Suryadi

  • Renung /
    5 Jan 2015

    Renung #46 | Akik

    “Batuan kalsedon (SiO2) yang tersusun berlapis-lapis dan berbagai warna, biasanya perhiasan”, demikian penjelasan sederhana mengenai kata akik dalam sebuah edisi Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Tapi jelas bahwa batu akik tidak sekedar punya makna sesederhana itu. Budaya batu akik adalah bagian dari kultur perhiasan orang Indonesia, khususnya Minangkabau, yang terkait dengan berbagai hal. Demikianlah umpamanya, batu akik tidak bisa dilepaskan dari budaya maskulinitas. Batu akik yang terdiri dari berbagai warna dan beragam nama, baik yang diikat dengan emas maupun perak atau suasa, sering bertengger di jari manis dan/atau jari tengah kaum lelaki. Malah ada lelaki yang memasang cincin akik di seluruh jari tangannya, dengan berbagai ukuran, yang kadang-kadang kelewat besar
  • Renung /
    29 Dec 2014

    Renung #45 | Sumpah

    Sumpah mungkin sudah menjadi menu keseharian umat manusia. Mungkin tidak ada orang yang belum pernah bersumpah dalam hidupnya, paling tidak bersumpah dalam hati - semacam tekad kuat - untuk melakukan sesuatu. Pada hakekatnya sumpah adalah suatu peringatan terhadap diri seseorang yang mengandung ancaman. Praktek dan tujuannya bermacam-ragam, dan sangat terkait dengan agama dan budaya tempatan. Ini terefleksi dalam berbagai macam sumpah yang dikenal dalam budaya Indonesia: sejak sumpah serapah sampai sumpah pocong, sejak sumpah mati berdiri sampai ‘sumpah dimakan biso kawi’. Di kalangan kaum Muslim Indonesia dikenal sumpah dengan menggunakan Al-Qur’an, tidak terkecuali dalam masyarakat Minangkabau, sebagaimana dideskripsikan oleh G.W.W.C. van Hovell dalam artikelnya 
  • Renung /
    22 Dec 2014

    Renung #44 | Tentara

    Jika singgah di rumah-rumah makan Minang (lebih dikenal dengan istilah ‘rumah makan Padang’), kita sering melihat gambar tentara tersangkut di dindingnya. Jika ditinjau secara semiotik, setidaknya mungkin ada dua gagasan di balik fenomena ini: Pertama, orang Minang yang pernah dijarah dan dirajah oleh tentara pusek di Zaman PRRI (1958-1961) menyimpan memori kolektif bahwa menjadi tentara adalah salah satu jalan untuk berkuasa dan menguasai supaya tidak menjadi ‘gulai cancang’ dalam sebuah negara yang sering gaduh. Kedua, politik otoriter Orde Baru yang represif di bawah dekingan kaum militer telah meninggalkan kesadaran internal dalam diri para pengusaha rumah makan Padang bahwa hanya dengan menggandeng orang berbedil dan bersepatu larslah maka keamanan bisnis mere
  • Renung /
    15 Dec 2014

    Renung #43 | Rumah Ibadah

    Dalam Islam terdapat cerita bahwa Nabi Ibrahim disuruh Allah SWT mendirikan Kabah: bangunan sederhana persegi empat. Mungkin itu representasi dari kebersahajaan Tuhan, yang tidak suka meminta hal-hal yang mewah dari hambaNya. Lama kemudian baru muncul Masjidil Haram yang mengelilingi Kabah, yang pada mulanya juga berbentuk sederhana, tapi kini makin menunjukkan gairah duniawi karena dilengkapi dengan hotel-hotel menjulang tinggi bertarif ratusan dollar semalam yang menawarkan kenyamanan yang memanjakan tubuh. Agustus lalu seorang pengembara mewartakan kunjungannya ke gereja tempat bermastautinnya Tahta Suci Vatikan. ‘Betapa luas dan megahnya Tahta Suci itu, berukir bamego-mego penuh kemewahan’, kata pengembara itu. Si pengembara naik ke puncak kubahnya melalui ratusan tangga
  • Renung /
    8 Dec 2014

    Renung #42 | Gelar

    ‘Ketek banamo, gadang bagala’ (kecil bernama, besar bergelar), kata sebuah ungkapan Minangkabau. Ungkapan itu itu mengilatkan bahwa setiap orang, dalam konteks ini laki-laki Minangkabau, punya gelar (gala). Gelar yang diletakkan di depan nama seorang laki-laki Minang pasti diturunkan dari ayahnya. Gelar yang ditaruh di belakang namanya diperoleh dari mamak sebagai sako dari kaumnya. Tapi apakah sebenarnya hakikat gelar? Mungkin tidak berlebihan jika dikatakan bahwa gelar merupakan salah satu refleksi kegilaan makhluk Tuhan yang disebut manusia. Mereka menciptakannya untuk memperjelas perbedaan derajat dan status di antara mereka sendiri, padahal semuanya tercipta tidak lebih dari setitik air yang hina yang kemudian menggumpal menjadi darah, daging, dan beberapa kerat tulang,
  • Renung /
    1 Dec 2014

