Suryadi

  • Jurnal dan Artikel /
    12 Nov 2014

    Orang Koto Gadang *1

    Perubahan sosial-budaya di Minangkabau Oleh: St. Perang Boestami *2 Bumiputera Pulau Sumatera yang mula-mula maju ialah orang Sumatera Barat. Sebab itu di Sumatera Baratlah mula-mula berdiri Sekolah Raja (Sekolah Guru) *3. Anak Sumatera Barat pulalah yang mengembangkan ilmu pengetahuan yang dituntutnya di Sekolah Raja itu ke seluruh Pulau Sumatera. Kampung yang mula-mula maju di Sumatera Barat ialah kampung Koto Gadang*4. Sebab itu dimana saja di Kepulauan Hindia ini adalah tersua orang Koto Gadang atau [ke]turunan Koto Gadang memegang rupa-rupa pekerjaan Gubernemen dan pekerjaan partikulir. Pada masa ini [1923] anak Koto Gadanglah yang sebanyak-banyaknya menjadi dokter, di antaranya ada yang bergelar Dr., yakni Dr. Sjaaf, yang gambarnya telah pembaca lihat di dalam Pandji Poestaka no.
  • Jurnal dan Artikel / Sastra & Budaya Minang /
    2 Jun 2013

    PANTUN MINANG: "BIOGRAFI HEROIK" LELAKI MINANGKABAU

    Bagian terakhir dari dua tulisan Urang Padang mandi ka pulau, Putuih sianik paulehkan, Anak dagang sakik di rantau, Hujan di langik mamandikan. Dalam bagian pertama tulisan ini (Padang Ekspres, 26-5-2013) telah digambarkan bagaimana bait-bait pantun Minang merepresentasikan keberangkatan calon perantau dari Ranah Bundo-nya dan suka-duka yang mereka hadapi dalam perjalanan menuju rantau. Pada bagian kedua ini akan dibicarakan pantun-pantun yang merefleksikan keadaan mereka di perantauan dan panggilan untuk menjenguk kampung halaman. Banyak bait pantun Minangkabau merekam perasaan si perantau di rantau. Suka-duka hidup di rantau, yang tidak selalu berhasil menghatarkan mimpi-mimpi di perantau, bercampur baur dengan kenangan kepada kampung halaman. Riak kehidupan di perantauan Rant
  • Jurnal dan Artikel / Sastra & Budaya Minang /
    28 May 2013

    PANTUN MINANG: "BIOGRAFI HEROIK" LELAKI MINANGKABAU

    Bagian pertama dari dua tulisan Karatau madang di hulu, Babuah babungo balun, Marantau bujang daulu, Di rumah baguno balun Seperti halnya di banyak etnis lain, kaum lelaki Minangkabau memiliki posisi kultural sendiri dalam masyarakatnya. Salah satu ciri kultural yang melekat pada diri lelaki Minang, yang dengan demikian mempengaruhi kepribadian mereka, individual maupun sosial, adalah kebiasaan mereka untuk pergi merantau. Merantau adalah salah satu elemen penting yang mencirikan etnis Minangkabau, khususnya kaum lelakinya, di samping dua elemen lainnya: Islam dan sistem kekerabatan matrilineal. Ketiga elemen itu memiliki hubungan sebab-akibat. Sandingan Islam dan matrilineal telah melahirkan ‘paradoks budaya’ (cultural paradox) - meminjam istilah Jeffrey Hadler (2008
  • Jurnal dan Artikel / Kajian Umum /
    14 May 2013

    Sastra, Etnisitas, Agama dan Kebangsaan

    Kesusastraan Indonesia sudah lama berperan sebagai sarana bagi penyemaian semangat kebangsaan. Di zaman kolonial, karya sastra telah ikut memberi andil dalam melahirkan semangat nasionalisme bangsa Indonesia yang akhirnya berhasil mengusir penjajah. Para founding fathers Republik Indonesia umumnya adalah intelektual pribumi yang memperoleh semangat anti penjajahan lewat beragam bacaan sastra. Para penentang gigih kolonialisme itu adalah pelahap teks-teks sastra yang kebanyakan berasal dari khazanah sastra Eropa. Sebagian bahkan juga menulis karya-karya sastra tempat mereka memijahkan dan menggelorakan semangat nasionalisme kaum sebangsanya guna membebaskan diri dari belenggu penjajahan. Melani Budianta dalam artikelnya “Diverse voices: Indonesian literature and nation-buildingR
  • Jurnal dan Artikel /
    27 May 2012

    In Memoriam Prof Dr A Teeuw : Kenangan kepadamu Terentang dari Leiden hingga Jakarta

    Hari Jumat, 25 Mei 2012, mulai pukul 11.00 waktu Leiden, Belanda, jenazah Prof Dr A Teeuw (91) dilepas di Marekerk, Lange Mare 48, 2312 GS Leiden, untuk selanjutnya dikremasikan secara pribadi oleh pihak keluarga almarhum. Meski sudah meninggal sejak 18 Mei lalu, kepergian akademikus dan kritikus sastra Indonesia terkemuka itu baru diumumkan kepada khalayak pada Kamis (23/5) pagi. Dalam kartu undangan sekaligus pemberitahuan yang diterima para sejawat, murid, dan kenalannya di Leiden, disebutkan bahwa penghormatan terakhir untuk Hanspanggilan akrab Prof A Teeuwdapat diberikan di Merekerk, Jumat siang. Selanjutnya, Hans wodts in daarna in besloten kring gecremeerd (Hans kemudian akan diperabukan secara pribadi). Berita kematian A Teeuw mengagetkan para murid, kenalan, dan para pembaca b
  • Jurnal dan Artikel /
    15 Mar 2012

