Suryadi

  • Khazanah Pantun Minang / Sastra & Budaya Minang /
    12 Sep 2012

    Khazanah Pantun Minangkabau # 96 - PERAWAS MASAK JADI BATU

    Di abad ke-21 ini masyarakat Indonesia, baik dalam pengertian negara-bangsa maupun kumpulan etnisitas, makin terperosok ke dalam labirin modernisme. Ibarat masuk lubang gelap tanpa penerang, mereka saling berantukan satu sama lain dalam pusaran budaya pop. Dan mereka tak sadar pula telah diperantuk-antukkan bangsa asing melalui tangan-tangan maya imperialisme modern. Mereka cenderung lupa kepada kebudayaan sendiri, larut dalam xenosentrisme yang memuja kebudayaan asing secara berlebih-lebihan. Semoga sajian ‘Khazanah Pantun Minang’ – ini adalah edisi 96 – masih membantu orang Minangkabau meresapi kebudayaan sendiri. 757. Baladang mudiak Koto Ranah, Ditabeh mako dianguihsi, Elok diambiak kutiko randah, Kok tinggi gunuang ditangisi. 758. Mambajak urang di Andale
  • Khazanah Pantun Minang / Sastra & Budaya Minang /
    5 Sep 2012

    Khazanah Pantun Minangkabau # 95 - BERMAIN GUNTING DALAM HATI

    Sudah seminggu Hari Raya 1433 H berlalu. Kampung sudah lengang kembali. Buaiyan Kaliang di pantai Pariaman sudah dibongkar. Oto-oto berkilat dari berbagai merek sudah balik ke rantau. Sebuah ‘ritual’ atas nama kebudayaan dan agama telah usai. Lebih dari 900 nyawa hilang di jalan. Puji dan umpat bergaung dalam laman-laman facebook (antara lain keluhan tentang semrawutnya kota Bukittinggi). Uang si perantau yang tercicir di kampung sebagian besar telah menguap ke udara. Namun tuah perantau itu, atau kesengrasaannya, serta keindahan kampung halaman dan rumah gadang, tetap abadi dalam pantun-pantun Minangkabau. Mari kita menghibur diri dengan sajian pantun di nomor 95 ini, karena orang rantau tidak akan mungkin dapat kita tahan untuk membali tidur di surau dan mengadu ujung celana
  • Khazanah Pantun Minang / Sastra & Budaya Minang /
    28 Aug 2012

    Khazanah Pantun Minangkabau # 94 - TUAH DI DALAM TANGAN ORANG

    Masih dalam suasana Idul Fitri 1433 H., kita lanjutkan apresiasi kita terhadap khazanah pantun klasik Minangkabau. Barangkali ini suasana yang tepat juga, mengingat banyak perantau sedang di kampung. Semoga rubrik ‘Minang Saisuak’ Padang Ekspres Minggu nomor 94 ini akan menemani nostalgia mereka dan kembali mengingat hakikat perantauan orang Minangkabau. Selamat menikamti. 735. Amuah nyo kami samo mandi, Jauah tapian rang subarang, Amuah nyo kami samo mati, Tuah di dalam tangan urang. 736. Batang sianik tagulampai, Kasturi di dalam kaco, Tabang ka langik balun sampai, Jatuah ka bumi balun nyato. 737. Mandaki jalan ka darek, Padam dama palito kapeh, Putuih suto tali pangabek, Makasuik hati diganggam lapeh. 738. Buruang banamo penti-penti, Mantiko ateh kapalonyo, Kamilau
  • Khazanah Pantun Minang / Sastra & Budaya Minang /
    15 Aug 2012

