Suryadi

  • Kajian Umum /
    2 Feb 2011

    PARIWISATA KITA DAN AUTISME BUDAYA INDONESIA

    Esai Prof. Herwandi tentang ide pemisahan Dinas Kebudayaan dari Dinas Pariwisata (Haluan, 18-1-2011) agaknya menarik untuk didiskusikan lebih lanjut. Herwandi berasumsi, jika dilakukan pemisahan, maka akan terjadi perubahan signifikan ke arah yang lebih baik dalam pengelolaan kebudayaan di Indonesia, khususnya di Sumatra Barat. Dalam tataran ide, pemisahan antara Dinas Pariwisata dan Dinan Kebudayaan dibayangkan dapat meringankan sekaligus memfokuskan kerja masing-masing dinas. Gagasan ini mungkin mengikut prinsip bahwa mengelola sesuatu yang lebih kecil jauh lebih gampang ketimbang mengelola sesuatu yang lebih besar. Namun, dalam konteks budaya birokrasi Indonesia yang cenderung memakai prinsip kalau bisa dipersulit, mengapa dipermudah yang dijalankan oleh pegawai negeri yang memiliki
  • Kajian Umum /
    17 Jul 2009

    Melawan Imperialisme Cendikia Barat

    Istilah Imperialisme Cendikia Barat saya kutip dari berita dalam website Melayu Online mengenai seminar terbuka kajian Melayu yang bertajuk Problem Eurosentrisme dalam Kajian Melayu: Mencari Perspektif Alternatif yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan Department of Malay Studies, National University of Singapore (NUS), Pusat Studi Asia Tenggara (PSSAT) UGM dan Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) (lihat: http://melayuonline.com/news/?a=TlBQcS91UGlaM1ZBY2E%3D=&l=melayuonlinecom-bentuk-nyata-perlawanan-terhadap-eurosentrisme; dikunjungi 6 Juli 2009). Wacana itu terbias lagi dalam workshop internasional Pemikiran Jawa-Melayu yang baru-baru ini diadakan di Universitas Sebelas Maret, Yogyakarta. Adal
  • Kajian Umum /
    28 Oct 2008

    MENGAPA TIDAK ADA 'KAMPUNG MINANG'? : Catatan tambahan untuk artikel Mathias Pandoe

    Menarik membaca artikel Mathias Pandoe, “Minangkabau Boulevart” (sic) yang dimuat Padang Ekspres (Jumat, 24 Oktober 2008). Artikel itu mendiskusikan mengapa perantau Minangkabau di banyak daerah di luar Sumatera Barat, termasuk luar negeri, tidak hidup dalam sebuah enclave seperti beberapa etnis lainnya? Kalau di banyak kota ditemukan Kampung Cina, Kampung Keling, Kampung Nias, Kampung Bali, Kampung Bugis, dan Kampung Ambon, misalnya, mengapa tidak ada Kampung Minang? Mathias menjelaskan bahwa hal itu disebabkan “orang Minang merantau tidak mengelompok di satu kawasan, tapi menyebar dengan jarak agak jauh satu sama lain”. Tetapi mengapa sifat seperti itu muncul pada orang Minang? Yang menarik sebenarnya penjelasan historis penulis mengenai hal ini yang, sayangnya,
  • Kajian Umum /
    13 Oct 2008

    Menyambut FSSM, Mengenang "Abuan Saudagar"

    Berbeda dengan Pertemuan Saudagar Bugis yang berlangsung di Makassar (4-5 Oktober 2008) yang terus-terang menyatakan dukungan politik kepada pasangan SBY-JK untuk pemilu mendatang (Kompas 6-10-2008), Panitia Forum Silaturahmi Saudagar Minang (FSSM) yang, sebagaimana halnya Pertemuan Saudagar Bugis, akan dibuka oleh Wakil Presiden, Yusuf Kalla, sudah lebih dahulu menyatakan bahwa kegiatan ini tidak bermotif politik (Padang Ekspres, 10-10-2008). Pernyataan itu tampaknya dimaksudkan untuk mengantisipasi isu-isu yang terkait dengan politik praktis yang di negeri ini acap kali mengemuka kalau orang sudah berkumpul-kumpul, apalagi yang berkumpul-kumpul itu orang besar-besar seperti para saudagar Minang yang sudah berjaya di berbagai rantau. Konon saudagar Minang itu bermental sentrifugal, berb
  • Kajian Umum /
    12 Oct 2008

    Kekristenan dalam Kesusastraan Indonesia

    Ada dua unsur yang menjadi sumber energi penggerak alur cerita yang hampir tidak terlalu sulit menelisik jejaknya dalam teks sastra Indonesia. Yang pertama adalah unsur kesukubangsaan (dimensi etnisitas) dan yang kedua adalah unsur keagamaan (dimensi religiositas). Representasi kedua unsur ini dalam karya-karya sastra Indonesiadalam kadar yang berbeda-bedahampir selalu dapat dirasakan. Kesusastraan Indonesia modern, sejak awal kemunculannya sampai sekarang, dipenuhi oleh teks-teks fiksional yang merepresentasikan persoalan-persoalan etnisitas dan religiositas dengan menampilkan banyak wira yang mengalami guncangan psikologis akibat pertemuan dengan modernisme Barat. Dimensi etnisitas karya-karya sastra Indonesia sudah lama menjadi topik pembicaraan di kalangan pengamat sastra. Penelitian
  • Karya Buku / Kajian Umum /
    31 Aug 2008