    Tradisi Lisan Dalam Perspektif Kajian Agama (1)

    Bapak Rektor Insitut Hindu Dharma Negeri Denpasar, Prof. Dr. I Made Titib, Bapak-bapak dan Ibu-Ibu para dosen, serta Saudara-saudara mahasiswa sekalian yang saya hormati, Merupakan suatu kebahagiaan dan kehormatan bagi saya mendapat undangan untuk menyampaikan kuliah umum di hadapan hadirin sekalian pada hari ini. Dalam kesempatan pertemuan di Leiden pada akhir Juni lalu, Prof. Dr. I Nengah Duija, teman akrab saya sejak kami sama-sama mengabdi di Universitas Indonesia tahun 1990-an sampai kini, meminta kesediaan saya untuk memberikan kuliah umum ini, setelah beliau mengetahui bahwa saya dan keluarga akan berlibur ke Indonesia selama enam minggu, dari 29 Juni sampai 11 Agustus 2011. Rasanya sulit untuk menolak permintaan seorang sahabat baik yang telah sama-sama merasakan kerasnya rimba
  • Jurnal dan Artikel /
    29 Feb 2012

    HParangai DAN DOMESTIKASI TEKNOLOGI MEDIA

    Kurang lebih setahun lamanya rubrik HParangai menemani pembaca setia Padang Ekspres. Rubrik ini muncul pertama kali pada 17 Juli 2011 (berjudul: Urang ba HP Acok Indak Bataratik Kutiko Rapek) dan untuk terakhir kalinya terbit di Padang Ekspres edisi Minggu, 19 Juli 2012 (berjudul: Suko Indak Suko Maangkek Panggilan Hape). Rubrik ini diasuh oleh Yusrizal KW dan Cornelis. Yusrizal KW menangani ide naskah dan Cornelis yang mengonsep gambar. Bila saya membaca Padang Ekspres edisi Minggu, saya tidak pernah melewatkan rubrik HParangai karena di samping isinya yang sangat kocak (bikin saya ketawa sendiri), juga karena rubrik itu penting bagi saya sebagai pengamat budaya media (media culture) di Indonesia, sebagaimana yang akan saya jelaskan nanti. Dalam pengantarnya di nomor pertama pengas
  • Jurnal dan Artikel /
    22 Feb 2012

    Beban Berat Singgulung Batu Civitas Academica Kita

    Jika seorang kandidat S1 berhasil menerbitkan sebuah artikel ilmiah (bukan artikel yang diilmiah-ilmiahkan), itu tentu sebuah prestasi yang luar biasa. Untuk kesuksesannya itu, mungkin tanpa skripsi pun si mahasiswa sudah boleh diluluskan. Namun, jika sampai mewajibkan seorang mahasiswa menulis artikel ilmiah (sekali lagi, bukan yang diilmiah-ilmiahkan) sebagai syarat kelulusannya, selain harus menulis skripsi, itu adalah suatu kebijakan yang harus dikaji ulang, kalau kita tidak ingin memperpanjang daftar mahasiswa drop out dan menambah stres mahasiswa Indonesia pada umumnya. Di negara-negara maju, dengan tingkat kualitas pendidikan yang sudah jauh lebih maju daripada di Indonesia, tak ada kewajiban bagi seorang mahasiswa yang berada di jenjang BA dan MA untuk menerbitkan artikel ilmiah
  • Jurnal dan Artikel /
    5 Feb 2012

    Sumpah Menggunakan Al-Quran Dan Epidemi Lupa

    Di awal tahun 2012 ini Sumatra Barat digegerkan oleh serentetan peristiwa yang gayut dengan masalah agama dan moral: kasus ateis di Kabupaten Dharmasraya, pencanangan berdirinya dubalang paga nagari di Padang untuk mengawal moral masyarakat yang dinilai sudah cemar, dan tindakan seorang guru SMA 1 Bonjol, Sri Wahyuni, yang menghukum muridnya dengan menyuruh mereka menginjak Al-Quran. Kasus terakhir, yang menjadi fokus esai ini, membuat geger banyak orang Minangkabau. Sri Wahyuni menerima hujatan dari sana-sini, sehingga memaksanya menulis surat terbuka kepada publik (lihat: Haluan, 22-01-2012). Saya menyampaikan permohonan maaf [...] atas [...] kekhilafan saya telah menyuruh 26 murid untuk bersumpah sambil meletakkan kaki di atas Kitab Suci Alqur’an“, demikian kutipan surat
  • Jurnal dan Artikel /
    4 Feb 2012

    Signifikansi Budaya Ateis Minang

    Berita tentang pengakuan seorang Minangkabau bernama Alexander Aan yang menganut paham ateis telah menggemparkan Sumatera. Sebagaimana dapat dikesan dari berita yang muncul di berbagai media, pengakuan calon pegawai negeri sipil (CPNS) Kabupaten Dharmasraya dan administrator fb group Ateis Minang yang anggotanya tercatat sudah lebih dari 1.200-an orang itu, telah menimbulkan reaksi keras, tidak saja di Minangkabau, etnis dari mana dia berasal. Banyak orang Minang berpendapat bahwa Alexander Aan tidak boleh tinggal di Indonesia, negara yang hanya boleh dihuni oleh orang yang mempercayai adanya Tuhan, sebagaimana dinyatakan dalam sila pertama Pancasila. Dalam beberapa minggu belakangan ini, muncul berbagai opini dan komentar di media cetak dan siber terhadap kasus Alexander Aan. Masyaraka

Author

Recent Post

Recent Comments