Suryadi

  • Renung /
    29 Oct 2014

    Renung #36 | Intelektual

    Kaum intelektual, seperti halnya golongan lainnya dalam masyarakat, adalah salah satu unsur penting sebuah negara-bangsa (nation-state). Mereka adalah orang yang berpikiran jernih berdasarkan ilmu pengetahuan, orang yang mempunyai derajat kecendekiawanan, yang dapat menuntun masyarakatnya ke jalan yang baik. Kaum intelektual ibarat kapten kapal. Jika kapal tenggelam, ia adalah orang yang paling terakhir terjun ke laut. Mungkin tidak berlebihan jika dikatakan bahwa sebuah negara yang merdeka belumlah lengkap dan tidak akan dapat hidup mandiri dengan marwah (dignity) yang setara dengan bangsa-bangsa merdeka lainnya apabila kaum intelektualnya belum terbentuk. Di tahun 1928, dr. Abdoel Rivai, seorang pemuka pribumi Indonesia, negeri yang pada masa itu masih dikuasai oleh penjajah Belanda, b
  • Renung /
    20 Oct 2014

    Renung #35 | Suara

    Demokrasi jelas berkaitan dengan suara - suara rakyat. “Vox populi Vok Dei” (Suara rakyat adalah suara Tuhan) kata sebuah ungkapan dalam Bahasa Latin. Tapi suara rakyat itu kini telah menjadi bala di negeri ini. Sejak bergulirya Reformasi di tahun 1998, rakyat negeri ini bergembira ria dan larut dalam eforia. Suara mereka yang dibungkam penguasa selama tiga puluh tahun lebih, kini dapat mereka perdengarkan lagi, bahkan dengan bunyi yang lebih keras. Suara mereka yang lama bersembunyi dalam tenggorokan mereka itu kini membahana, melengking-lengking menembus udara semesta, menggoncangkan aras Tuhan, dan sering berbunyi gaduh seperti suara Cina karam. Rakyat negeri ini memang sedang mabok kebebasan. Dan… suara-suara kebebasan itu menggumpal dalam sebuah istilah yang ki
  • Renung /
    13 Oct 2014

    Renung #34 | Kominis

    Di awal abad 20, ideologi yang datang dari seberang tebing Siberia itu mulai dilahap oleh anak bangsa ini: ‘Kominis’, demikian ia acap ditulis dalam surat kabar lama. Ia didiskusikan oleh si Belanda ‘deviant’ Henk Sneevliet, petinggi Indische Sociaal-Democratische Vereeniging/ISDV (berdiri 1914), dengan beberapa pemuda pribumi yang benci banget melihat segelintir orang putih berkuasa melebihi Tuhan di negeri mereka. Semaun, Alimin, Darsono, dan Tan Malaka, pribumi-pribumi muda yang mangkel hati itu, begitu terpesona dengan ideologi baru itu. Dengan sembunyi-sembunyi mereka mendiskusikannya jauh dari lokasi rumah-rumah bola, tempat kaum pribumi sering dihina oleh para juragan dan penguasa kulit putih sambil minum sopi dan main bola sodok, seperti diceritakan oleh Ab
  • Renung /
    29 Sep 2014

    Renung #33 | Subsidi

    Di abad ini, kata subsidi tampaknya makin dicap tabu dalam kamus banyak pemerintah di dunia, tak terkecuali di Indonesia. Ini adalah masa ketika negara yang dikangkangi oleh para penguasa yang royal dan hedonis melepas tanggung jawab kepada rakyat berderai yang dikenai pajak olehnya, sejak dari ubun-ubun hingga ujung kaki. Berbagai alasan dikemukakan untuk mengurangi atau menghapuskan subsidi untuk rakyat, dan semua itu tak lepas dari invisible hands para maniak yang ingin menjinjing tampuk dunia. Salah satu alasan (yang dicari-cari) yang kita dengar adalah bahwa rakyat tidak bisa mandiri secara ekonomi jika terus-menerus disubsidi oleh pemerintah. Subsidi,yakni keringanan atau manfaat yang diberikan oleh pemerintah kepada kelompok-kelompok individu yang biasanya berbentuk pembayaran tu
  • Renung /
    22 Sep 2014

    Renung #32 | Gubernur

    Jabatan ‘Gubernur’ kita warisi dari zaman kolonial. Kata itu diadopsi dari kata Belanda ‘gouverneur’. Di belahan Semenanjung Melayu kata itu mungkin dikenal lewat kosakata Inggris ‘governor’. Di zaman pejajahan itu posisi gubernur di atas tuan Residen (Resident) dan di bawah Gubernur Jenderal (Gouverneur Generaal). Tapi sebelum penataan lebih lanjut, pernah sebuah residensi dianggap setara dengan provinsi, misalnya Residensi Sumatra’s Westkust yang dipimpin oleh seorang Residen dan belakangan Gubernur. Jabatan Gubernur telah mengalami transformasi mengikut perubahan zaman. Di Zaman Kolonial tentu orang Belanda (orang putih) yang hanya boleh menjadi Gubernur. Posisi itu tak mungkin diduduki oleh bumiputera. Paling tinggi bumiputera hanya bisa men
  • Renung /
    15 Sep 2014

