Suryadi

  • Sastra & Budaya Minang / Sejarah /
    28 Jun 2015

    Orang pendek (leco) di hutan-hutan Sumatera

    Mungkin setiap etnis yang tinggal di Sumatera mengenal cerita tentang jenenis makhluk yang disebut orang pendek yang tinggal di hutan-hutan tropis pulau yang lebat dan merimba raya itu. Mereka bukan orang Kubu, Sakai, atau Talang Mamak, kelompok-kelompok manusia yang dipercayai sebagai orang Sumatera Asli (proto Melayu) yang menyingkir ke hutan-hutan karena terdesak oleh kelompok Melayu muda yang datang dari daratan Asia. Orang pendek ini adalah jenis yang lain yang rupanya sudah lama menarik perhatian dunia ilmu pengetahuan Barat. Nama lokal yang diberikan kepadanya bermacam-macam, tapi yang paling dikenal adalah leco (dalam ejaan lama ditulis : letjo). Ada juga orang menyebut (si) bigau, tapi saya kurang pasti apakah ini makhluk dari jenis yang sama atau yang berbeda. Tentang bigau,
  • Sastra & Budaya Minang /
    19 Dec 2014

    INDUSTRI REKAMAN DAN BUDAYA DAERAH" DI INDONESIA KASUS MINANGKABAU

    RINGKASAN DISERTASI SURYADI (LEIDEN UNIVERSITY, 2014) Studi ini mengkaji kehadiran berbagai jenis teknologi rekaman di Indonesia dan signifikansi budaya yang dibawanya sebagai konsekuensi penggunaannya dalam menghadirkan dan merepresentasikan budaya lokal Indonesia. Sebagai studi kasus, studi ini meneliti pertemuan teknologi-teknologi itu dengan budaya Minangkabau. Berkampung halaman di Sumatera Barat, suku Minangkabau dikenal dengan budaya merantaunya. Karena teknologi rekaman, terutama kaset dan video compact disc (VCD), telah sangat merasuk ke dalam kehidupan kebudayaan berbagai etnis di Indonesia, studi ini meneliti peran industri rekaman local dalam penciptaan budaya etnik kontemporer dan bagaimana pengaruhnya pada masyarakat lokal, dalam hal ini suku Minangkabau. Mengingat antusia
  • Sastra & Budaya Minang /
    20 Jan 2014

    KABA: CERITA YANG BELUM BERAKHIR

    Pada tanggal 25-27 November 2013, Rumah Budaya Noktah menyelenggarakanfocus groups discussion (FGD) bertema ‘RevitalisasiKaba Menuju Seni Pertunjukan Modern’ bertempat di Hotel Hayam Wuruk, Padang. Dalam blog-nya Teater Noktah menyebutkan bahwa tujuan FGD itu adalah mendorong para pekerja teater ‘menerjemakan’kaba ke dalam bentuk lakon dengan cara-cara baru yang inovatif sehingga repertoar sastra lisan Minangkabau itu dapat direvitalisasi dan menjadi menarik lagi bagi masyarakat umum. Implementasi dari FGD itu antara lain dipertunjukkan dalam ‘Minangkabau Arts Festival’ yang dihelat oleh Rumah Budaya Noktah dari 23 s/d 28 Desember di tiga kota: Padang, Payakumbuh, dan Sawahlunto. Usaha Rumah Budaya Noktah ini mengingatkan saya pada satu artikel Umar J
  • Sastra & Budaya Minang /
    26 Dec 2013

    Anugerah Sastra Sumatra Barat: Agak telat tapi telat benar belum

    Terbetik berita, kelampauan sorak sampai ke Negeri Atas Angin, bahwa muncul gagasan untuk memberikan anugerah sastra kepada penggiat sastra di Sumatra Barat. Gagasan itu mengapung dalam acara ‘Malam Puisi Rose’ di Hotel Rocky Bukittinggi yang digelar tgl 10 Desember lalu (Padang Ekspres,13/12/2013). Adalah Rida K. Liamsi, bos Riau Pos, yang punya gawe malam itu. Dipandu oleh sastrawan Sumbar/nasional Gus TF, buku puisinya Rose diluncurkan dalam sejuknya udara Bukittingi, dilanjutkan dengan diskusi di antara para sastrawan dan budayawan yang antara lain mengapungkan gagasan pemberian anugerah sastra Sumatra Barat. Nama Rida K. Liamsi tentu terkait dengan Anugerah Sagang di Riau. Rida dengan koran Riau Pos-nya telah lama menjadi penggerak apresiasi terhadap karya-karya sastr
  • Jurnal dan Artikel / Sastra & Budaya Minang /
    2 Jun 2013

    PANTUN MINANG: "BIOGRAFI HEROIK" LELAKI MINANGKABAU

    Bagian terakhir dari dua tulisan Urang Padang mandi ka pulau, Putuih sianik paulehkan, Anak dagang sakik di rantau, Hujan di langik mamandikan. Dalam bagian pertama tulisan ini (Padang Ekspres, 26-5-2013) telah digambarkan bagaimana bait-bait pantun Minang merepresentasikan keberangkatan calon perantau dari Ranah Bundo-nya dan suka-duka yang mereka hadapi dalam perjalanan menuju rantau. Pada bagian kedua ini akan dibicarakan pantun-pantun yang merefleksikan keadaan mereka di perantauan dan panggilan untuk menjenguk kampung halaman. Banyak bait pantun Minangkabau merekam perasaan si perantau di rantau. Suka-duka hidup di rantau, yang tidak selalu berhasil menghatarkan mimpi-mimpi di perantau, bercampur baur dengan kenangan kepada kampung halaman. Riak kehidupan di perantauan Rant
  • Jurnal dan Artikel / Sastra & Budaya Minang /
    28 May 2013

