Suryadi

  • Minang Saisuak /
    8 Jun 2015

    Minang Saisuak #224 - Konferensi Schoolopzieners di Fort de Kock

    Sejarah pendidikan sekuler di Indonesia dimulai dari paroh kedua abad ke-19. Mungkin pada masa yang sedikit lebih awal ada beberapa sekolah yang diusahakan oleh misi-misi misionaris. Walau sudah berusia cukup panjang, tapi belum banyak studi historis yang mendalam tentang sejarah pendidikan sekuler di Indonesia. Salah satu disertasi di Leiden University, ‘The breach in the dike: regime change and the standardization of public primary-school teacher training in Indonesia (1893-1969)’ (2012) oleh Agus Suwignyo, dosen UGM, khusus memfokuskan perhatian pada Sekolah Pendidikan Guru sejak zaman kolonial sampai akhir 1960-an. Sedangkan disertasi Elzabeth E. Graves ‘The ever-victorious buffalo: how the Minangkabau of Indonesia solved their colonial question’ (University
  • Minang Saisuak /
    25 May 2015

    Minang Saisuak #224 - Mohammad Sjafei (1893 - 1968)

    Rubrik Minang saisuak kali ini menurunkan foto M[uhammad] Sjafei, pendiri Indonesische Nederland School (INS) Kayu Tanam yang masih eksis sampai sekarang. Foto yang kami turunkan kali ini belum sering dipublikasikan, yang mungkin dibuat setelah beliau pulang dari Negeri Belanda tahun 1925. Seperti telah dicatat dalam beberapa publikasi, M. Sjafei lahir di Ketapang, Kalimantan Barat, tahun 1893 (sebagian sumber menyebut tahun 1896). Ia adalah anak angkat dari intelektual Minangkabau Ibrahim Marah Soetan (lihat: rubrik ini di Singgalang, 19-10-2014). Mereka bertemu ketika Marah Soetan bertugas di Pontianak. Sjafei kemudian dikirim ke Sumatera Barat tahun 1908 untuk disekolahkan di Kweekschool (Sekolah Raja) di Fort de Kock (Bukittinggi). Anak muda ini menunjukkan minat yang tinggi pada s
  • Minang Saisuak /
    18 May 2015

    Minang Saisuak #223 - Para Petinggi PRRI di Padang (1958)

    Peristiwa itu telah lama berlalu, sudah lebih dari 50 tahun. Sudah banyak pula risalah historis yang ditulis orang tentangnya, seperti buku Audrey Kahin, Rebellion to integration: West Sumantra and the Indonesian polity, 1926-1998 (1999) dan Mestika Zed dan Hasril Chaniago, Ahmad Husein: Perlawanan seorang pejuang (2001). Itulah peristiwa PRRI (1958-1961), yang telah menaburkan pilu dan darah di Ranah Minang. Yang tersisa dari peristiwa itu hanyalah keperihan yang mendalam. Di tataran rakyat berderai, kata ‘tantara pusek‘ dengan segala kenangan tentang kekejamannya, tetap tinggal membenam dalam memori kolektif sukubangsa Minangkabau. Dalam wacana akademis, para sarjana masih berdebat tentang apakah PRRI adalah aksi makar atau koreksi terhadap Pemerintahan Pusat (Sukarno)? R
  • Minang Saisuak /
    11 May 2015

    Minang Saisuak #222 - Peresmian Universitas Andalas

    Rubrik Minang saisuak kali ini menurunkan foto klasik yang mengabadikan peresmian Universitas Andalas oleh Wakil Presiden Indonesia pertama Drs. Muhammad Hatta. Peresemian ini dilakukan di kampus Fakultas Kedokteran dan Fakultas Ilmu Pasti dan Pengetahuan Alam UNAND di Bukittinggi pada tanggal 13 September 1956 di kampusnya yang pertama di Bukittinggi. Fakultas Kedokteran di Bukittinggi adalah salah satu dari lima fakultas pertama UNAND yang pada waktu itu kampusnya berserak di beberapa kota di Sumatera Barat. Selain Fakultas Ilmu Pasti dan Pengetahuan Alam yang juga berkampus di Bukittinggi, tiga fakulatas pertama lainnya adalah: Fakultas Hukum yang berkampus di Padang, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan yang berkampus di Batusangkar, dan Fakultas Pertanian yang berkampus di Payaku
  • Minang Saisuak /
    4 May 2015

    Minang Saisuak #221 - Anugerah bintang di Padang

    Foto-foto lama adalah sumber sejarah yang tak ternilai. Walaupun visual history masih belum berkembang, banyak sejarawan menyadari bahwa dokumen-dokumen visual di masa lampau dapat memberikan banyak penjelasan tentang sejarah sebuah wilayah, khususnya dalam kaitannya dengan kolonialisme. Rubrik Minang saisuak kali ini menurunkan sebuah foto klasik yang mungkin dapat becerita banyak tentang sistem birokrasi kolonialisme di masa lampau. Melalui cerita tentang foto ini kita bisa memahami bagaimana orang pribumi diposisikan dalam sistem administrasi rezim-rezim kolonial dalam konteks masa lampau Indonesia. Tentu saja, kita juga dapat memperoleh kesan tentang hirarki sosial dan hubungan sosial antara individu, etnis, dan ras. Konteks foto di atas adalah penyerahan tanda jasa di gedung Landr
  • Minang Saisuak /
    27 Apr 2015

