Suryadi

  • Minang Saisuak /
    24 Dec 2015

    Minang Saisuak #244 - Pesta “mencukur anak” Hoofddjaksa Padang

    Pesta “mencukur anak” Hoofddjaksa Padang: Angkoe Pamoentjak Maharadja (1902) Dahulu di Minangkabau, kalau seorang anak lahir ke dunia, bukan ayah-ibunya saja yang berbahagia, tapi juga seluruh isi korong-kampung. “Lah lahia anak si anu?”  “Alah!.” “Sia namonyo?” “Abaknyo.” “Baa ruponyo?” “Kundua”. Begitulah dialog dalam cara kampung apabila seorang anak lahir, seperti dicatat oleh A.A. Navis dalam bukunya, Alam Terkembang Jadi Guru (Jakarta: Grafiti Pers, 1984). Apalagi kalau yang lahir itu adalah anak orang gedang-gedang, anak orang-orang berbangsa, anak raja asal-berasal, anak puti sundut-bersundut. Maka itu berarti rahmat bagi seluruh isi kampung. Barangkali ini tradisi yang berasal dari dunia k
  • Minang Saisuak /
    16 Dec 2015

    Minang Saisuak #243 - Oto ‘Minang Jaya’ tambangan Rao-Rao - Padang

    Foto ini berasal dari laman Facebook Fadli Anas, seorang perantau Minangkabau yang, sebagaimana banyak perantau Minang lainnya, selalu rindukan kampung halaman dan tepian tempat mandi. Foto ini sendiri tentu merefleksikan kerinduan itu dan, sampai batas tertentu, mungkin dapat mewakili perasaan banyak perantau Minangkabau yang lain. Nostalgia. Itulah mungkin kata yang paling tepat untuk menggambarkan derita dan rundu dendam perantau dan manusia diaspora pada umumnya, di rantau manapun mereka berada. Mungkin banyak orang abai terhadap foto-foto seperti ini. Ini terjadi karena sejarah sudah begitu didominasi oleh narasi-narasi besar yang berkisah tentang orang-orang besar pula. Sering sekali topik yang dibahas adalah mengenai perang dan orang-orang yang telah menyulut terjadinya perang i
  • Minang Saisuak /
    10 Dec 2015

    Minang Saisuak #242 - Rumah Bola “Medan Pedamaian Minangkabau”

    Rumah Bola “Medan Pedamaian Minangkabau” di Fort van der Capellen (Butusangkar), c.1903 Dalam keterangan foto ini, di bagian atas, tertulis: “Inl[andsch] societeit te Fort v[an] d[er] Capellen (Westkust v[an] Sumatra). Di bagian bawah ada catatan dalam Bahasa Melayu: “Rumah-bola Medan Perdamaian Minangkabau di Batoe Sangkar, Padang Darat”.   Foto ini dibuat sekitar tahun 1903 dan dimuat dalam berkala Bintang Hindia yang terbit di Amsterdam (lihat keterangan tentang sumber foto). Foto ini adalah salah satu dokumentasi yang langka mengenai Rumah Bola (Societeit) ‘Medan Pedamaian Minangkabau’ yang terdapat di Batusangkar. Pada masa itu, muncul beberapa paguyuban pribumi yang diusahakan oleh intelektual Minangkabau yang mengambil nama &ld
  • Minang Saisuak /
    1 Dec 2015

    Minang Saisuak #241 - Jirat Syekh Mungka

    Di Minangkabau, makam ulama-ulama terkemuka atau orang kaya-kaya kadang-kadang ditempatkan dalam sebuah bangunan yang sengaja dibuat untuk melindungi makam itu. Makam seperti itu disebut jiraik (sering di-Melayutinggikan menjadi jirat). Biasanya dalam jirat dimakamkan pula ulama-ulama lain yang masih termasuk trah murid oleh ulama terkemuka itu, atau, dalam kasus orang kaya-kaya, anggota keluarga atau keturunannya. Rubrik Minang saisuak kali ini menurunkan sebuah foto klasik yang mengabadikan secara visual jiraik Syekh Mungka. Beliau adalah seorang ulama terkemuka yang pernah dimiliki Minangkabau pada awal akhir abad ke-19 dan awal abad-20. Al-Faqir Apria Putra dalam blognya http://surautuo.blogspot.nl/2011/12/al-marhum-syekh-muhammad-saad-al.html menulis bahwa nama lengkap ulama yang
  • Minang Saisuak /
    24 Nov 2015

    Minang Saisuak #240 - Bgd Dahlan Abdoellah masa bersekolah di Den Haag

    Dalam rubrik ‘Minang saisuak’ edisi Minggu, 29 Desember 2013, sudah diturunkan profil Bagindo Dahlan Abdoellah, salah seorang putra Pariaman generasi awal yang bersekolah ke Negeri Belanda. Lahir di Pasia, Pariaman, pada 15 Juli tahun 1895, Dahlan Abdullah – dalam dokumen-dokumen kolonial namanya biasa ditulis ‘Baginda Dahlan Abdoellah’ – menamatkan pendidikannya di Kweekschool (Sekolah Radja) Fort de Kock, kemudian melanjutkan pendidikannya ke Belanda. Di Kweekschool Fort de Kock, Dahlan Abdoellah kurang lebih seangkatan dengan Tan Malaka dan Sjarifah Nawawi (lihat: rubrik ‘Minang saisuak’, edisi Minggu, 27 Februari 2011). Selama berada di Belanda, Dahlan aktif dalam Perhimpoenan Hindia (Indische Vereeniging), organisasi pertama yang men
  • Minang Saisuak /
    10 Nov 2015