    Renung #31 | (Nama) Bandara

    Bandara (bandar udara) mungkin sudah menjadi ‘rumah singgah’ yang paling laris di abad ini. Banyak orang menghabiskan waktu di sana, atau sekedar melintasinya, sebelum beranjak ke tempat lain. Ini adalah tempat di mana orang menghampirinya dengan bergegas, dengan rasa riang bercampur cemas. Di zaman facebook ini tak begitu sulit untuk mendeteksi seseorang bahwa dia sedang berada di bandara. Tanpa diminta, dia dengan senang hati melaporkannya melalui laman facebooknya: “Sedang transit di Bandara Anu”, “Sedang terdampar di bandara Anu”, “Baru saja landing dengan Slamet di bandara Anu”. Mungkin tak banyak orang yang melaporkan dengan begitu antusias bahwa mereka telah sampai di pangkuan anak istri dan keluarga di rumah, atau sudah sampai di ka
  • Renung /
    8 Sep 2014

    Renung #30 | Darurat

    Dalam bahasa orang tua-tua kita di zaman lampau dikenal istilah ‘zaman daruraik’ (Zaman Darurat), yaitu masa ketika segala sesuatunya berada dalam keadaan chaos di bidang sosial, ekonomi, maupun politik. Secara umum, istilah itu merujuk pada periode antara 1945 sampai 1950 ketika Belanda melakukan agresi (yang mereka sebut sebagai aksi polisionil) menyusul diproklamirkannya kemerdekaan Indonesia oleh Ir. Soekarno dan M. Hatta di Jakarta. Tindakan Belanda yang ingin menjajah Indonesia kembali telah menimbulkan tragedi kemanusiaan lantaran banyak orang sipil yang dibunuh dengan semena-mena oleh tentara Belanda. Orang tua-tua kita juga mengenal istilah ‘Zaman Bagolak’ (Zaman Bergolak). Istilah ini memiliki konotasi yang lain lagi: merujuk kepada revolusi yang terjad
  • Renung /
    1 Sep 2014

    Renung #29 | Perang

    “Bersiaplah untuk perang kalau ingin damai”, bunyi sebuah ungkapan klasik. Ungkapan itu seolah menjadi pembenaran untuk melakukan perang. Tak henti-hentinya manusia berperang antara sesamanya di muka bumi ini, sejak zaman Nabi Adam sampai era Obama dan Hollande. Makin modern manusia, malah makin tinggi nafsu mereka untuk saling membunuh antar sesamanya. Kebiadaban manusia modern yang konon lebih sadar tentang HAM, hukum, tata krama, dan sopan santun, sampai batas tertentu malah melebihi kebiadaban manusia-manusia ‘kuno’ yang hidup di zaman lampau. Lihatlah apa yang terjadi di Timur Tengah sekarang, juga di beberapa tempat lain di dunia, sungguh sangat menyayat-nyayat perasaan manusia yang masih punya hati nurani. Jika kita melihat bayi-bayi yang jolong lahir, bal
  • Renung /
    25 Aug 2014

    Renung #28 | Lotre

    Mungkin banyak orang pernah memasang lotre (atau lotere), paling tidak satu-dua kali dalam hidupnya untuk sekedar mencoba. Yang lain ada yang hampir sepanjang hidupnya memasang lotre, suatu kebiasaan yang sudah mendarah daging dalam hidupnya, walau kebanyakan tak pernah menang. Sangat mungkin juga setiap orang pernah mengimpikan menang lotre, sembari membuat berbagai pengandaian. “Jika saya menang lotre, saya akan membeli rumah mewah di Bali”; “Saya akan membangun panti asuhan untuk anak-anak terlantar”; “Saya akan jalan-jalan keliling dunia”. Ada berbagai macam pengandaian yang muncul dalam pikiran, dan pengandaian itu kongruen dengan prinsip hidup dan kepribadian si pembuat pengandaian. Jika kita membaca surat kabar-surat kabar tua dari abad ke-19 a
  • Renung /
    18 Aug 2014

    Renung #27 | Boros

    Kita mungkin termasuk bangsa paling boros di dunia. Hal itu dapat dikesan dari pemandangan yang dapat kita lihat sehari-hari secara kasat mata, baik dalam maupun di luar lingkungan keluarga sendiri. Kebanyakan individu dalam masyarakat kita mempraktekkan gaya hidup yang jauh dari sifat hemat dan ekonomis, padahal bangsa ini lama dijajah Belanda, sebuah bangsa kecil dari Negeri Kincir Angin yang mempraktekkan hidup hemat dan irit, walau sering dimaknai sebagai sifat kikir oleh orang Indonesia. Memang jarang tindak laku kita yang menunjukkan sikap hemat. Dalam laku makan saja misalnya, masyarakat kita sering menyisakan nasi di piring. Banyak orang Indonesia memakai lebih dari satu HP dan sepeda motor. Orang-orang kaya apalagi: mereka punya banyak rumah dan di garase mereka bertumpuk mobil

Author

Recent Post

Recent Comments