Suryadi

  • Renung /
    10 Dec 2015

    Renung #56 | Dekker, akhirat, koruptor

    Mungkin banyak orang mengira bahwa Barat tak begitu peduli pada kepercayaan tentang adanya hidup sesudah mati. Sejak munculnya Zaman Pencerahan,‘Tanah Dingin’ Eropa itu makin hari semakin dipenuhi oleh para ateis dan mereka yang cenderung bersicepat untuk menikmati hidup yang singkat di dunia ini. Filsafat hidup mereka didominasi oleh pandangan: selama nyawa masih di badan, bekerja keraslah dan nikmati hasil kerja keras Anda itu sebelum Anda mati menjadi tanah. Sebab setelah kematian, tak ada apa-apa lagi. Itulah prinsip hidup yang memunculkan filsafat eksistensialisme dan materialisme, yang di ujungnya melahirkan anak haram kapitalisme. Gelora semangat duniawi itulah yang membuat orang Eropa tahan berlayar berbulan-bulan menuju sudut dunia manapun (sebagian mati di jalan), m
  • Renung /
    24 Nov 2015

    Renung #55 | Perut

    “Apabila perut terlalu penuh, Keluarlah fiil yang tiada senonoh.” (Raja Ali Haji, Gurindam Dua Belas, Pasal III, bait 5) Perut adalah bagian tubuh manusia yang paling nyata tampak perubahannya. Perubahan itu tak mungkin dapat disembunyikan, walau dalam baju longgar bergaya Hadramaut sekalipun. Mungkin usia rata-rata manusia Indonesia tak lebih dari 70 tahun, dan memasuki usia setengahnya, malah sering lebih awal, perubahan perut sudah terlihat nyata: membuncit dan melebar ke kiri-kanan…tanpa dapat dikendalikan. Walau banyak orang, terutama kaum hawa, gundah dengan perubahan pada bagian tengah tubuh ini, tak sedikit pula yang acap tak sadar akan perubahan itu dan menganggapnya sebagai sesuatu yang lumrah dan biasa saja. Mungkin ada baiknya jika sesekali Anda, terutama
  • Renung /
    1 May 2015

    Renung #54 | Mengkhianati Si Pemberi Roti

    ‘Tiba-tiba kata blusukan menghilang’, demikian tulis teman saya, Dr. Rina Marnita, di laman Facebooknya. Ibarat saudagar besar yang jatuh bangkrut, pelan tapi pasti, kata blusukan, yang menyimbolkan kedekatan orang berkuasa/berstatus sosoal tinggi dengan rakyat/kawula, mulai dilupakan orang. Kata itu, yang begitu ’sakti’ selama masa-masa kampanye Pemilu Indonesia 2014, kini mengerut seperti karet terbakar. Menghilangnya kata blusukan akhir-akhir ini tentu terkait erat dengan dinamika politik tanah air. Presiden Joko Widodo menghadapi berbagai tantangan untuk mewujudkan janji-janji kampanyenya. Sebagian tantangan itu muncul dari partai yang mengusungnya ke kursi kepresidenan: PDI Perjuangan. Akan tetapi sebagian lainnya lebih disebabkan oleh karakternya yang kurang
  • Renung /
    23 Feb 2015

    Renung #53 | Bahagia

    Di zaman ini orang suka menakar kebahagiaan. Mungkin ini refleksi dari kecintaan manusia modern, yang makin materialis, kepada hal-hal yang duniawi. Ada institusi yang mengaku mampu mengukur kebahagiaan penduduk negara-negara di dunia ini. Dan baru saja beberapa minggu lalu beredar pula berita di media cetak dan elektronik bahwa tingkat kebahagiaan makhluk-makhluk yang bernama manusia di setiap provinsi di Indonesia juga sudah diukur. Para peneliti menetapkan parameter tertentu untuk mengukur tingkat kebahagiaan suatu bangsa, suatu etnis, atau sekelompok manusia. Tentang indikator-indikator apa saja yang dipakai, tentu kita dapat mencarinya di internet. Dalam sebuah situs di dunia maya saya baca bahwa kriterianya antara lain adalah jika sudah tercukupinya kebutuhan primer, seperti sand
  • Renung /
    16 Feb 2015

    Renung #52 | Daena

    Dia adalah seorang gadis Koto Gadang. Daena namanya, yang terpancur ke dunia di awal abad 20, di ‘zaman pantjaroba’. Ketika itu Nagari Koto Gadang sudah menjadi sebuah kampung yang maju akibat keterbukaan penduduknya dalam menerima pendidikan sekuler ala Eropa. St. Perang Boestami dalam Pandji Poestaka no. 32, Th I, 9 Agustus 1912:1-2 menulis (ejaan disesuaikan): “Kampung yang mula-mula maju di Sumatera Barat ialah kampung Koto Gadang. Sebab itu dimana saja di Kepulauan Hindia ini adalah tersua orang Koto Gadang atau [ke]turunan Koto Gadang [yang] memegang rupa-rupa pekerjaan Gubernemen dan pekerjaan partikulir. Anak Koto Gadanglah yang sebanyak-banyaknya menjadi dokter, di antaranya ada yang bergelar Dr”. Tapi ada yang agak ganjil di nagari yang paling maju tid
  • Renung /
    9 Feb 2015

