Suryadi

  • Khazanah Pantun Minang / Sastra & Budaya Minang /
    10 Oct 2012

    Khazanah Pantun Minangkabau # 99 (Tamat) - SENGKETA MATA BELUM LAGI SUDAH

    Ini adalah nomor penutup rubrik “Khazanah Pantun Minang”. Minggu ini rubrik ini sampai pada edisi ke-100. Ibarat berlayar sudah sampai du pulau, berjalan sudah sampai di batas. Kepada penggemar setia rubrik ini, kami ucapkan selamat membaca sajian terakhir ini. Minggu depan mungkin akan muncul rubrik baru di halaman ini. Hanya satu pinta kami: walau pengganti rubrik ini lebih rancak nantinya, ingat-ingat jugalah rubrik “Khazanah Pantun Minangkabau” ini. Kalau sudah dapat “kawan” yang baru, “kawan lama” dilupakan jangan. 805. Ayam putiah masuak ka parak, Tibo di parak kanai jalo, Gigi putiah dibao galak, Bungo takarang di kapalo. 806. Karambia sarangkai tujuah, Tampak nan dari Pakandangan, Ambiak simpai panjang tujuah, Manembak bungo bal
  • Khazanah Pantun Minang / Sastra & Budaya Minang /
    26 Sep 2012

    Khazanah Pantun Minangkabau # 98 - KASIH OMBAK MAKANYA MANDI

    Khazanah Pantun Minangkabau # 98 - KASIH OMBAK MAKANYA MANDI Dengan melakukan kajian terhadap pantun-pantun Minangkabau, kita mungkin dapat melihat sejauh mana telah terjadi pergeseran laras bahasa sastra Minangkabau. Pergeseran itu tentu tidak dapat dihindari. Namun, kajian-kajian yang kita lakukan terhadap khazanah pantun Minangkabau mungkin dapat memberi inspirasi kepada orang Minangkabau kini dalam membuat kreasi-kreasi seni, khususnya sastra dan musik, yang tetap berakar pada tradisinya sendiri. Nomor ini (98) menyajikan lagi serangkaian bait pantun Minangkabau klasik kepada pembaca setia rubrik ini. 778. Dipaku kawek dipilinkan, Dilipek pandan baduri, Sungguahpun surek dikirimkan, Sipaik namonyo badan diri. 779. Dipanggang kekek dikariangkan, Makanan anak Raja Jao, Dikarang su
  • Khazanah Pantun Minang / Sastra & Budaya Minang /
    19 Sep 2012

    Khazanah Pantun Minangkabau # 97 - JERAT SUDAH MENGAMBUNG DIRI

    Sejauh yang terlacak oleh saya, belum banyak kajian mengenai paralelisme dan metafora dari perspektif linguistik dan stilistik yang mengambil objek pantun Minangkabau. Barangkali ada baiknya jika Jurusan Sastra Daerah/Program Studi Bahasa & Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas menawarkan mata kuliah kajian pantun Minangkabau. Dalam kuliah itu bisa dibahas aspek intrinsik dan ekstrinsik pantun Minangkabau. Mari kita nikmati lagi estetika pantun Minangkabau yang khas itu di nomor ini, tiga nomor menjelang edisi ke-100 rubrik ini. 767. Siamang di kayu kalek, Malompek ka puncak batuang, Tuan tagamang lagi bajawek, Takantuak Tuan lai badukuang. 768. Taganang aia di lasuang, Disalin ka buli-buli, Marantak balam ateh batuang, Jarek lah maambung diri. 769. Mulo
  • Khazanah Pantun Minang / Sastra & Budaya Minang /
    12 Sep 2012

