Suryadi

  • Karya Buku / Sastra & Budaya Minang / Khazanah Pantun Minang /
    1 Nov 2011

    Khazanah Pantun Minangkabau # 52 - ENTAH JIKA LAPUK RANTAI HATI

    Ada sebuah ungkapan Minangkabau yang mungkin sudah dilupakan atau sudah tidak terpakaikan lagi oleh sebagian orang Minang sekarang: Jan baco nan tasurek sajo, tapi baco pulo nan tasirek (Jangan baca yang tersurat saja, tapi baca juga yang tersirat). Ungkapan itu menjelaskan salah satu inti dari kepribadian orang Minang, khususnya dalam adab bertutur kata, yang kelihatannya makin bonsai dalam kehidupan orang Minangka sekarang. Rubrik Khazanah Pantun Minang ini di-ada-kan antara lain bertujuan untuk mengasah kembali kepekaan orang Minangkabau dalam membaca yang tersirat, menyelam ke balik kata, yang tentunya bermanfaat bagi siapa saja, terutama bagi para pemimpin di daerah ini. 402. Antakkan galah ka bubuangan, Rambuiktan ka labek tidak, Sarahkan bana ka Junjuangan, Manggih hutan ka dap
  • Karya Buku /
    4 Aug 2011

    Khazanah Pantun Minangkabau # 39 - KAMI TARAMBAU HILANG SAJA

    Ada yang berpendapat orang Minangkabau sekarang sudah mada (bebal), tidak mempan lagi oleh kata-kata kiasan. Tinggal kabau saja lagi. Padahal ungkapan lama sudah mengingatkan Manusia tahan kias, binatang tahan palu. Akan tetapi masih banyak orang Minang yang memakai adab sopan santun dalam berkata-kata, di mana kata-kata kiasan masih terpakaikan. Bahasa pantun, seperti yang kami sajikan lagi di nomor 39 ini, jelas bisa menjadi bahan pelajaran untuk memahami penggunaan kiasan dalam bertutur kata di Minangkabau. 308. Bajau bunian ‘nak ‘rang Daiak, Lalu bagalah ka labuahan, Bungo baringin kami ambiak, Larangan kumbang jo tabuhan. 309. Pai ka Solok batambilang, Tibo di Solok ilia mudiak, Tangan nan suok tapakalang, Tangan nan kida panyalisiak. 310. Kapeh gajombang ‘
  • Karya Buku /
    31 May 2011

    Khazanah Pantun Minangkabau # 30 - IKAN TERKILAT DALAM LUBUK

    Setiap kebudayaan memiliki ruang dan model yang khas dalam memberikan ruang engekpresi kepada kaum mudanya untuk menyatakan perasaan hati dan pikiran mereka. Dalam kasus Minangkabau, kata-kata literer dalam bentuk pantun menjadi media yang penting untuk tujuan itu. Kita teruskan menikmatinya di nomor ini. 236. Padi sipuluik tanak baru, Karambia mudo lah babalah, Kami di muluik sudah tau, Bahaso Adiak lah barubah. 237. Kabau nan gadang kabau jantan, Tunjang siapo ka mambali, Adiak dimukasuik ka pakaian, Hilang siapo ka mangganti. 238. Anak itiak di sawah gadang, Barakuak bantuak paruahnyo, Sajak ketek dinanti gadang, Lah gadang banyak tangguahnyo. 239. Taluak Balai suduiknyo tigo, Ka darek Padang Sikaduduak, Sabab talalai dagang siko, Ikan takilek dalam lubuak. 240. Ikan t
  • Karya Buku /
    19 Sep 2010

    Kompas : LETUSAN KRAKATAU dalam Syair Melayu

    DAMHURI MUHAMMAD Lebih dari seribu kajian tentang letusan Krakatau telah ditulis, baik oleh ahli geologi, vulkanologi, metereologi, maupun oseanografi. Bermunculan pula sejumlah prosa karya seniman Eropa dari tahun 1889 hingga 1969, juga beberapa film yang menggambarkan bencana akbar itu. Akan tetapi, kajian dan karya seni dengan sudut pandang penduduk lokal masih langka. Buku Syair Lampung Karamkarya Suryadi ini pantas disebutsebagai penemuan yang mengejutkan. Ahli filologi dan peneliti sastra klasik di Universitas Leiden inimenemukan naskah usang mengenai peristiwa letusan Krakatau 1883,bertajuk Syair Lampung Karam(SLK) karya Muhammad Saleh, diterbitkan di Singapura pada akhir abad ke-19. Suryadi mencatat, SLK pernah terbit dalam bentuk litografi (cetak batu) dengan aksara Arab-Me
  • Karya Buku / Wawancara /
    29 Aug 2010

