Suryadi

  • Sastra & Budaya Minang /
    25 Nov 2008

    Perempuan Minang: Matriarchs Yang Berlayar Di Arus Deras

    Tanggal 11-12 November lalu Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Sumatera Barat mengadakan Seminar Internasional bertema Seabad Kebangkitan Nasional: Perlawanan Anti-Belasting dan Gerakan Kemajuan di Sumatera Barat 1908-2008 di Bukittinggi. Saya yang ikut diundang sebagai salah satu pembicara dengan alokasi topik makalah Sumatera Barat pasca perlawanan anti-belasting tidak dapat menghadiri seminar tersebut. Saya coba menebus ketidakhadiran itu dengan menulis artikel sederhana ini. Dalam laporan Padang Ekspres mengenai seminar itu (16/11/2008) banyak disorot tentang Perang Kamang dan Perang Manggopoh, yang tampaknya menjadi topik yang mengemuka dalam seminar itu. Tapi gerakan kemajuan di Sumatera Barat pasca perang anti belasting, yang juga menjadi tema seminar itu, terkesan belum d
  • Sastra & Budaya Minang /
    2 Nov 2008

    TRANSKRIPSI TEKS LAGU DALAM KLIP VCD MINANG (Catatan kecil untuk pelaku industri rekaman daerah Sumatera Barat)

    Sejak beberapa tahun belakangan ini saya melakukan penelitian yang cukup mendalam mengenai seluk-beluk industri rekaman daerah di Sumatera Barat dalam rangka menulis disertasi di Universitas Leiden dengan judul proposal: The Cultural Significance of the Regional Recording Industry and Minangkabau Commercial Cassettes in West Sumatra, Indonesia. Penelitian itu, dengan pendekatan studi budaya (cultural studies) dan studi media (media studies), mencakup teks dan konteks kaset-kaset komersial Minang dan unsur-unsur yang terlibat dalam kemunculan dan perkembangan perusahaan-perusahaan rekaman daerah di Sumatera Barat sejak zaman piringan hitam sampai era VCD. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Sumatera Barat adalah inti (core) industri rekaman daerah di Indonesia bagian barat, bahkan mungk
  • Sastra & Budaya Minang /
    25 Jul 2008

    Cap Mohor Sultan Tunggal Alam Bagagar[syah]

    Beberapa waktu yang lalu diberitakan bahwa Panitia pengusulan Sultan Alam Bagagarsyah (SAB) menjadi pahlawan nasional telah rampung menulis buku (kecil) mengenai riwayat hidup dan perjuangan beliau. Panitia juga telah mengumpulkan bahan-bahan terkait yang dapat membantu mengungkapkan riwayat hidup dan perjuangan cucu Sultan Muningsyah itu. Bahan-bahan yang sudah berhasil dikumpulkan beserta buku kecil itu dimaksudkan untuk memperkuat argumen pengusulan SAB menjadi pahlawan nasional. Panitia akan segera membawanya ke Jakarta, menghadap instansi terkait di pusat yang memiliki kewenangan meloloskan atau menolak pengajuan SAB menjadi pahlawan nasional. Semoga hasil penelitian itu telah dievaluasi lagi di hadapan kalangan akademis, intelektual, agamawan, dan cerdik pandai di Sumatra Barat,
  • Sastra & Budaya Minang /
    7 Mar 2008

    Khazanah Sastra Lisan Minangkabau: Takok-Taki

    A.L. van Hasselt (Sumber: Paul van der Velde, 2006:214) Seperti kebudayaan etnis lain di dunia, kebudayaan Minangkabau berubah seiring dengan perkisaran zaman, yang dapat menghilangkan unsur-unsur yang bersifat non-material dari kebudayaan tersebut, seperti khazanah sastra lisannya. Unsur-unsur non-material itu akan lebih cepat hilang dan dapat lenyap begitu saja jika tidak dikumentasikan secara sistematis dalam bentuk tulisan. Apalagi jika mengingat bahwa orang Minangkabau sejak dulu hidup dalam tradisi orality (kelisanan) dan kurang mengembangkan budaya keberaksaraan (literacy). Akan tetapi oleh karena itu pula mereka memiliki bentuk sastra tradisional (lisan) yang amat kaya. Minangkabau vernacular literature sudah lama menarik perhatian antropolog, linguis, dan peneliti budaya pada
  • Sastra & Budaya Minang /
    15 Feb 2008

    Sastra Minangkabau Modern: Antara Ada dan Tiada

    Istilah Sastra Minangkabau Modern muncul dalam SMS yang saya terima dari Dekan Fakultas Sastra Universitas Andalas, Dra. Adriyetti Amir, SU, yang memberitahukan kepada saya bahwa kiriman off-print artikel saya, Vernacular Intelligence: Colonial Pedagogy and the Language Question in Minangkabau (Indonesia and the Malay World 34:100, 2006: 315-44) telah beliau terima. Artikel itu membicarakan sejarah kodifikasi Bahasa Minangkabau ragam lisandengan demikian juga berkelindan dengan usaha penulisan sastra lisan Minangoleh orang Belanda dan reaksi-reaksi orang Minangkabau sendiri terhadapnya, dengan pembahasan khusus pada seri buku pelajaran Bahasa Minangkabau oleh M.G. Emeis: Lak?h Pandai (1932), Kini Lah Pandai (1933), dan Dangakanlah (1935). Saya minta Suryadi juga menulis sesuatu tentang Sa
  • Sastra & Budaya Minang /
    28 Dec 2007

    Posisi Geografis Benteng Marapalam : Catatan Singkat ke Arah Studi Genealogi ABS-SBK

