Suryadi

  • Resensi Buku / Kajian Umum /
    24 Dec 2015

    Refleksi - Penyengat, perempuan, literasi

    Mungkin tak seluruh rahasia sebuah pulau kecil di zamrud khatulistiwa yang unik dan penting yang sudah berhasil diungkapkan orang. Pulau yang saya maksud adalah Penyengat. Di Pulau kecil ini pernah berdiri istana (pusat kekuasaan) sebuah kerajaan Melayu berdaulat di masa lampau, yang masih eksis sampai 1911, sebelum dihancurkan oleh orang putih: Kerajaan Riau-Lingga. Dari logika kemiliteran, Pulau Penyengat yang kecil itu sama sekali tidak menguntungkan sebagai basis pertahanan. Pulau yang hanya berjarak sepenghisapan rokok (15 menit berkayuh sampan) dari Tanjung Pinang, ibukota Pulau Bintan, di mana penj[el]ajah Belanda pernah mendudukkan resident-nya, pastilah dapat digempur musuh dari segala arah dengan sangat mudah. Misalkan ada perang dengan orang-orang putih kasar pemburu rempah ra
  • Kajian Umum /
    24 Apr 2015

    Syiah di Indonesia dan politik global

    Bagi kebanyakan umat Islam, Syiah dianggap aliran/mazhab sempalan. Pengikut Syiah hanya mengambil porsi 10% dan 90% mayoritas Sunni. Mazhab Dua Belas Imam (Itsna Asyariyah) ini paling banyak dianut di Iran dan sedikit di beberapa wilayah Timur Tengah lainnya. Orang Syiah menolak tiga khalifah pertama dari Bani Ummaiyyah (Abukabar al-Siddiq, Umar al-Khatab, dan Uthman bin Affan). Mereka percaya bahwa hanya sepupu dan menantu Nabi Muhammad, Ali bin Abi Thalib, kepala keluarga Ahlul Bait, yang menjadi suksesor kekhalifahan Islam yang sah setelah Muhammad wafat. Namun akhir-akhir ini, kita melihat melebarnya penganut Syiah ke beberapa wilayah lain di Timur Tengah. Yang terbaru adalah fenomena menguatnya pengaruh kelompok Syiah Houthi di Yaman. Mereka sudah mengambil alih pemerintahan negara
  • Kajian Umum / Sejarah /
    23 Aug 2014

    Peresmian 'Jalan Pahlawan Bagindo Dahlan Abdullah' di Pariaman

    Tanggal 25 Agustus 2014 Pemerintah Kota Pariaman membuat alek gandang untuk meresmikan nama baru sebuah jalan di kota itu, yaitu Jalan Pahlawan Bagindo Dahlan Abdullah. Acara itu diramaikan dengan seminar setengah hari tentang Bagindo Dahlan Abdullah (dalam catatan-catatan colonial namanya dieja ‘Baginda Dahlan Abdullah’), tokoh nasional asal Pariaman yang namanya diabadikan untuk nama jalan tersebut. Suryadi dari Universitas Leiden akan menapaktilasi sejarah hidup Bagindo Dahlan Abdullah (1895-1950) dan Prof. Gusti Asnan dari Universitas Andalas akan memaparkan konteks sejarah Pariaman sebagai salah satu entrepot yang maju dalam era perdagangan pantai di abad ke-19 untuk memberikan latar historis kehidupan masa kecil Bagindo Dahlan Abdullah. Setelah itu, beberapa wakil da
  • Kabar Berita / Kajian Umum /
    16 Feb 2014

    H. Bagindo Dahlan Abdullah Disepakati Untuk Diusulkan Jadi Pahlawan Na

    Focus Group Discusion Nasonalisme (FGDN) mengenang kepahlawanan seorang putra Pariaman H. Bagindo Dahlan Abdullah yang dilakukan di balairoom rumah dinas Walikota Pariaman dari pukul 9.30 hingga 12.12 WIB dihadiri langsung oleh cucu pertama Bagindo Dahlan Abdullah yaitu Iqbal Alan Abdulah. FGDN tersebut dimoderatori langsung oleh Wakil Walikota Pariaman Genius Umar. Dalam acara tersebut juga dihadiri oleh Martias Mahyuddin mantan Walikotif Pariaman, Mahyuddin mantan Walikota Pariaman dan Hasbilah dari unsur pimpinan DPRD Kota Pariaman. Turut hadir sebagai peserta antara lain adalah, Kanderi Kadisdikpora, Agusriatman Kadishubminfo, Hendri Kabag Humas, Kepala Bappeda, Ricky Valantino Ketua KNPI Kota Pariaman, para kepala sekolah, tokoh masyarakat, Pers dan dari kalangan Ormas kepemudaan
  • Kajian Umum /
    15 Jun 2013

    PENGINJILAN

    Orang zaman saisuak menyebutnya misi zending. Dulu di zaman kolonial pusatnya ada beberapa negara Eropa, seperti Nederlands Bijbelgenootschaap dari Belanda atau Rhenis Missionary Society dari Jerman. Masyarakat Melayu lebih sering menyebutnya misi peginjilan. Ada juga yang menyebutnya misi misionaris. Mereka sudah bertapak di Singapura sejak pertengahan abad ke-19. Di zaman lampau sekali, ketika bangsa kita masih banyak yang telanjang dan suka mengoleksi tengkorak manusia, misi pengingjilan telah menunjukkan manfaatnya. Banyak kelompok etnis di Indonesia yang sudah dimerdekakan dari kepercayaan paganisme oleh para penginjil yang kegigihannya memang membuat kita salut. Mereka berani tinggal di pedalaman di antara orang-orang yang masih ‘liar’. Kita tidak usah menengok jauh-ja
  • Jurnal dan Artikel / Kajian Umum /
    14 May 2013

