Suryadi

  • Minang Saisuak /
    25 Jul 2010

    Minang Saisuak #08 : Kunker Pejabat Kolonial

    KUNJUNGAN KERJA (KUNKER) petinggi pusat ke daerah rupanya sudah membudaya sejak zaman kolonial. Tradisi itu ditiru oleh para pemimpin Indonesia sampai sekarang. Malah ada yang baru lagi: studi banding. Bule tinggi yang terlihat dalam foto ini adalah Andries Cornelis Dirk de Graeff, Gubernur Jendral Hindia Belanda yang berkuasa antar 1926-1931. Pada tahun 1928 dia berkunjung ke Sumatras Westkust (Sumatra Barat). Dalam foto yang dibuat tahun 1928 ini, yang tercatat sebagai milik J. Stoutjesdijk, terlihat De Graeff sedang bercakap-cakap dengan seorang gadis yang berpakaian adat Minang, disaksikan oleh keluarganya. Hiasan kepala gadis itu cukup unik: sepertinya semacam sanggul yang khas. Satu gadis lainnya yang berbaju putih tampil dengan pakaian modern. Si gadis yang berpakaian adat tamp
  • Minang Saisuak /
    18 Jul 2010

    Minang Saisuak #07 : Mak Itam

    KERETA API adalah moda transportasi yang murah, cukup ramah lingkungan dan bersifat massal. Karena itulah banyak negara di dunia mengembangkan sistem perkeretaapian. Tapi di Indonesia justru sebaliknya: konon panjang jalan kereta api di negara kita ini sekarang lebih pendek dibanding zaman Belanda dulu. Di Minangkabau kereta api sudah diperkenalkan sejak akhir abad ke-19. Pada tahun 1891 Pemerintah Kolonial Belanda mulai membangun jalan kereta api dari Sawah Lunto ke Padang. Boleh dikatakan untuk wilayah pulau Sumatra, Sumatra Baratlah yang memiliki jalur jalan kereta api yang terbaik. Pemerintah kolonial Belanda kemudian membangun jalur jalan kereta yang menghubungkan kota-kota di darek dan di pantai, sejauh Naras di utara Pariaman dan Payakumbuh di luhak 50 Koto. Kali ini kami s
  • Minang Saisuak /
    11 Jul 2010

    Minang Saisuak #06 : Sabuang Ayam

    TRADISI SABUANG AYAM boleh dibilang sudah hapus di Minangkabau. Adalah Kaum Padri pada paroh pertama abad ke-19 yang melarang kebiasaan adu jago pakai taji ini, sebab identik dengan judi dan menyiksa binatang. Pelakunya dianggap berdosa dan kalau mati akan masuk neraka. Namun demikian, lama kemudian tradisi sabung ayam masih ditemukan di Minangkabau. Oerang Polici [di Padang yang bernama si Rehim] bersama dengan 4 temannja soedah menangkap 12 oerang jang asig menjaboeng ajam di Belantoeng, di belakang roemah kornel kepala bala tantra di Pasisir Pertja Barat. Si Rehim terdjatoeh, dan ajam jang di bawag nya meranggoet ranggoet tadji, se hingga oerang itoe loeka tangannja. Sampeij se karang loeka itoe beloem baig, demikian laporan koran Bentara Melajoe, Thn I, Selasa, 12 Juni 1877. Foto
  • Minang Saisuak /
    4 Jul 2010

    Minang Saisuak #05 : Pasar Payakumbuh

    PASAR PAYAKUMBUH ternyata sudah cukup tua juga umurnya. Paling tidak sebelum pertengahan abad ke-19 sudah ada hari pakan yang menjadi cikal-bakal kota Payakumbuh sekarang. Demikian catatan beberapa orang Eropa yang pernah mengunjungi Luhak 50 Koto pada abad ke-19, misalnya Solomon Mller dan Lodewijk Horner dalam bukunya Reizen en en Onderzoekingen in Sumatra [] tussen de Jaren 1833 en 1838 (Perjalanan dan Penelitian di Sumatra [...] antara tahun 1833-1838) (s -Gravenhage: Fuhri, 1855). Foto yang kami sajikan kali ini memperlihatkan suasana pasar Payakumbuh kurang dari 100 tahun yang lalu. Foto ini tercatat milik W.K.H. Ypes dan dibuat sekitar 1920. Di pasar itu baru ada sejenis los sederhana beratap rumbia, dan lapak-lapak tempat jualan seperti kasur. Di latar belakang terlihat ora
  • Minang Saisuak /
    27 Jun 2010

