Suryadi

  • Minang Saisuak /
    18 Sep 2015

    Minang Saisuak #234 - Sebuah rapat besar maago Soekarno di Padang 1958

    Rubrik Minang saisuak kali ini menurunkan satu foto kenangan tentang PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia). Mungkin sudah bayak sidang pembaca yang tahu sosok yang berdiri di tempat yang tinggi di depan itu. Dialah Kolonel Ahmad Husein, pencetus PRRI yang telah mengukir hari-hari berdarah dan derak-deram suara bedil bak merendang kacang di Ranah Minangkabau dari 1958 sampai 1961. Anak muda kelahiran Padang 1 April 1925 itu telah membuat urang awak, lama kemudian, manggaretek melihat setiap orang perbapakaian loreng dan bersepatu lars. Konteks sejarah foto ini adalah ketika Ahmad Husein menyerukan perlawanan menentang Jakarta (baca: Presiden Soekarno) di Padang. Rapat ini diadakan di halaman Gubernunar Padang pada bulan Maret 1958. Dalam apel besar itu Ahmad Husein menjela
  • Minang Saisuak /
    31 Aug 2015

    Minang Saisuak #233 - Moehammad Sjafei di Belanda (1924)

    Rubrik Minang saisuak edisi Minggu, 24 Mei 2015 sudah menurunkan profil Moehammad Sjafei, pendiri INS Kayu Tanam. Sekarang kami turunkan lagi satu potret beliau bersama teman-temannya asal Indonesia saat berada di Leiden, Belanda, tahun 1924, ketika Sjafei masih berada di ‘Tanah Dingin’ itu untuk menuntut ilmu di bidang prakarya. Potret ini jarang terlihat, karenanya mungkin bermanfaat kalau kami suguhkan kepada penyuka rubrik ini. M. Sjafei lahir di Ketapang, Kalimantan Barat, tahun 1894. Tentang riwayat pendidikannya, Pandji Poestaka, No.1, Tahoen II, 3 Januari 1924:3 menulis: “Toean Mohd. Sjafe’i moelai masoek sekolah Melajoe dalam tahoen 1904 di Adi (Atjeh). Tatkala itoe omoernja 10 tahoen. Pada pertengahan tahoen 1907, pindah kesekolah Melajoe d Pontianak.
  • Minang Saisuak /
    24 Aug 2015

    Minang Saisuak #232 - Moehammad Rasad gelar Maharadja Soetan

    Moehammad Rasad gelar Maharadja Soetan: Hoofddjaksa Landraad Medan Seperti sudah sering jadi buah mulut orang banyak, Koto Gadang adalah nagari yang melahirkan banyak tokoh penting dan orang pandai-pandai di zaman saisuak. Kali ini rubrik Minang saisuak akan menurunkan lagi biografi singkat salah seorang putra nagari di tubir Ngarai Sianok itu. Beliau adalah Moehammad Rasad gelar Maharadja Soetan: Hoofddjaksa Landraad di Medan. Moehammad Rasad “dilahirkan di Kota Gedang (Fort de Kock) pada 29 November 1866″, demikian kami kutip dari majalah Pandji Poestaka, No. 37, tahoen I, 13 September 1923:1-2 - sumber yang kami rujuk untuk tulisan ini. Beliau mendapatkan pendidikan sekuler di Fort de Kock, seperti kebanyakan anak-anak Koto Gadang di zamannya. Karier Moehammad Rasad da
  • Minang Saisuak /
    18 Aug 2015

    Minang Saisuak #231 - Sekolah Loeboeak Basoeng berulang tahun ke-50

    Rubrik Minang saisuak kali ini menurunkan foto yang khususnya ditujukan kepada pembaca Singgalang Minggu di Lubuak Basuang. Ini adalah kodak klasik tentang Sekolah Rakyat (De Nagari School) kelas 2 Lubuak Basuang yang diambil sempena hari perayaan usianya yang ke-50 pada tahun 1932. Dari keterangan foto ini kita beroleh informasi bahwa Sekolah Lubuak Basuang didirikan sekitar tahun 1882. Sekolah itu berdiri berkat usaha Si Médan gelar Toeankoe Kajo yang menjadi Tuangku Lareh (Larashoofd) Lubuak Basuang sejak tahun 1868 sampai 1908 (dia meletakkan jabatan itu karena pensiun). Dikatakan dalam sumber ini betapa pada masa awal sekolah ini didirikan ‘nafsoe anak Hindia kepada pengadjaran boléh dikatakan tidak ada; dan di Loeboek Basoeng nafsoe itoe tentoe tidak lebih b
  • Minang Saisuak /
    10 Aug 2015

    Minang Saisuak #230 - Orang Pendek

    Penduduk Sumatera pada umumnya mengenal cerita tentang orang pendek yang tinggal di pulau yang berhutan tropis lebat dan merimba raya ini. Ini puak yang berbeda dengan orang Kubu, Sakai, atau Talang Mamak (proto Melayu). Nama lokal yang diberikan kepadanya bermacam-macam: leco (ejaan lama: letjo), anak ote, dll. Di daerah Gunung Sago, Luhak 50 Kota, seorang teman menginformasikan bahwa nama yang diberikan kepada makhluk ini adalah anak ghoteh. Ada juga orang menyebut (si) bigau, tapi saya kurang pasti apakah ini makhluk dari jenis yang sama atau yang berbeda. Tentang leco (lihat dalam gambar di atas, betapa kecilnya dibanding manusia), sebagian penduduk lokal di Sumatera mengkategorikan orang pendek ini sejenis binatang. Koran Sinar Deli (c.1932) pernah memuat cerita tentang seorang la
  • Minang Saisuak /
    3 Aug 2015