    Sastra, Etnisitas, Agama dan Kebangsaan

    Kesusastraan Indonesia sudah lama berperan sebagai sarana bagi penyemaian semangat kebangsaan. Di zaman kolonial, karya sastra telah ikut memberi andil dalam melahirkan semangat nasionalisme bangsa Indonesia yang akhirnya berhasil mengusir penjajah. Para founding fathers Republik Indonesia umumnya adalah intelektual pribumi yang memperoleh semangat anti penjajahan lewat beragam bacaan sastra. Para penentang gigih kolonialisme itu adalah pelahap teks-teks sastra yang kebanyakan berasal dari khazanah sastra Eropa. Sebagian bahkan juga menulis karya-karya sastra tempat mereka memijahkan dan menggelorakan semangat nasionalisme kaum sebangsanya guna membebaskan diri dari belenggu penjajahan. Melani Budianta dalam artikelnya “Diverse voices: Indonesian literature and nation-buildingR
  • Kajian Umum /
    11 Jan 2013

    Sastra Melayu dan Karakter Bangsa

    ‘[L]iterature’ was an institutionalized body of texts that should be able to bring the people of the nation-in-becoming together [...] (Henk Maier 2002:69). Sastra dan pembangunan bangsa (literature and nation-building) adalah wacana yang sudah lama menjadi topik diskusi dalam dunia akademik. Di negara-negara bekas jajahan Eropa di Asia, Afrika dan Amerika Latin, sastra sering dianggap telah ikut memberikan kontribusi penting dalam melahirkan nasionalisme kaum pribumi yang akhirnya berhasil menjungkalkan hegemoni penjajah berkulit putih di negeri mereka. Umumnya para founding fathers negara-negara pasca kolonial di luar Eropa adalah intelektual-intelektual pribumi yang memperoleh semangat anti penjajahan melalui bacaan-bacaan sastra yang justru berasal dari khazanah sastra E
  • Kajian Umum /
    29 Mar 2012

    Perantau Minang

    Makhluk ini ada di mana-mana. Bahkan ketika Neil Amstrong mendarat di bulan, di sana didapatinya telah berdiri rumah makan Padang sebuah anekdot yang merefleksikan bahwa perantau Minang dapat ditemukan di empat penjuru angin, yang jumlahnya konon sebanding dengan jumlah saudara seetnis mereka yang tinggal di kampung. Mereka berseliweran di sekitar kita, dan mungkin diri kita sendiri adalah bagian dari mereka. Tapi siapakah gerangan mereka sebenarnya? Tentu saja tidak mudah mengidentifikasi sosok mereka secara lengkap dalam esai yang pendek ini. Namun demikian, sejumlah perantau dan mereka yang tinggal di Ranah Minang melalui fb-group Palanta R@tauNet mencoba mencungkil beberapa ciri perantau Minang itu (yang agaknya refleksi terhadap diri sendiri): para entrepreneur ulet tapi cenderu
  • Kajian Umum /
    10 Jan 2012

    Tentang Pemekaran Nagari

    Gerakan pemekaran wilayah administrasi pemerintahan dari berbagai tingkat akhirnya sampai pula ke level nagari dalam wilayah kebudayaan Minangkabau di Provinsi Sumatra Barat. Gerakan ini jelas terkait dengan isu nasional di satu pihak dan isu daerah di lain pihak. Dari perspektif nasional, wacana pemekaran nagari, dengan berbagai kepentingan (politik, ekonomi, sosial) yang tersembunyi di baliknya, jelas mengikut tren politik yang terjadi di Indonesia pasca tumbangnya Orde Baru (1998). Sejak mulainya era Reformasi banyak wilayah administrasi pemerintahan di seluruh Indonesia, sejak dari tingkat provinsi sampai kecamatan, sudah dimekarkan. Dari perspektif daerah, wacana pemekaran nagari, langsung atau tidak, telah didorong oleh gerakan Baliak ka Surau ka Nagari yang dicanangkan oleh Pemerin
  • Kajian Umum /
    20 Jul 2011

    Buku, Budaya Arsip, dan Kemajuan Bangsa

    Sering orang bertanya mengapa untuk studi tentang negeri sendiri orang Indonesia harus pergi luar negeri? Mengapa untuk studi sejarah Indonesia, misalnya, kandidat doktor kita harus pergi ke Leiden, Belanda? Jawaban dari pertanya itu jelas berkaitan dengan budaya buku dan arsip. Selama 350 tahun menjajah Indonesia, orang Belanda para misionaris, pegawai Binnenlands Bestuur, guru, peneliti, petualang, jurutulis kapal, dll. telah menulis dan mencatat banyak hal mengenai budaya dan masyarakat Indonesia. Mereka mendokumentasikan apa saja, mulai dari jenis-jenis semut dan cacing sampai kepada macam-macam permainan anak-anak, sejak dari aspek-aspek kebudayaan lokal Indonesia yang berwujud fisik seperti candi sampai kepada yang abstrak seperti mitos dan cerita rakyat. Semua itu dilakuka

Author

Recent Post

Recent Comments