    Minang Saisuak #04 : Balai Kota Padang

    BALAI KOTA PADANG dirancang oleh arsitek Belanda Thomas Karsten. Orang ini pernah merencanakan membangun kota-kota air di Kalimantan layaknya Amsterdam dan kota-kota Belanda lainnya, tapi rencana itu tidak kesampaian karena Indonesia keburu merdeka. Gambar ini adalah foto Balai kota Padang yang diambil tahun 1948. Rupanya cukup lama bangunan ini bertahan dengan bentuk aslinya. Dalam foto ini terlihat bahwa di sekitar Balai Kota Padang pada waktu itu masih belum banyak berdiri bangunan-bangunan lainnya. Sekarang bentuk fisik bangunan ini sudah banyak berubah, yang diakibatkan oleh amnesia sejarah dan euphoria kita yang tidak berkeruncingan terhadap zaman kemajoean dan modernisasi. Syukurlah bahwa jalan lebar di depannya (sekarang: Jl. Imam Bonjol), dimana dulu pedati-pedati sarat muata
  • Minang Saisuak /
    20 Jun 2010

    Minang Saisuak #03 : Malewakan Datuak

    WALEWAKAN GELAR DATUAK di Minangkabau pada zaman kolonial harus mengundang pejabat kolonial setempat, seperti komandan militer atau tuan kontrolir (controleur) dan orang-orang penting lainnya. Dalam catatannya ketika bertugas di Pariaman, komandan Militer Belanda, J.C. Boelhouwer (1841) mengatakan bahwa ia juga diundang menghadiri perhelatan seorang datuak di Pakandangan. Dia disuruh pula makan sirih dan mencoba makan dengan tangan. Foto ini dibuat sekitar 1910 di kanagarian Cimpago, Padang Pariaman. Tampaknya datuak yang dilewakan gelarnya adalah yang duduk di tengah di bawah payung kebesaran dengan pakaian kebesarannya pula. Di sebelah kanannya duduk seorang Belanda dengan pakaian resminya, lengkap dengan dasinya, yang sangat mungkin adalah pejabat kolonial setempat. Sedangkan yang
  • Minang Saisuak /
    14 Jun 2010

    Minang Saisuak #02 : Bus Umum

    BUS UMUM adalah moda transportasi yang penting sejak dulu, apalagi bagi orang Minangkabau yang suka merantau. Kita tentu masih ingat kalason oto Gumarang yang mendayu-dayu di tahun 70-an, seolah ucapan selamat tinggal dari para lelaki Minang yang bertolak ke rantau kepada sanak famili dan kekasihnya yang ditinggalkan di ranah bundo. Dapat bepergian dengan bus pada masa dulu, seperti dapat dikesan dalam foto ini, sangat membanggakan hati, sama seperti naik Alfa Romeo, Rolls-Royce atau Limousine sekarang. Kendaraan auto pertama kali diperkenalkan di Indonesia sekitar 1898 (De Locomotief, 17/6/1898). Foto koleksi F.H.J. Bal ini merekam bus umum trayek Padang Panjang Batu Sangkar (Fort van der Capellen) sekitar 1935. Plat nomornya masih BB tuh. Rupanya dulu para penumpang bus tampil a
  • Minang Saisuak /
    11 Jun 2010

    Minang Saisuak #01 : Randai

    RANDAI adalah salah satu seni pertunjukan Minangkabau yang terkenal. Para peneliti Barat menyebutnya folk theatre atau open-air-theatre of Minangkabau. Menurut A.A. Navis (1984:276) Randai yang terlihat seperti sekarang, dengan penampilan unsur lakon, lahir semenjak siswa Sekolah Raja (Kweekschool) di Bukittinggi pada tahun 1924 mengangkat certa Cindur Mata ke pentas sandiwara dengan menggunakan bahasa Minangbau. (lihat juga Taufik Abdullah 1970). Foto ini, yang dibuat C. Nieuwenhuis, merekam bentuk randai yang lebih sederhana: tampaknya hanya terdiri dari tarian perkelahian (vechtkunst) dan musik, dengan penampil semuanya laki-laki. Pertunjukan ini diadakan di Padang Panjang pada tahun 1890, diadakan di depan sebuah gedung pemerintah kolonial (soalnya kelihatan bendera Belanda ber

Author

Recent Post

Recent Comments