    Khazanah Pantun Minangkabau # 93 - DISUNGKUP QURAN TIGA PULUH

    Sudah beberapa hari ini saya membaca sebuah buku baru tentang Minangkabau oleh sarjana Amerika Karl G. Heider. Judul bukunya: The Cultural Context of Emotion: Folk Psychology in West Sumatra (New York: Palgrave Macmillan, 2011). Buku ini adalah salah satu seri korpus publikasi tentang culture, mind, and society (budaya, pikiran, dan masyarakat). Heider memperlihatkan bahwa emosi orang Minangkabau cukup rumit, yang secara kultural berkait kelindan dengan sistem Matrilineal yang mereka anut. Dalam bahasa Minangkabau ditemukan banyak metafora untuk mengekspresikan emosi atau perasaan. Pantun, sebagaimana dapat kita nikmati lagi di nomor ini (93), adalah salah satu inang tekstual literer untuk mengilatkan emosi itu. 726. Lah masak buah kayu tulang, Makanan anak barau-barau, Kok untuang kumba
  • Khazanah Pantun Minang / Sastra & Budaya Minang /
    7 Aug 2012

    Khazanah Pantun Minangkabau # 92 - MATI DIKERLING SUDUT MATA

    Secara teori masing-masing bahasa etnis (vernacular language) di dunia Melayu memiliki tradisi pantun yang ciri-ciri instrinsiknya berbeda satu sama lain. Tentang Pantun Minangkabau sebenarnya belum ada kajian yang mendalam mengenai hal ini, kecuali oleh R.J. Chadwick (1994) yang juga masih terbatas membicarakan bentuk majas tak sempurna (unconsummated methaphor) dalam pantun-pantun Minangkabau. Oleh sebab itu, sambil menikmati sajian ‘Khazanah Pantun Minangkabau’ di nomor ini (92), saya mengajak para sarjana kita (di Unand, UNP, dll.) untuk memikirkan hal ini. Siapa tahu ada yang tertarik untuk menelitinya lebih lanjut. 716. Bakudo baganti tidak, Ilang dimano palanonyo? Basuo bakato tidak, Apokoh sabab karanonyo? 717. Guruah patuih panubo limbek, Pandan tajamua di subaran
  • Khazanah Pantun Minang / Sastra & Budaya Minang /
    31 Jul 2012

    Khazanah Pantun Minangkabau # 91 - AIR MATA DIBUANG JANGAN

    Sejak sepuluh tahun terakhir ini negara asing, seperti Jepang, Jerman, dan Inggris mendanai pendigitalisasian naskah-naskah Nusantara. Rupanya khazanah pernaskahan Nusantara masih tetap diminati oleh pihak asing. Sebaliknya, Pemerintah RI masih belum juga menunjukkan perhatian serius terhadap naskah-naskah Nusantara. Kita mungkin baru dapat membayangkan bahwa pada suatu saat Pemerintah Provinsi Sumatra Barat akan mengalokasikan dana untuk memesan reproduksi atau kopian naskah-naskah Pantun Minangkabau yang tersimpan di Leiden, Belanda, untuk disimpan di Museum Adityawarman atau instansi lainnya yang relevan. Sambil menunggu mimpi itu jadi kenyataan, mari kita nikmati sajian ‘Khazanah Pantun Minang’ edisi minggu ini. 706. Muaro Soma dilingkuang gunuang, Batang aia sapanjang ja
  • Khazanah Pantun Minang / Sastra & Budaya Minang /
    25 Jul 2012

    Khazanah Pantun Minangkabau # 90 - KAMI DATANG JENJANG DIHELA

    Pantun adalah salah satu genre sastra Melayu klasik yang telah pula mempengaruhi sastra Barat. Orang Perancis, misalnya, mengenal ‘pantoum’ yang konon terispirasi oleh pantun (Zalila Sharif, 2002); dalam Bahasa Rusia juga ada ekspresi literer yang diinspirasi oleh pantun (Victor A. Pogadaev, 2002). Ini tentu sesuatu yang luar biasa, karena yang biasa terjadi adalah aspek-aspek sastra Barat yang mempengaruhi sastra Melayu sejak zaman kolonial hingga kini. Jika demikian halnya, alangkah bagusnya khazanah sastra tradisional kita ini kita apresiasi dan kita pelihara. Mari kita nikmati sajian ‘Khazanah Pantun Minang’ di nomor ini (90). 697. Apo guno kapuak di ladang, Kok tidak barisi padi, Apo guno barambuik panjang, Kok tidak barani mati. 698. Bukan sumbarang burua
  • Sastra & Budaya Minang / Khazanah Pantun Minang /
    18 Jul 2012