    Renung #41 | BBM

    BBM (bahan bakar minyak) naik lagi harganya. Naiknya makin menjadi-jadi sejak Rezim Soeharto jatuh di tahun 1998. Lebih dahsyat dan lebih berani dari presiden-presiden sebelumnya, Presiden Indonesia yang baru, Jokowi, segera menaikkan harga BBM hanya kurang sebulan setelah beliau naik ke tampuk kekuasaan. Sekarang harga satu liter bensin Rp. 8.500. Muncul berbagai pertanyaan dalam masyarakat. Ketika harga minyak dunia turun, harga BBM di Indonesia kok malah dinaikkan oleh pemerintah? Muncul pula suara: Presiden Jokowi telah mengkhianati pemilihnya yang kebanyakan wong cilik, yang langsung merasakan dampak kenaikan harga BBM hasil keputusan sang presiden pilihan mereka dalam pemilu lalu. Ada juga yang berpendapat, tanpa dinaikkan, dengan patokan harga semula, pemerintah sebenarnya sud
  • Renung /
    24 Nov 2014

    Renung #40 | Mahasiswa

    Mahasiswa adalah pelajar yang super, siswa yang ‘maha’ dan amat fadil derajatnya. Ini sesuai pula dengan arti kata maha dalam bahasa Minangkabau: sesuatu yang mahal harga atau nilainya. Mahasiswa adalah anggota masyarakat pilihan yang statusnya mungkin ditinggikan beberapa ranting dan didahulukan beberapa langkah, melebihi status datuk-datuk yang hanya didahulukan selangkah ditinggikan seranting. Sebagai anak didik yang super, mahasiswa (S1, S2 dan S3) di setiap negara memiliki status istimewa, sesuai dengan keadaan di negara masing-masing. Di Negeri Belanda, misalnya, mahasiswa tidak dikenakan biaya dalam menggunakan sarana transportasi publik, yang untuk anggota masyarakat lainnya justru semakin hari dibikin semakin mahal oleh perusahaan-perusahaan swasta yang diserahi ole
  • Renung /
    17 Nov 2014

    Renung #39 | Pakaian

    Pakaian adalah salah satu indikator tingkat keberadaban dan keadaban manusia. Tentu kita ingat istilah ‘bangsa yang masih telanjang’ yang merujuk kepada kelompok manusia yang masih hidup dalam zaman batu. Pakaian juga merupakan lambang penting yang melaluinya orang merefleksikan identitas kelompoknya. Demikianlah umpamanya, di Indonesia yang terdiri dari berbagai puak, budaya, dan agama, pakaian juga merupakan produk budaya material yang menjadi penanda etnisitas yang jelas. Dalam konteks negara-bangsa (nation-state), pakaian melambangkan identitas nasional. Pakaian dan politik memang sudah sejak dulu berkelit kelindan. Kita mengenal ‘Hari Batik Nasional’ karena politik pakaian dan politik identitas Orde Baru.Di zaman baheula hanya kalangan ningrat yang boleh m
  • Renung /
    10 Nov 2014

    Renung #38 | Wibawa

    Dari mana datangnya wibawa? Yang jelas bukan dari sawah turun ke kali, seperti lintah. Kiranya tak berlebihan kalau dikatakan bahwa wibawa adalah rahmat Tuhan yang masuk ke dalam tubuh kasar manusia. Ia menyatu dengan diri seseorang tanpa dibuat-buat. Walaupun demikian, wibawa tidak bisa hinggap pada jiwa setiap orang. Ia hadir dalam diri seseorang karena konsistensi orang itu dalam bertindak, karena memiliki kelurusan antara kata-kata dan perbuatan. Dengan kata lain, wibawa adalah titipan Tuhan kepada insan manusia. Ia tidak dapat dibeli dengan uang bergepok dan sekeranjang emas batangan. Ia juga tidak dapat dihadirkan secara paksa ke dalam diri. Jadi, wibawa tidak dapat diejan-ejan. Dalam budaya Minangkabau wibawa disebut tuah. Dan ada pepatah lama Minangkabau yang mungkin tidak ada
  • Renung /
    3 Nov 2014

    Renung #37 | Parlemen

    Di zaman televisi dan banyak media komunikasi/informasi dengan layar serba licin di zaman sekarang, Anda, walau tinggal di ujung pajin Pulau Tanahbala pun, tentu bisa menyaksikan parlemen Inggris bersidang. Biasanya jika orang-orang terhormat di kota London itu berapat dalam gedung parlemen yang berbangku panjang berwarna hijau lumut seperti bangku mobil Chevrolet lama itu, akan terdengar ‘huuuu!’ bertingkah-tingkah. Bila wakil dari pihak pemerintah yang berpidato, terdengar suara ‘huuu!‘ dari pihak oposisi. Begitu juga sebaliknya. Kita orang biasa, para kawula, melihat peristiwa di gedung-gedung parlemen itu sebagai adegan penuh kelucuan. Dari layar televisi kita melihat adegan-adegan itu seperti ritual sebuah sekte keagamaan. Juga tidak terlalu berlebihan jika

Author

Recent Post

Recent Comments