    Khazanah Pantun Minangkabau # 96 - PERAWAS MASAK JADI BATU

    Di abad ke-21 ini masyarakat Indonesia, baik dalam pengertian negara-bangsa maupun kumpulan etnisitas, makin terperosok ke dalam labirin modernisme. Ibarat masuk lubang gelap tanpa penerang, mereka saling berantukan satu sama lain dalam pusaran budaya pop. Dan mereka tak sadar pula telah diperantuk-antukkan bangsa asing melalui tangan-tangan maya imperialisme modern. Mereka cenderung lupa kepada kebudayaan sendiri, larut dalam xenosentrisme yang memuja kebudayaan asing secara berlebih-lebihan. Semoga sajian ‘Khazanah Pantun Minang’ – ini adalah edisi 96 – masih membantu orang Minangkabau meresapi kebudayaan sendiri. 757. Baladang mudiak Koto Ranah, Ditabeh mako dianguihsi, Elok diambiak kutiko randah, Kok tinggi gunuang ditangisi. 758. Mambajak urang di Andale
  • Khazanah Pantun Minang / Sastra & Budaya Minang /
    5 Sep 2012

    Khazanah Pantun Minangkabau # 95 - BERMAIN GUNTING DALAM HATI

    Sudah seminggu Hari Raya 1433 H berlalu. Kampung sudah lengang kembali. Buaiyan Kaliang di pantai Pariaman sudah dibongkar. Oto-oto berkilat dari berbagai merek sudah balik ke rantau. Sebuah ‘ritual’ atas nama kebudayaan dan agama telah usai. Lebih dari 900 nyawa hilang di jalan. Puji dan umpat bergaung dalam laman-laman facebook (antara lain keluhan tentang semrawutnya kota Bukittinggi). Uang si perantau yang tercicir di kampung sebagian besar telah menguap ke udara. Namun tuah perantau itu, atau kesengrasaannya, serta keindahan kampung halaman dan rumah gadang, tetap abadi dalam pantun-pantun Minangkabau. Mari kita menghibur diri dengan sajian pantun di nomor 95 ini, karena orang rantau tidak akan mungkin dapat kita tahan untuk membali tidur di surau dan mengadu ujung celana
  • Khazanah Pantun Minang / Sastra & Budaya Minang /
    28 Aug 2012

    Khazanah Pantun Minangkabau # 94 - TUAH DI DALAM TANGAN ORANG

    Masih dalam suasana Idul Fitri 1433 H., kita lanjutkan apresiasi kita terhadap khazanah pantun klasik Minangkabau. Barangkali ini suasana yang tepat juga, mengingat banyak perantau sedang di kampung. Semoga rubrik ‘Minang Saisuak’ Padang Ekspres Minggu nomor 94 ini akan menemani nostalgia mereka dan kembali mengingat hakikat perantauan orang Minangkabau. Selamat menikamti. 735. Amuah nyo kami samo mandi, Jauah tapian rang subarang, Amuah nyo kami samo mati, Tuah di dalam tangan urang. 736. Batang sianik tagulampai, Kasturi di dalam kaco, Tabang ka langik balun sampai, Jatuah ka bumi balun nyato. 737. Mandaki jalan ka darek, Padam dama palito kapeh, Putuih suto tali pangabek, Makasuik hati diganggam lapeh. 738. Buruang banamo penti-penti, Mantiko ateh kapalonyo, Kamilau
  • Khazanah Pantun Minang / Sastra & Budaya Minang /
    15 Aug 2012

    Khazanah Pantun Minangkabau # 93 - DISUNGKUP QURAN TIGA PULUH

    Sudah beberapa hari ini saya membaca sebuah buku baru tentang Minangkabau oleh sarjana Amerika Karl G. Heider. Judul bukunya: The Cultural Context of Emotion: Folk Psychology in West Sumatra (New York: Palgrave Macmillan, 2011). Buku ini adalah salah satu seri korpus publikasi tentang culture, mind, and society (budaya, pikiran, dan masyarakat). Heider memperlihatkan bahwa emosi orang Minangkabau cukup rumit, yang secara kultural berkait kelindan dengan sistem Matrilineal yang mereka anut. Dalam bahasa Minangkabau ditemukan banyak metafora untuk mengekspresikan emosi atau perasaan. Pantun, sebagaimana dapat kita nikmati lagi di nomor ini (93), adalah salah satu inang tekstual literer untuk mengilatkan emosi itu. 726. Lah masak buah kayu tulang, Makanan anak barau-barau, Kok untuang kumba
  • Khazanah Pantun Minang / Sastra & Budaya Minang /
    7 Aug 2012