    Minang Saisuak #239 - Tewasnya Si Patai Maharajo Jambi

    Tewasnya Si Patai Maharajo Jambi: Hero Padangsche Ommelanden Akhir tahun 1926 sampai Januari 1927 Ranah Minangkabau bergolak: orang-orang kominis (ditulis demikian, bukan ‘komunis’) melakukan pemberontakan di mana-mana. Yang paling heroik di daerah Sijunjung dan sekitarnya, khususnya di Silungkang dan Sawahlunto. Itu adalah masa ketika rasa palak kepada Pemerintah Kolonial Belanda memuncak akibat kebijakan-kebijakan penjajah yang makin lama makin mencekik leher rakyat.             Sudah sejak awal 1920-an ideologi komunis mendapat sambutan hangat di Sumatera Barat yang bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah itu. Mulanya benih itu muncul di Padang Panjang, Serambi Mekah. Adalah Datuak Batuah dan kawan-kawan seangkat
  • Minang Saisuak /
    1 Nov 2015

    Minang Saisuak #238 - Emas Hitam di Perut Sawahlunto

    Dinding yang berpendar karena cahaya kamera yang sedang dipacul oleh pekerja dalam foto ini adalah batubara kualitas terbaik di Indonesia. Itulah ‘emas hitam’ di perut bumi Ombilin, Sawahlunto. Tujuh orang pekerja yang terlihat dalam foto ini berada di bawah tanah, dalam lorong yang gelap dan lembab tapi penuh dengan batubara. Sejarah telah mencatat bahwa adalah W.A. de Greve (meninggal dalam kecelakaan perahu di Sungai Kuantan pada 18 Oktober 1872) yang menemukan kandungan batubara di Sawahlunto. Geolog muda itu lahir di Frakener, Belanda, pada 15 April 1840. Dalam usia masih 19 tahun, ia telah meraih gelar insinyur pertambangan dari Akademi Delft pada 1859. Kemudian ia segera pergi ke Hindia Belanda untuk mengadu peruntungan. Pada 14 Desember 1861 ia ditunjuk oleh Pemerin
  • Minang Saisuak /
    27 Oct 2015

    Minang Saisuak #237 - Anugrah bintang untuk putra Koto Gadang M. Rasad

    Anugrah bintang untuk putra Koto Gadang M. Rasad Dt. Gunuang Ameh Dalam satu nomor rubrik ini, kami sudah menurunkan profil Moehammad Rasad gelar Maharadja Soetan, Hoofddjaksa Landraad di Medan. Beliau putra Koto Gadang. Kini kami turunkan pula secuplik cerita tentang putra Koto Gadang yang lain yang juga punya nama panggilan Moehamad Rasad. Beliau adalah Moehammad Rasad gelar Datoek Goenoeng Emas. Belum diketahui kapan persisnya Moehamad Rasad lahir. Tapi, besar kemungkinan ia juga bersekolah di Fort de Kock, seperti banyak anak-anak Koto Gadang yang hidup sezaman dengannya. Yang jelas, pada Januari 1893 Rasad sudah menjadi leerling di kantor tuan Controleur Alahan Panjang. Dalam bulan Juli 1899 ia diangkat jadi inlandsch schrijver di tempat yang sama. Moehammad Rasad kemudian dipromo
  • Minang Saisuak /
    23 Oct 2015

    Minang Saisuak #236 - Abdoel Moeis: Penentang Peraturan Pajak Kolonial

    Abdoel Moeis adalah nama yang tidak asing lagi bagi kita. Lahir di Sungai Puar, 3 Juli 1883, Moeis dikenal sebagai sastrawan, wartawan dan politikus. Ayah Moeis, Datoek Toemanggoeng Soetan Soelaiman, adalah laras Sungai Puar yang kritis kepada Belanda (lihat Minang saisuak, 6 Februari 2011). Sebagai sastrawan, Moeis menjadi kondang karena novelnya Salah Asoehan (1928) yang difilmkan Asrul Sani tahun 1972. Novel-novelnya yang lain adalah Pertemuan Jodoh (1933), Surapati (1950), dan Robert Anak Surapati (1953). Ia juga menerjemahkan beberapa novel asing ke dalam Bahasa Indonesia. Sebagai wartawan, Moeis berpengalaman bekerja sebagai anggota redaksi beberapa surat kabar, antara lain Bintang Hindia, Preanger Bode, dan Neratja. Sebagai politikus, kiprah Moeis di Sarekat Islam (SI) sudah dic
  • Minang Saisuak /
    8 Oct 2015

    Minang Saisuak #235 - Awaloeddin Latief (14/9/1924 - 23/2/2005)

    Rubrik ini memperkenalkan lagi seorang pahlawan kita kepada Generasi Samsung Galaxy. Beliau adalah Awaloeddin Latief, seorang putra Minangkabau yang bersama para pemuda nasionalis lainnya telah berjuang mengusir penjajah Belanda yang ingin menguasai Indonesia kembali di akhir 1940-an. Awaloeddin lahir di Kampung Bawah Balai, Sungai Tarab, Batusangkar, pada 14 September 1924. Ayahnya bernama Abdoel Latief Datuak Simaradjo, seorang pengusaha pertanian yang cukup berada, dan ibunya bernama Salamah (istri kedua dari empat istri ayahnya). Awaloeddin mengenyam pendidikan dasar di Batusangkar, Payakumbuh, dan Bukittinggi. Ketika berusia 24 tahun, saat Belanda melancarkan agresi ke-2 di Bukittinggi (dan daerah-daerah lainnya di Indonesia), demikian Soewardi Idris (2000:44), pemoeda Awaloeddin

Author

Recent Post

Recent Comments