    Ditemukan Naskah Kuno Letusan Krakatau 1883

    KOMPAS/AGUS SUSANTO Aktivitas gempa vulkanik dalam, dangkal, dan letusan mewarnai Gunung Anak Krakatau, Selasa (30/10). Foto diambil tahun 2007. Laporan wartawan Kompas Yurnaldi JAKARTA, MINGGU– Jauh sebelum peneliti asing menulis tentang meletusnya Gunung Krakatau (Krakatoa, Carcata) tanggal 26, 27, dan 28 Agustus 1883, seorang pribumi telah menuliskan kesaksiaan yang amat langka dan menarik, tiga bulan pascameletusnya Krakatau, melalui Syair Lampung Karam. Peneliti dan ahli filologi dari Leiden University, Belanda, Suryadi mengatakan hal itu kepada Kompas di Padang, Sumatera Barat, dan melalui surat elektroniknya dari Belanda, Minggu (31/8). “Kajian-kajian ilmiah dan bibiliografi mengenai Krakatau hampir-hampir luput mencantumkan satu-satunya sumber pribumi tertulis, yang
  • Kajian Umum /
    29 May 2008

    Hari (Jadi) Pers Nasional: Meremehkan Peran Surat Kabar Lain

    Tulisan Nasrul Azwar yang bertajuk Sejarah Pers Sumbar Dialih Orang Lalu di harian Padang Ekspres online (17-12-2007: Teras Utama) menarik perhatian kita karena beberapa kritik yang dilontarkannya, yang selama ini tidak pernah mendapat perhatian kalangan peneliti dan masyarakat pada umumnya. Nasrul menanggapi pernyataan Taufik Rahzen di harian Jurnal Nasional bahwa tahun 2007 ini adalah peringatan seabad usia pers nasional. Perhitungan itu didasarkan atas terbitnya surat kabar Medan Prijaji di Bandung pada bulan Januari 1907, yang dieditori oleh Raden Mas Tirto Adhi Soerjo. Pernyataan seabad usia pers nasional, dengan demikian, mengadung pengertian bahwa sebelum 1 Januari 1907 hari lahirnya Medan Prijaji berarti pers nasional belum ada (belum lahir). Dengan kata lain, surat kabar-surat
  • Kajian Umum /
    7 Jan 2008

    Khazanah Naskah dari Kepulauan Riau di Belanda

    Di Indonesia, mencari buku tua atau naskah klasik yang berumur mencapai 500 tahun mungkin tidak semudah menemukan HP atau mobil model terbaru. Lain halnya di Belanda: banyak dokumen tua dan artefak sejarah tersimpan baik di berbagai perpustakaan dan museumnya. Sulit untuk menyangkal bahwa kesadaran akan pentingnya arsip berbanding lurus dengan kemajuan kebudayaan sebuah negara-bangsa. Berkat kerapian sistem pengarsipan dan ketelitian sistem administrasinya sejak dulu sampai sekarang, Belanda yang tergolong negara maju, menjadi salah satu destinasi internasional studi kepustakaan sejarah Asia (Tenggara). Hal ini tentu terkait dengan sejarah kolonialisme Eropa pada zaman lampau yang juga dilakoni Belanda di beberapa negeri Asia (Sri Lanka, Taiwan, Indonesia, dsb.). Sudah menjadi pemandanga
  • Kajian Umum /
    30 Oct 2007

    Realitas dan Mitos Sumpah Pemuda

    Begitu tanggal 28 Oktober menjelang tiap tahun, bertebaran opini di koran-koran kita mengenai Sumpah Pemuda. Para kolomnis, yang hidup telah begitu jauh dari zaman ketika Soempah Pemoeda itu lahir, mencantelkan sedikit kenangan buram mereka tentang peristiwa heroik itu untuk kaum muda kita. Bahwa ada tiga ikrar yang diucapkan tgl. 28 Oktober 1928 oleh para pemuda dengan semangat merdeka membaja, di Betawi, ibukota Hindia Belanda. Selebihnya adalah debat apakah Sumpah Pemuda itu masih relevan untuk Indonesia masa kini, khususnya kaum mudanya. Ada yang bilang masih, yang lain mengatakan sudah tidak. Mungkin ada baiknya menayangkan sedikit film hitam-putih itu, untuk sekadar membangkitkan kenangan historis para pemuda kita hari ini, yang sehari-hari melahap menu MTV, McDonald, dan HP made in
  • Kajian Umum /
    6 Aug 2007

    Simposium Internasional XI Pernaskahan Nusantara Ungkap Bukti Otentik Perjalanan Sejarah Bima

    SIMPOSIUM Internasional XI Pernaskahan Nusantara yang berlangsung di Bima 26-28 Juli 2007 telah berakhir. Banyak kisah dan cerita masa lalu yang terungkap dan menjadi bahan diskusi 31 pemakalah dari dalam dan luar negeri serta 189 peserta simposium dalam sidang yang menarik. Kearifan lokal yang terkandung dalam naskah Nusantara membuka wawasan baru bagi pemerhati naskah kuno dan peserta yang nota bene baru mengenal keragaman sejarah masa lampau yang tercatat dalam naskah-naskah Nusantara. Suryadi, Opleiding Talen en Culturen van Zuidoost Azi en Oceani, Universiteit Leiden, Belanda, dalam makalahnya berjudul Surat-surat Sultan Bima Abdul Hamid kepada Kompeni Belanda Koleksi Universiteitsbibliotheek Leiden menyebutkan, sejauh penelusuran kepustakaan yang ia lakukan, tidak ada surat dari s

Author

Recent Post

Recent Comments