    Minang Saisuak #220 - Tiong Hoa Hwe Koan - Padang

    Kali ini Minang saisuak menurunkan lagi cuplikan kisah orang Tionghoa di Padang. Sebagaimana sudah kita ketahui bersama, Padang adalah salah satu kota yang tertua di pantai Barat Sumatera. Penduduknya beragam, mencakup etnis pribumi dan bangsa-bangsa pendatang, antara lain orang Tionghoa. (Lihat buku Erniwati, Asap hio di Ranah Minang: Komunitas Tionghoa di Sumatra Barat. Yogyakarta: Penerbit Ombak dan Yayasan Nabil, 2007). Didirikan di Batavia tahun 1900, perkumpulan Tiong Hoa Hwe Koan bertujuan untuk menyatukan para perantau Tionghoa yang ada di Hindia Belanda dan menyediakan pengajaran (onderwijs) untuk anak-cucu mereka. Untuk tujuan yang terakhir (pendidikan) ini, pada 1901 dirikan seksi khusus yang diberi nama Tiong Hoa Hak Tong, yang kemudian dipakai sebagai pengganti nama Tiong
  • Minang Saisuak /
    20 Apr 2015

    Minang Saisuak #219 - Upacara Balimau di Kinari, Solok

    Balimau adalah salah satu tradisi masyarakat Minangkabau. Mungkin tradisi ini merupakan percampuran (sincretism) antara Islam dengan kepercayaan-kepercayaan lokal atau unsur-unsur agama yang sudah ada di Sumatera sebelum Islam tersebar di tanah Andalas ini. Yang jelas, upacara balimau menjelang masuknya bulan Puasa tetap dipraktekkan oleh masyarakat Minangkabau hingga sekarang. Tapi orang sekarang cenderung mengasosiasikan upacara balimau dengan mandi bersama di sungai. Padahal dulu ada beberapa variasi upacara balimau itu. Salah satunya adalah yang menjadi tradisi orang Kinari di masa lalu, sebagaimana direkam dalam kodak klasik yang dibuat sekitar tahun 1929 ini. Disebutkan bahwa sampai masa itu, di Kinari tiap-tiap tahun, pada sore hari terakhir sebelum masuk bulan Ramadan, mulai s
  • Minang Saisuak /
    13 Apr 2015

    Minang Saisuak #218 - M. Rasjid Manggis Dt. Radjo Panghulu

    Penulis prolifik Hasril Chaniago mengirimi saya kisah hidup tokoh yang kita apungkan dalam rubrik Minang saisuak kali ini: M. Rasjid Manggis Dt. Radjo Panghulu. Hasril mengatakan bahwa Rasjid adalah salah seorang jasawan pejuang Bukittinggi yang pantas diberi penghargaan. Kiranya hal itu sudah pada tempatnya, jika kita melihat kiprah Rasjid Manggis semasa hidupnya. Muhammad Rasjid Manggis dilahirkan di Kampung Manggis, Kurai, Bukittinggi tahun 1901. Di masa kanak-kanak, ia adalah teman sepermainan Mohammad Hatta. (Hatta lahir di Aur Tajungkang tahun 1902). Mula-mula Rasjid masuk HIS, kemudian lanjut ke Kweekschool Fort de Kock. Sementara Hatta masuk MULO di Padang. “Seperti halnya Hatta”, demikian Hasril, “Rasjid Manggis juga mengisi usia mudanya dengan belajar, menim
  • Minang Saisuak /
    6 Apr 2015

    Minang Saisuak #217 - Taher Marah Soetan (1890-1953)

    Taher Marah Soetan (1890-1953): Goodfather-nya Kaoem Pergerakan “Tokoh yang satu ini bolehlah disebut sebagai goodfather-nya kaum pergerakan di Padang pada awal Abad ke-20″, tulis Hasril Chaniago dalam bukunya 101 Orang Minang di Pentas Sejarah (Padang: Citra Budaya, 2010:493). Sebagaimana dicatat oleh Hasril (hlm. 493-497), kisah hidup Taher, ayah mantan menteri agama Tamizi Taher ini, penuh dengan dedikasi dan usaha untuk mencerdaskan kehidupan bangsanya, yang mayoritas tetap menjadi warga kelas paling bawah dalam susunan masyarakat kolonial di Hindia Belanda. Taher lahir di Padang Panjang tahun 1890 dari pasangan Syekh “Babulu Lidah”, seorang ulama Naqsyabanbdiyah di Tanah Datar, dan Saridah yang berasal dari Pariaman, tapi sudah lama menetap di Padang Pa
  • Minang Saisuak /
    30 Mar 2015

    Minang Saisuak #216 - Tuanku Sultan Syair Alam Syah (1929)

    Kepada Distrik Kelas I Lubuk Sikaping: Tuanku Sultan Syair Alam Syah (1929) Lubuk Sikaping menjadi penting dalam peta politik dan ekonomi Hindia Belanda di Sumatera Barat setelah Bonjol, pusat gerakan Paderi, ditaklukkan Belanda pada 1837. Tiga tahun setelah Bonjol takluk, wilayah Sumatera Barat bagian utara dimekarkan lagi menjadi beberapa distrik untuk mengontrol daerah-daerah baru baru diambil alih oleh Belanda dari kaum Paderi. Maka dibentuklah distrik-distrik baru yaitu Priaman, Tikoe en de Danau Districten. Pada masa-masa sesudahnya daerah Lubuk Sikaping dan sekitarnya dijadikan pula menjadi satu ditrik. Kepala distriknya berkedudukan di Lubuk Sikaping. Rubrik Minang saisuak kali ini menurunkan foto ‘DISTRICTHOOFD 1e KL. LOEBOEKSIKAPING’ (Kepala Distrik Kelas 1 Lub

Author

Recent Post

Recent Comments