); dan Engku Bilik bt Raja Abdullah, pengarang Syair Siti Zubaidah, Syair Yatim Nestapa dan Syair Muhibbat al-Zaman  (tarikh tidak diketahui). Sedangkan yang diketahui sebagai penyalin adalah: Encik Seni, penyalin Syair Madhi (1860s?); Encik Wuk bt Tuan Bilal Abu, penyalin Syair Sultan Mansur (sebelum 1863), dan Encik Jamilah, penyalin (mungkin juga pengarang?)  Syair Yatim Nestapa (1864). Selain itu, ada pula Encik Kamariah dari Lingga yang mengarang Syair Sultan Mahmud (setelah 1865) dan seorang ‘selir Siak’ yang menyalin Hikayat Firman dan delapan teks lainnya (sebelum 1863).

Bagaimana mungkin di pulau kecil yang bernama Penyengat itu begitu banyak lahir wanita penulis yang akrab dengan kalam dan kertas ketika banyak rekan mereka di daerah lain di dunia Melayu masih buta huruf? Banyak sarjana Barat berpendapat bahwa munculnya tradisi dan gairah intelektualisme dan keberaksaraan di Penyengat, yang juga telah memberi peluang kaum wanitanya untuk maju, didorong oleh kontak yang terjadi dengan orang Barat yang membawa modernitas pada paroh pertama kurun ke-19. Faktor lain yang juga dianggap signifikan adalah gairah Islamic revivalism yang muncul pada zaman itu. Namun, seperti yang saya tulis dalam resensi saya terhadap buku Hijjas (lihat: Journal of the Malaysian Branch of the Royal Asiatic Society 85, 2012: 117-120), asumsi yang terakhir ini agak bertentangan dengan logika bahwa dalam kenyataannya perkembangan Islam yang agak berorientasi puritan pada masa itu justru cenderung mempersempit ruang gerak dan hak-hak kaum wanita.

Apapun faktor yang melatarbelakangi lahirnya tradisi literasi di Penyengat, kehidupan wanita bangsawan di pulau itu pada abad ke-19 sangat berbeda dengan di pusat-pusat kerajaan dan kemaharajaan Melayu lainnya. J.M. Gullick (1987) menunjukkan bahwa  kaum wanita punya hak kepemilikan dan pewarisan atas properti dan terlibat aktif dalam lapangan ekonomi, politik, dan juga intelektual. Tidak seperti yang dipratekkan di banyak daerah lain di dunia Melayu, kaum wanita bangsawan di Penyengat tidak berada dalam tekanan budaya patriarki. Thomson (op.cit)  menyaksikan keterlibatan penuh kaum wanita dalam berbagai upacara seperti perkawinan diraja (royal wedding) yang pernah disakisikannya di Penyengat. Boleh jadi pertembungan budaya Bugis (yang juga memiliki tradisi literasi yang tua seperti terefleksi dalam naskah I La Galigo, dan gairah keilmuan mereka yang membanggakan, seperti terefleksi dalam kisah hidup Karaeng Patinggaloang) dengan tradisi keislaman Melayu yang telah melahirkan budaya literasi yang ditopang oleh aksara Jawi telah menjadi energi penggerak lahirnya gairah intelektualisme dan tradisi keberaksaraan di Pulau Penyengat.

Masa lampau Penyengat yang gemilang itu mestinya menjadi pedoman bagi bangsa Melayu, khususnya masyarakat Riau, untuk tetap mempertahankan jatidiri kemelayuan dan membina keintelektualan mereka. Khusus bagi kaum wanita Melayu, semangat intelektualisme generasi Raja Salihat bt Raja Haji Ahmad di abad ke-19, adalah cermin perbandingan sekaligus dapat dijadikan pemicu semangat untuk meraih kemajuan dan prestasi yang lebih baik. 

Dr. Suryadi, pengajar dan peneliti Leiden Institute for Area Studies, Leiden University, Belanda

* Esai ini diterbitkan di harian Batam Pos (halaman ‘Jembia’), Minggu, 20 Desember 2015


TAGS   Penyengat / Suryadi / suryadi leiden / Kerajaan Riau-Lingga /


Comment

Author

Recent Post

Recent Comments

Archive