    Munculnya kini euphoria ABS-SBK di Sumatera Barat, langsung atau tidak, tentu menimbulkan pertanyaan dalam masyarakat, terutama generasi muda, tentang sejarah pembentukan falsafah hidup kebanggaan orang Minang itu. Siapa yang merumuskan, bagaimana rumusannya, apakah rumusan itu tertulis atau lisan saja, tak ditemukan penjelasan yang komprehensif dalam buku sejarah. Generasi Minangkabau kini tidak memperoleh warisan tertulis apapun mengenai falsafah ABS-SBK, dasar negara etnis Minangkabau itu. Akibatnya, muncul berbagai interpretasi dan implementasinya dalam masyarakat. Memang ada semacam TOR lisan ABS-SBK itu yang diciptakan oleh cerdik-pandai Minangkabau di zaman dulu: syarak mandaki, adat manurun; syarak mangato, adat mamakai; syarak babuhua mati, adat babuhua sentak; syarak balinduang,
  • Sastra & Budaya Minang /
    1 Jul 2007

    Stempel Datuak Katumanggungan dan Datuak Parpatiah Nan Sabatang

    Stempel Datuak Katumanggungan (a) dan Stempel Datuak Parpatiah Nan Sabatang (b). (Sumber: Leiden University Library Cod.Or. 1745, hal. ii & iii) Umumnya orang Minangkabau bukan Minang kerbau seperti acap kali ditulis dalam koran Soenting Melajoe pimpinan Mahyuddin Dt. St. Maharadja mengenal nama Datuak Katumanggungan dan Datuak Parpatiah Nan Sabatang. Mereka termasuk founding father orang Minang. Nama keduanya disebut-sebut dalam berbagai wacana kebudayaan Minangkabau dalam tambo, dalam cerita rakyat, dalam pidato adat dan pasambahan, dalam kaba, dan mungkin juga dalam mimpi para datuak kita.Konon jejaknya juga dapat dilacak dalam material culture Minangkbau: ada Batu Batikam di Batusangkar, sebagai bukti arkeologis percanggahan ideologis yang amat prinsipil antara kedua mamak mu
  • Sastra & Budaya Minang /
    7 Jun 2007

    Syair Sunur : Tentang duka dan rindu-dendam seorang Ulama Melayu-Minangkabau kepada kampung halamannya di abad ke-19

    Syair Sunur (SSn) adalah sebuah naskah Melayu-Minangkabau klasik yang belum banyak dikenal oleh filolog Indonesia, khususnya yang berasal dari Sumatra Barat. Ini misalnya dapat dikesan dari pembicaraan Hasanuddin WS tentang filologi Minangkabau dalam buletin kebudayaan Suratkabar (Edisi 03/April 2002:12-13), yang tidak menyebut SSn dalam daftar judul-judul naskah Minang yang disenaraikannya. Leni Nora dari Fakultas Sastra Universitas Andalas pernah membicarakan SSn berdasarkan satu fotokopi salinan tercetaknya yang tersimpan di Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM) Padang Panjang (lihat Leni Nora: Syair Sunur: Transliterasi dan Tinjauan Isi [Skripsi Fak. Sastra Universitas Andalas, 2000). Kajian yang cukup komprehensif mengenai SSn sudah saya lakukan untuk meraih
  • Sastra & Budaya Minang /
    30 Apr 2006

    Menyelamatkan Kekayaan Bahasa Minangkabau : Tantangan Ahli Bahasa dan Pekamus

    Seperti halnya bahasa-bahasa daerah lainnya di Indonesia, Bahasa Minangkabau terus berubah. Pengaruh Bahasa Indonesia sudah menyebar jauh ke pelosok daerah di Sumatra Barat, dibawa oleh media audio visual seperti televisi dan radio, membengkokkan lidah generasi muda Minangkabau, yang mulai terbata-bata berkomunikasi dalam bahasa ibunya sendiri. Suka atau tidak suka, Bahasa Indonesia, dan mungkin juga bahasa asing seperti Bahasa Inggris, makin mempengaruhi masyarakat penutur Bahasa Minangkabau. Demikianlah umpamanya, di banyak desa aktivitas budaya tempat menuturkan Bahasa Minangkabau ragam adat makin jarang dipraktekkan. Kalau dulu acara pasambahan menjemput mempelai pria (manjapuik marapulai), misalnya, bisa memakan waktu berjam-jam, dimana kemampuan bersilat lidah benar-benar dipraktekk
  • Sastra & Budaya Minang /
    30 Apr 2006

    Historiografi Bahasa Minangkabau

    Sudah banyak studi mengenai Bahasa Minangkabau (BM) dilakukan para ahli linguistik, terutama sekali dari perguruan tinggi yang berada di Sumatra Barat sendiri. Namun, yang agak langka adalah studi mengenai historiografi BM itu sendiri. Bagaimana situasi kebahasaan orang Minang di masa lampau, sejarah usaha pembentukan BM ragam tulis, intervensi orang Belanda dengan hoeroef Walanda-nya (huruf Latin/Rumi) terhadap BM di abad ek-19, dan efeknya terhadap masyarakat dan kebudayaan Minangkabau, khususnya di bidang bahasa, belum pernah diteliti secara mendalam. Tulisan ini mendeskripsikan secara sepintas historiografi BM, sekadar untuk menambah pengetahuan kita mengenai perjalanan sejarah BM, syukur-syukur ada yang tertarik untuk menulis disertasi mengenai historiografi Bahasa Minangkabau, me

Author

Recent Post

Recent Comments