    Renung #51 | Dikutuksumpahi adat, dikibuli modernitas

    Apa guna adat di zaman ini? Kita sering mendengar kalimat sinis seperti itu keluar dari mulut orang-orang yang menyembah London dan New York, Mekah, dan Madinah - mereka yang menganggap dirinya lahir dari rahim modernitas atau para pengapling sorga. Dalam setiap zaman, orang-orang seperti itu datang silih berganti. Mereka memandang adat negerinya sebagai penghalang kemajuan. Orang-orang seperti itu ada dimana-mana, juga di Minangkabau. Dan kronik Minangkabau adalah kisah panjang persitegangan antara mereka yang mencintai adat dan yang ingin membuangnya. Namun, sejarah mencatat, mereka yang ingin mengenyahkan adat itu selalu jatuh menjadi pecundang. Di tahun 1925, setelah mengunjungi Sumatra Barat, Parada Harahap, wartawan prolifik kelahiran Tapanuli itu menulis: “Saja rasa tid
  • Renung /
    2 Feb 2015

    Renung #50 | Jokowi: A New Hopeless

    Sangkarut politik Indonesia tampaknya makin rumit. Gonjang ganjing dan sikut-sikutan di antar institusi pemerintah kian tak berkeruncingan. Para politikus elit di Jakarta makin tidak merasa malu memberi contoh jelek kepada seluruh rakyat Indonesia. Mereka berkelahi lagi seperti anak kecil memperebutkan mainan. Untuk kesekian kalinya terjadi gesekan antara KPK dan Kepolisian. Dua lembaga pemerintah yang mestinya saling bahu-membahu menegakkan hukum dan keadilan di negeri ini justru malah terlibat konflik dan saling gontok-gontokan. Melalui media sosial kita melihat kritik dan cibiran publik yang makin terang-terangan kepada pemerintahan Presiden Jokowi yang lemah dan terkesan sangat kurang berwibawa. Dengan alasan yang terkesan dibuat-buat (’orang bodoh jua tahu’, kata petea
  • Renung /
    26 Jan 2015

    Renung #49 | Anda

    Sebuah tulisan oleh Idham Hamdani muncul di laman Facebook seorang teman. Judulnya: ‘Disapa “Anda” malah tersinggung’ (http://goo.gl/oq3U3N). Tulisan itu memaparkan kekeliruan pemakaian kata ganti diri ‘Anda’ oleh seorang guru yang berbicara dengan para orang tua murid di sebuah sekolah. Menurut para orang tua murid itu, kata ‘Anda’ yang dipakai oleh si guru ketika berbicara dengan mereka menimbulkan kesan formal dan tidak menghadirkan suasana akrab. Kata ‘Anda’ dianggap juga memberi kesan bahwa si pembicara sombong dan memandang rendah lawan bicaranya. Saya sependapat dengan para orang tua murid itu. Bila seseorang memanggil ‘Anda’ kepada saya ketika berbincang-bincang, saya langsung merasa terganggu. Saya digiring
  • Renung /
    19 Jan 2015

    Renung #48 | Batas Satir

    Kasus penembakan terhadap wartawan dan kartunis koran Charlie Hebdo di Paris minggu lalu, membuat kita bertanya: sampai di manakah sesungguhnya batas satir? Berita yang kita dengar adalah bahwa dua penembak meneriakkan ‘Allahu akbar’ sebelum memuntahkan peluru dari kalashnikov mereka. Kemudian opini banyak orang di dunia, dari yang paling pintar sampai yang paling bodoh, digiring ke arah isu terorisme yang, langsung atau tidak, menyudutkan umat Islam. Media Barat secara tangkas langsung melahap kejadian itu dengan menambah asam garam dan bumbu-bumbu dalam pemberitaannya: bahwa pembunuhan itu terkait dengan karikatur Charlie Hebdo yang melecehkan Nabi Muhammad yang sangat menyinggung perasaan umat Islam. Maka bergembiralah para petualang politik Eropa abad 21 yang menggunakan s
  • Renung /
    12 Jan 2015

    Renung #47 | 2015

    Tak terasa, hari ini sudah sebelas hari pula tahun 2015 kita lalui. Rasanya baru kemarin malam bunyi petasan dan semarak kembang api masih tampak-tampak di ruang mata. Sampah-sampah hasil produksi malam pergantian tahun masih basah oleh hujan semalam dan masih berserakan di taman-taman dan jalan-jalan kota. Makin lama waktu makin cepat bergulir, dan terasa kian singkat. Inilah hakikat lain dari modernitas yang sering tidak disadari manusia: waktu yang semakin mengerut, seperti plastik terkena api. Manusia modern merasa makin tangkas mengejar waktu, tapi waktu makin cepat meninggalkan mereka. Makin modern manusia, mereka dan waktu makin seperti bayang-bayang di sore hari. Jarak ujung kaki dan ujung kepala dalam bayangan makin memanjang dan makin sulit dijangkau. Seperti tahun-tahun sebe

Author

Recent Post

Recent Comments