    Khazanah Pantun Minangkabau # 92 - MATI DIKERLING SUDUT MATA

    Secara teori masing-masing bahasa etnis (vernacular language) di dunia Melayu memiliki tradisi pantun yang ciri-ciri instrinsiknya berbeda satu sama lain. Tentang Pantun Minangkabau sebenarnya belum ada kajian yang mendalam mengenai hal ini, kecuali oleh R.J. Chadwick (1994) yang juga masih terbatas membicarakan bentuk majas tak sempurna (unconsummated methaphor) dalam pantun-pantun Minangkabau. Oleh sebab itu, sambil menikmati sajian ‘Khazanah Pantun Minangkabau’ di nomor ini (92), saya mengajak para sarjana kita (di Unand, UNP, dll.) untuk memikirkan hal ini. Siapa tahu ada yang tertarik untuk menelitinya lebih lanjut. 716. Bakudo baganti tidak, Ilang dimano palanonyo? Basuo bakato tidak, Apokoh sabab karanonyo? 717. Guruah patuih panubo limbek, Pandan tajamua di subaran
  • Khazanah Pantun Minang / Sastra & Budaya Minang /
    31 Jul 2012

    Khazanah Pantun Minangkabau # 91 - AIR MATA DIBUANG JANGAN

    Sejak sepuluh tahun terakhir ini negara asing, seperti Jepang, Jerman, dan Inggris mendanai pendigitalisasian naskah-naskah Nusantara. Rupanya khazanah pernaskahan Nusantara masih tetap diminati oleh pihak asing. Sebaliknya, Pemerintah RI masih belum juga menunjukkan perhatian serius terhadap naskah-naskah Nusantara. Kita mungkin baru dapat membayangkan bahwa pada suatu saat Pemerintah Provinsi Sumatra Barat akan mengalokasikan dana untuk memesan reproduksi atau kopian naskah-naskah Pantun Minangkabau yang tersimpan di Leiden, Belanda, untuk disimpan di Museum Adityawarman atau instansi lainnya yang relevan. Sambil menunggu mimpi itu jadi kenyataan, mari kita nikmati sajian ‘Khazanah Pantun Minang’ edisi minggu ini. 706. Muaro Soma dilingkuang gunuang, Batang aia sapanjang ja
  • Khazanah Pantun Minang / Sastra & Budaya Minang /
    25 Jul 2012

    Khazanah Pantun Minangkabau # 90 - KAMI DATANG JENJANG DIHELA

    Pantun adalah salah satu genre sastra Melayu klasik yang telah pula mempengaruhi sastra Barat. Orang Perancis, misalnya, mengenal ‘pantoum’ yang konon terispirasi oleh pantun (Zalila Sharif, 2002); dalam Bahasa Rusia juga ada ekspresi literer yang diinspirasi oleh pantun (Victor A. Pogadaev, 2002). Ini tentu sesuatu yang luar biasa, karena yang biasa terjadi adalah aspek-aspek sastra Barat yang mempengaruhi sastra Melayu sejak zaman kolonial hingga kini. Jika demikian halnya, alangkah bagusnya khazanah sastra tradisional kita ini kita apresiasi dan kita pelihara. Mari kita nikmati sajian ‘Khazanah Pantun Minang’ di nomor ini (90). 697. Apo guno kapuak di ladang, Kok tidak barisi padi, Apo guno barambuik panjang, Kok tidak barani mati. 698. Bukan sumbarang burua

Author

Recent Post

Recent Comments