    Saya Puas "Syair Lampung Karam Dapat Apresiasi

    Saya Puas “Syair Lampung Karam Dapat Apresiasi DI dunia fi lologi, Suryadi adalah nama yang tengah bergema. Ia ramai dibincangkan berkat temuannya tentang naskah klasik karya Muhammad Saleh: Syair Lampung Karam (SLK). Saleh, penulis asal Lampung (?) dan menjadi satu-satunya pribumi yang merekam betapa dahsyatnya letusan Gunung Krakatau pada 1883 yang menewaskan 36.000 manusia itu. SLK ditulis tiga bulan setelah letusan dahsyat itu. Temuan Suryadi menyingkap tabir SLK selama 125 tahun tersimpan di beberapa negara. Telaah komprehensif ini dibukukan dengan judul Syair Lampung Karam, Sebuah Dokumen Pribumi tentang Dahsyatnya Letusan Krakatau 1883 (cetakan ke-1 Agustus 2009 dan cetakan ke-2 Januari 2010). Buku yang dieditori Yurnaldi ini diterbitkan oleh Komunitas Penggiat Sastra Pada
  • Karya Buku /
    2 Jan 2010

    Syair Lampung Karam

    Judul : Suryadi, Syair Lampung Karam, sebuah dokumen Pribumi tentang DAHSYATNYA LETUSAN KRAKATAU 1883 Penerbit : Komunitas Penggiat Sastra Padang (KPSP) Tahun terbit : Cetakan Ke-1 Agustus 2009 dan Cetakan Ke-2 Januari 2010 Jumlah halaman : xiv + 206 Halaman. ISBN : 979-602-95502-0-7 Boleh saja Anda pernah membaca buku Krakatau karya Simon Winchester yang terbit 3 tahun lalu. Tapi yang hendak diceritakan kepada anda semua adalah sebuah buku yang sangat eksklusif, yang baru terbit, penulisnya Suryadi Sunuri, Dosen dan Peneliti untuk Faculteit der Geesteswetenschappen, Leiden Institute for Area Studies, SAS Indonesie. Universitas Leiden, Belanda. Buku ini Eksklusif karena dari lebih seribu tulisan dalam bentuk artikel dan buku (ilmiah dan sastra) tentangnya telah ditulis orang, sejak a
  • Karya Buku / Kabar Berita /
    12 Sep 2008

    Letusan Krakatau di Mata Pribumi (Indepth)

    By mitrafm on Sep 12, 2008 in MITRA UP DATE- Berita Terkini Mitra 97FM “Orang banyak nyatalah tentu, Bilangan lebih daripada seribu, Mati sekalian orangnya itu, Ditimpa lumpur, api, dan abu.Pulau Sebuku dikata orang, Ada seribu lebih dan kurang, Orangnya habis nyatalah terang, Tiadalah hidup barang seorang”. Rupanya mayat tidak dikatakan, Hamba melihat rasanya pingsan, Apalah lagi yang punya badan, Harapkan rahmat Allah balaskan. Berita ditemukannya satu-satunya sumber pribumi tertulis yang memuat kesaksian mengenai letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883 mengejutkan banyak orang. Dalam tempo 48 jam, berita yang dimuat pertama kali di Kompas online itu diunduh sekitar 14.000 orang dari berbagai belahan dunia. Kemudian berita itu dikutip berbagai media. Menariknya, tidak han
  • Karya Buku / Kabar Berita /
    9 Sep 2008

    Syair Lampung Karam : Kesaksian Pribumi tentang Letusan Krakatau 1883

    Radio Nederland Wereldomroep : Suryadi soal Krakatau Ternyata orang pribumi juga menulis risalah tentang meletusnya Gunung Krakatau pada bulan Agustus 1883. Orang itu adalah Mohammad Saleh yang menulis risalah berjudul Syair Lampung Karam, yang diterbitkan dalam bentuk cetak batu di Singapura tahun 1883. Selama ini, semua laporan tentang letusan dahsyat Krakatau itu hanya berdasarkan pada laporan orang-orang asing, terutama Belanda dan Inggris. Pelbagai kajian yang membahas laporan itu juga tidak mencantumkan Mohammad Saleh. Berikut penjelasan Suryadi, peneliti dan ahli filologi pada Universitas Leiden, penemu Syair Lampung Karam. Suryadi: Satu-satunya dokumen kesaksian kaum pribumi sejauh yang tahu mengenai letusan Gunung Krakatau yang dahsyat itu, berjudul Syair Lampung Karam. Tetapi p
  • Karya Buku / Kajian Umum /
    31 Aug 2008

    Ditemukan Naskah Kuno Letusan Krakatau 1883

    KOMPAS/AGUS SUSANTO Aktivitas gempa vulkanik dalam, dangkal, dan letusan mewarnai Gunung Anak Krakatau, Selasa (30/10). Foto diambil tahun 2007. Laporan wartawan Kompas Yurnaldi JAKARTA, MINGGU– Jauh sebelum peneliti asing menulis tentang meletusnya Gunung Krakatau (Krakatoa, Carcata) tanggal 26, 27, dan 28 Agustus 1883, seorang pribumi telah menuliskan kesaksiaan yang amat langka dan menarik, tiga bulan pascameletusnya Krakatau, melalui Syair Lampung Karam. Peneliti dan ahli filologi dari Leiden University, Belanda, Suryadi mengatakan hal itu kepada Kompas di Padang, Sumatera Barat, dan melalui surat elektroniknya dari Belanda, Minggu (31/8). “Kajian-kajian ilmiah dan bibiliografi mengenai Krakatau hampir-hampir luput mencantumkan satu-satunya sumber pribumi tertulis, yang

Author

Recent Post

Recent Comments