Suryadi

  • Renung /
    10 Mar 2014

    Renung #6 | Kakus

    Kata kakus mungkin terdengar sedikit kuno di telinga generasi sekarang. Tapi saya lebih suka memakai kata itu, atau istilah kamar kecil yang lebih terasa nuansa Indonesianya. Di banyak tempat, sejak dari terminal bus kota sampai ruang tunggu bandara, kata kakus sudah berganti dengan kata wc (dieja ‘wese’, singkatan dari water closet) dan toilet. Yang terakhir ini tentu diadopsi dari Bahasa Inggris toilet yang, mungkin karena ingin menunjukkan kemodernan atau sekedar gengsi-gengsian, sering ditulis salah oleh orang Indonesia, misalnya di kakus sebuah rumah makan di Sumatra saya pernah melihat kata itu ditulis: ‘tiolet’. Kakus adalah benda yang paling akrab dengan kehidupan manusia. Seseorang dalam hidupnya mungkin pernah beberapa hari dalam setahun tidak berjumpa
  • Renung /
    3 Mar 2014

    Renung #5 | Potret diri

    Sampai paroh pertama abad ke-20 kebanyakan orang Indonesia masih kaku dan tegang seperti menghadapi elmaut jika difoto. Kini, seperti dapat kita saksikan dengan mudah di baliho-baliho besar yang terpampang di jalan-jalan utama dan di pohon-pohon pelindung di kota-kota Indonesia, banyak potret diri memperlihatkan senyum mengambang dan sumringah. Tradisi fotografi di Indonesia, seperti dikatakan Karen Strassler dalam Refracted Visions: Popular Photography and National Modernity in Java (2010), adalah sebuah ikonografi nasional melalui mana kita dapat melihat hasrat kuat bangsa Indonesia akan kemodernan. Dalam Bab 3 buku itu, Karen menggambarkan bagaimana Rezim Orde Baru menggunakan pasfoto untuk mengidentifikasi setiap kawula sebagai salah satu cara untuk mengawasi (tindak-tanduk) mereka
  • Renung /
    24 Feb 2014

    Renung #4 | Pengetahuan

    Mungkin pengetahuan tidak sesederhana yang didefinisikan oleh sebuah kamus: ’segala sesuatu yang diketahui; kepandaian’. Apakah sebenarnya pengetahuan dan dari mana asalnya? Berbungkah waktu telah digelindingkan manusia untuk memikirkannya, tapi tak kunjung ditemukan jawaban yang pasti dan memuaskan. Para filusuf mengatakan bahwa hakekat pengetahuan adalah dorongan rasa ingin tahu manusia untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan eksistensi spesies mereka di muka bumi ini. Pengetahuan tak akan ada tanpa bahasa. Bahkan ada yang beranggapan bahasa itu sendirilah yang merupakan pengetahuan. Dengan bahasalah manusia mampu mengeksplisitkan jalan pikiran mereka dalam alur tertentu. Itulah yang disebut ‘nalar’, dasar dari pengetahuan. Setidaknya ada empat sumber
  • Renung /
    17 Feb 2014

    Renung #3 | Sekolah

    Sekolah mungkin sudah menjadi penyakit ketimbang jadi obat bagi bangsa ini. Banyak orang telah dibuat menjadi pintar olehnya, tetapi kebanyakannya bermental bejat. Sekolah telah merampas masa kanak-kanak yang bahagia dari anak-anak kita, dan membuat mereka tress dan rusak mentalnya. Sekolah berasal dari bahasa Latin schola - dekat dengan kata sikola dalam bahasa Minangkabau atau sekolah dalam bahasa Melayu/Indonesia - yang berarti ‘waktu luang’ atau ‘bertenang-tenang’ (leisure). Memang semestinya sekolah adalah tempat yang menghadirkan rasa senang dimana proses transformasi ilmu pengetahuan dari guru kepada murid dilakukan dengan cara-cara yang menarik dan bertenang-tenang. Tapi lihatlah betapa jauhnya makna itu melenceng dalam praktek pendidikan dasar di nege
  • Renung /
    10 Feb 2014

    Renung #2 | Terbang

    Terbang adalah usaha sia-sia manusia menggulung jarak dengan mengorbankan rasa kangen dan gamang. Setidaknya itu yang saya rasakan, yang juga mungkin dirasakan oleh banyak orang lain, ketika terbang dari Amsterdam ke Jakarta dengan pesawat Garuda akhir Januari lalu. Kedua kota yang berjarak hampir setengah keliling bumi itu ditempuh pulang-pergi dalam waktu sekitar 32 jam (termasuk waktu transit di Abu Dhabi) yang pada awal abad ke-17 dilintasi Jan Pieterzoon Coen, si pendiri kota Jakarta itu, dengan kapal Hoorn selama kurang lebih 8 bulan. Akan tetapi Coen yang menempuh perjalanan dengan berlayar mungkin menikmati kebahagiaan tersendiri, dan kita kini yang melintasi jarak ribuan mil dengan terbang dalam waktu yang jauh lebih singkat mungkin menghadirkan rasa galau yang tak terjelaskan
  • Renung /
    3 Feb 2014

    Renung #1 | Modern

    Kita tidak tahu kapan persisnya kata ‘modern’ muncul dalam bahasa Indonesia. Yang kita dapati hanyalah kenyataan bahwa ia kini meruyak dalam ujung lidah dan pikiran orang-orang yang tidak ingin dianggap udik dan kampungan. Mereka memaknainya dengan bermacam laku-tindak, tapi lebih sering dengan hanya memamah semua benda yang digerakkan oleh tombol-tombol, yang kebanyakan diciptakan oleh orang asing dan dibeli dengan uang hasil menjual buah kelapa dan getah karet. Kini kita mengenal istilah ‘zaman modern’. Tapi di zaman kolonial orang-orang menyebutnya ‘zaman pantjaroba’. Istilah itu mengandung makna ‘ketidakstabilan’, ‘rasa bimbang’, dan ‘kekacauan’, mungkin lebih pada jiwa ketimbang hal-hal yang bersifat fisik dan
  • Renung /
    2 Feb 2014

    Renung

    Dalam kehidupan yang makin sibuk ini kadang-kadang manusia tidak punya waktu lagi untuk merenung. Setiap orang disibukkan oleh kegiatan sehari-hari. Rentang waktu 24 jam terasa tidak cukup lagi. Orang berlomba-lomba menunjukkan eksistensi diri. Rubrik Renung di halaman budaya Padang Ekspres edisi Minggu hadir menyapa pembaca untuk sekedar merenung atau berefleksi sesaat makna dari setiap tindakan, kenyataan, dan fenomena apapun yang berseliweran hadir dalam kehidupan sehari-hari kita. Semoga rubrik ini bermanfaat bagi pembaca. Redaksi

Author

Recent Post

Recent Comments