    Minang Saisuak #229 - Pesta pengangkatan penghulu di Koto Nan Gadang

    Pesta pengangkatan penghulu di Koto Nan Gadang, Payakumbuh (c. 1924) Penghulu di Minangkabau adalah orang yang didahulukan selangkah, ditinggikan seranting. Mereka memegang tampuk adat di nagari masing-masing. Sudah jadi mamangan di Minangkabau bahwa ‘penghulu sakato kaum, raja sakato alam’. Mereka ada yang disebut penghulu pucuk, penghulu kaum, dan penghulu andiko. Rubrik Minang saisuak kali ini menurunkan kodak klasik cuplikan prosesi pengangkatan (penabalan) seorang penghulu di Nagari Koto Nan Gadang, Payakumbuh, Luhak 50 Koto. Peristiwa ini terjadi sekitar tahun 1924. Tidak disebutkan siapa nama penghulu yang sedang ditabalkan. Pengangkatan seorang penghulu mengikuti upacara yang telah digariskan oleh adat di nagari masing-masing. Ada perbedaan antara penghulu dari k
  • Minang Saisuak /
    27 Jul 2015

    Minang Saisuak #228 - Mesjid Rao Rao, Tanah Datar (c.1924)

    Menjelang Idul Fitri 1436 Hijriyah ini, rubrik Minang saisuak ingin menukilkan sedikit sejarah sebuah mesjid yang ada di darek: Mesjid Rao Rao di Kabupaten Tanah Datar. Mesjid masih berdiri megah sampai sekarang. Walau arsitektur kubah utama (kubah besar) dan kubah-kubah menaranya masih tetap dipertahankan seperti semula, karena uniknya, bagian lain dari mesjid itu mungkin sudah ada yang diubah. Tampilan baru Mesjid Rao Rao dapat dilihat di: https://id.wikipedia.org/wiki/Masjid_Rao_Rao#Sejarah. Kubah utamanya merupakan perpaduan corak Persia dan arsitektur Minangkabau. Foto klasik mesjid ini yang kami turunkan di sini tentu dapat menjadi perbandingan, khususnya bagi warga Rao Rao sendiri, untuk melihat sejauh mana secara keseluruhan arsitektur mesjid ini telah berubah dalam rentang w
  • Minang Saisuak /
    6 Jul 2015

    Minang Saisuak #227 - Kolonel Ahmad Husein (1925-1998)

    Lelaki ganteng ini, lebih-lebih lagi dalam seragam militernya, telah turut mengukir sejarah Minangkabau dan Republik Indonesia. Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang dicetuskannya bersama kawan-kawannya di tahun 1958 telah menimbulkan peristiwa berdarah dan perang saudara balambuik lapiak di Sumatera Barat. Sebagian orang mungkin memandang peristiwa PRRI sebagai refleksi penunjukan harga diri orang Minang, tapi sebagian lain mungkin beranggapan itu adalah penggalan hitam dalam sejarah Minangkabau. Kolonel Ahmad Husein, tokoh rubrik Minang saisuak kita kali ini, telah memainkan peran sentral dalam peristiwa PRRI. Riwayat hidup dan pandangan politiknya dapat dibaca dalam biografinya yang disusun dengan apik oleh Prof. Mestika Zed dan Hasril Chaniago, Perlawanan Seoran
  • Minang Saisuak /
    29 Jun 2015

    Minang Saisuak #226 - Mohamad Nazir Datoek Pamontjak

    Rubrik Minang saisuak kali ini menurunkan foto dan biografi singkat Mohamad Nazir Datoek Pamontjak. Beliau adalah salah seorang putra Minangkabau yang menjadi diplomat perintis, seperti halnya H. Agoes Salim, Zairin Zain, Bagindo Dahlan Abdoellah, dll. Mohamad Nazir Datoek Pamoentjak lahir di Salayo, Solok, pada 10 April 1897. Beliau masuk sekolah rendah di Sumatera Barat sebelum melanjutkan pendidikan ke HBS di Batavia. Selama bersekolah di ibukota Hindia Belanda itulah Nazir aktif dalam oraganisasi Jong Sumatranen Bond (JSB) yang didirikan pada 9 Desember 1917 di Batavia. Pada tahun 1918 Nazir datang ke Padang sebagai utusan JSB. Tujuannya untuk mendirikan cabang JSB di Padang dan mengajak anak-anak muda berhaluan nasionalis di kota itu untuk bergabung ke dalam organisasi ini. Wakt
  • Minang Saisuak /
    15 Jun 2015

    Minang Saisuak #225 - Abdoel Azis Soetan Kenaikan

    Tokoh Minang saisuak kita kali ini adalah seorang pantolan pendidik di Minangkabau di akhir Zaman Kolonial. Jasanya dikenang antara lain karena mendirikan Mohammedan Lyceum di Lubuk Sikaping. Tapi itu bukan sekolah agama, melainkan sekolah pertanian. Pada tahun 1925, ketika Parada Harahap mengunjungi sekolah yang belum lama berdiri itu, muridnya berjumlah 60 orang ‘yang datang dari Residentie Sumatra’s Westkust, Benkoelen, Palembang, Djambi, Atjeh, Tapanoeli dan Lampoeng serta Sumatra’s Oostkust’ (Harahap 1925:124). Di sekolah itu, yang lamanya 4 tahun, diajarkan ilmu pertanian dan peternakan. Selain itu diajarkan jug a ilmu agama Islam, Bahasa Arab, Bahasa Belanda, dan Bahasa Inggris. Tujuan sekolah itu adalah menciptakan lulusan yang agamis dan dapat berdikari

Author

Recent Post

Recent Comments