    PANTUN MINANG: "BIOGRAFI HEROIK" LELAKI MINANGKABAU

    Bagian pertama dari dua tulisan Karatau madang di hulu, Babuah babungo balun, Marantau bujang daulu, Di rumah baguno balun Seperti halnya di banyak etnis lain, kaum lelaki Minangkabau memiliki posisi kultural sendiri dalam masyarakatnya. Salah satu ciri kultural yang melekat pada diri lelaki Minang, yang dengan demikian mempengaruhi kepribadian mereka, individual maupun sosial, adalah kebiasaan mereka untuk pergi merantau. Merantau adalah salah satu elemen penting yang mencirikan etnis Minangkabau, khususnya kaum lelakinya, di samping dua elemen lainnya: Islam dan sistem kekerabatan matrilineal. Ketiga elemen itu memiliki hubungan sebab-akibat. Sandingan Islam dan matrilineal telah melahirkan ‘paradoks budaya’ (cultural paradox) - meminjam istilah Jeffrey Hadler (2008
  • Sastra & Budaya Minang /
    25 Jan 2013

    Minangkabau Bukan Etnis Pacandaian

    Seperti diberitakan oleh beberapa media cetak di Padang, fb-group Menelusuri Pokok-Pokok Pikiran AFNORIZAL ABUKASIM menyatakan bahwa semua orang Minangkabau adalah anak pacandaian. Administratornya, Afnorizal Abukasim (AA), dan beberapa rekannya, seperti Gani Limsa, Muhammad Yamin, Gusman Ready, dll., juga menghina bahwa adat Minangkabau jahiliyah. AA cs menuntut penghapusan adat Minangkabau dan menyerukan penerapan syariat Islam total di Ranah Minang. Ini tentu bukan isu baru dalam sejarah kebudayaan dan masyarakat Minangkabau. Sejak era Perang Paderi (1803-1837) pertelingkahan, baik sebatas ide maupun aduk fisik, antara kelompok yang menginginkan penerapan syariat Islam secara kaffah di Minangkabau di satu pihak dan kelompok yang ingin tetap mengakomodasi adat di lain pihak terus ber
  • Khazanah Pantun Minang / Sastra & Budaya Minang /
    10 Oct 2012

    Khazanah Pantun Minangkabau # 99 (Tamat) - SENGKETA MATA BELUM LAGI SUDAH

    Ini adalah nomor penutup rubrik “Khazanah Pantun Minang”. Minggu ini rubrik ini sampai pada edisi ke-100. Ibarat berlayar sudah sampai du pulau, berjalan sudah sampai di batas. Kepada penggemar setia rubrik ini, kami ucapkan selamat membaca sajian terakhir ini. Minggu depan mungkin akan muncul rubrik baru di halaman ini. Hanya satu pinta kami: walau pengganti rubrik ini lebih rancak nantinya, ingat-ingat jugalah rubrik “Khazanah Pantun Minangkabau” ini. Kalau sudah dapat “kawan” yang baru, “kawan lama” dilupakan jangan. 805. Ayam putiah masuak ka parak, Tibo di parak kanai jalo, Gigi putiah dibao galak, Bungo takarang di kapalo. 806. Karambia sarangkai tujuah, Tampak nan dari Pakandangan, Ambiak simpai panjang tujuah, Manembak bungo bal
  • Khazanah Pantun Minang / Sastra & Budaya Minang /
    26 Sep 2012

    Khazanah Pantun Minangkabau # 98 - KASIH OMBAK MAKANYA MANDI

    Khazanah Pantun Minangkabau # 98 - KASIH OMBAK MAKANYA MANDI Dengan melakukan kajian terhadap pantun-pantun Minangkabau, kita mungkin dapat melihat sejauh mana telah terjadi pergeseran laras bahasa sastra Minangkabau. Pergeseran itu tentu tidak dapat dihindari. Namun, kajian-kajian yang kita lakukan terhadap khazanah pantun Minangkabau mungkin dapat memberi inspirasi kepada orang Minangkabau kini dalam membuat kreasi-kreasi seni, khususnya sastra dan musik, yang tetap berakar pada tradisinya sendiri. Nomor ini (98) menyajikan lagi serangkaian bait pantun Minangkabau klasik kepada pembaca setia rubrik ini. 778. Dipaku kawek dipilinkan, Dilipek pandan baduri, Sungguahpun surek dikirimkan, Sipaik namonyo badan diri. 779. Dipanggang kekek dikariangkan, Makanan anak Raja Jao, Dikarang su
  • Khazanah Pantun Minang / Sastra & Budaya Minang /
    19 Sep 2012

    Khazanah Pantun Minangkabau # 97 - JERAT SUDAH MENGAMBUNG DIRI

    Sejauh yang terlacak oleh saya, belum banyak kajian mengenai paralelisme dan metafora dari perspektif linguistik dan stilistik yang mengambil objek pantun Minangkabau. Barangkali ada baiknya jika Jurusan Sastra Daerah/Program Studi Bahasa & Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas menawarkan mata kuliah kajian pantun Minangkabau. Dalam kuliah itu bisa dibahas aspek intrinsik dan ekstrinsik pantun Minangkabau. Mari kita nikmati lagi estetika pantun Minangkabau yang khas itu di nomor ini, tiga nomor menjelang edisi ke-100 rubrik ini. 767. Siamang di kayu kalek, Malompek ka puncak batuang, Tuan tagamang lagi bajawek, Takantuak Tuan lai badukuang. 768. Taganang aia di lasuang, Disalin ka buli-buli, Marantak balam ateh batuang, Jarek lah maambung diri. 769. Mulo

Author

Recent Post

Recent Comments