    Khazanah Pantun Minangkabau # 89 - KAMI BERLAYAR BESOK PAGI

    Dulu kata bermisal adalah keniscayaan dalam pergaulan sehari-hari masyarakat Minangkabau. Dalam setiap diri orang Minangkabau dewasa, khususnya kaum prianya, tertanam prinsip bakato baumpamo, barundiang bakiasan. Dengan prinsip itu, emosi yang muncul dalam komunikasi lisan dipindahkan dari badan ke dalam tuturan. Marah Nada tidak tampak lewat mata yang memerah dan membelalak, tapi lewat idiom-idiom metaforis dalam kalimat setajam siraut dan sembilu. Pantun Minangkabau adalah salah satu pengejawantahan dari prinsip itu, sebagaimana dapat dikesan lagi di nomor ini (98). 688. Jangan tadulang-dulang sajo, Padi dimano ditugakan? Jangan bapulang-pulang sajo, Kami dimano ditinggakan? 689. Antaro Tiku jo Pariaman, Di situ padi ditugakan, Antara pintu jo halaman, Di situ Adiak den tinggakan.
  • Sastra & Budaya Minang / Khazanah Pantun Minang /
    11 Jul 2012

    Khazanah Pantun Minangkabau # 88 - TUAN KALI DI LIMAU LUNGGO

    Rubrik Khazanah Pantun Minangkabau nomor ini masih menyambung cerita dalam nomor minggu lalu. Bait-bait pantun yang kami sajikan di nomor 88 ini masih berkisah tentang keunikan kurenah masyarakat dan pemimpin nagari-nagari di daerah Solok. Pantun-pantun tersebut berbentuk pantun berkait. Ini tentu dapat menjadi jalan bagi warga Kabupaten Solok dan sekitarnya untuk menapaktilasi aspek politik, sosial dan budaya masa lampau daerah mereka. Selamat menikmati. 680. Bakasua daun katari, Takalanduang si daun anau, Rajo Mansyur di Kinari, Nan laduang di Koto Anau. 681. Takalanduang si daun anau, Takalapak si daun birah, Nan laduang di Kota Anau, Nan lambuak di Tanah Sirah. 682. Takalapak si daun birah, Palapah di kandang banyak, Nak lambuak di Tanah Sirah, Tunggang gagah di Batu Banyak.
  • Sastra & Budaya Minang / Khazanah Pantun Minang /
    4 Jul 2012

    Khazanah Pantun Minangkabau # 87 - SUTAN MANSYUR DI KINARI

    Pelestarian sifat-sifat suatu nagari dalam pantun, rivalitas antara nagari-nagari, dan hubungan politik antara nagari-nagari dapat kita kesan lagi dalam rubrik Khazanah Pantun Minangkabau di nomor ini (87). Selamat menikmati. 672. Takanak deta ujung sangka, Lakek baju babuah aru, Bangkik Singkarak Saniangbaka, Dapek rajo Koto Baru. 673. Lakek baju babuah aru, Marantak di paleh-paleh, Kok lah dapek rajo Koto Baru, Babaua nan tigo baleh. 674. Marantak di paleh-paleh, Limpatiak di batu tigo, Babaua nan tigo baleh, Kaciak hati nan batigo. 675. Limpatiak di Batu Tigo, Karikan di ladang urang, Kaciak hati nan batigo, Sirukam lah di tangan urang. 676. Mangkudu dari Sailan, Alah rabah ditutuah urang, Datuak panghulu nan sambilan, Baso lalu dikicuah urang. 677. Mangkudu dari Sailan,

Author

Recent Post

Recent Comments