Suryadi

  • Sejarah /
    22 Feb 2015

    Melawan Amnesia Sejarah : Di Emmahaven (1925)

    Oleh Parada Harahap Emmahaven / Teluk Bayur [KITLV Leiden] Keesokan harinya dari berangkat meninggalkan pelabuhan Bengkulen, kira-kira pukul 10 pagi hari Rabu [14 Oktober 1925] kami pun sampailah di Emmahaven, yang disebut orang Melayu, Teluk Bayur. Saya punya sobat, tuan Tjio Peng Hong, hoofdredacteur dagblad Radio di Padang, telah menunggu lebih dahulu di pelabuhan, menyongsong kedatangan saya. Di pelabuhan banyak orang yang menunggu kedatangan kapal kami itu. Ini sudah kebiasaan di sana, amat rajin orang mengantar dan menyongsong famili, handai dan sahabat yang pergi dan datang dengan kapal, karena letaknya pelabuhan ini tak jauh dari Padang, kira-kira 15 menit berkereta api, sementara ongkosnya pun tak [se]berapa pula. Kapal biasanya bermalam di sini semalam, akan kemudian menerus
  • Sejarah /
    4 Feb 2015

    Melawan Amnesia Sejarah : Kota Padang (1925)

    Oleh Parada Harahap Tugu dekat Pasar Kampung Jao (Kampung Jawa), Padang (c.1920-an) [koleksi KITLV Leiden Kira-kira 15 menit dengan oto dari Emmahaven [Teluk Bayur], atau duapuluh menit dengan kereta api, bisalah sampai di Padang, ibu kota dari Residensi (Gouvernement) Sumatra Barat. Dalam tambo Sumatra, nama kota Padang banyak menjadi sebutan, karena di sinilah tempat persinggahan bangsa-bangsa asing dari dahulunya, dan tempat inilah yang menjadi rebutan antara orang-orang yang datang kemari mencari keuntungan. Kira-kira sebelum tahun 1666, kota ini masih dikuasai oleh Raja Aceh, tetapi kemudian sudah berulang-ulang menjadi kota yang senantiasa menjadi rebutan. Pada tahun 1669 pernah orang Aceh mengusir orang Belanda dari tempat ini. Di tahun 1683 dan tahun 1702 datang gangguan da
  • Sejarah / Tokoh Minang /
    22 Oct 2014

    In Memoriam Prof. Harun Zain (1 Maret 1927 - 19 Oktober 2014)

    Pada Minggu pagi 19 Oktober 2014 Allah SWT telah memanggil kembali salah seorang putra Minang terbaik: Bapak Harul Alrasyid Zain, mantan Gubernur Sumatra Barat dua periode (1966-1977). Dalam usia 87 tahun, beliau pergi mengahadapNya dengan tenang di kediaman beliau di Jakarta. Hasril Chaniago dalam 101 Orang Minang di Pentas Sejarah (2010:284) mencatat bahwa Harun Zain, begitu beliau sering dipanggil, adalah seorang gubernur yang berhasil mengembalikan harga diri orang Minangkabau yang hancur remuk akibat kalah dalam pergolakan PRRI (1958-1961). Dalam pertemuan penulis dengan Bapak harun Zain di kediaman beliau di Kebayoran Baru Jakarta pada 21 Januari 2014, beliau bercerita betapa pada masa awal tugasnya sebagai gubernur Sumatra Barat, beliau menghadapi masyarakat Minangkabau yang m
  • Kabar Berita / Sejarah /
    25 Aug 2014

    Dahlan Abdullah Pantas Jadi Pahlawan Nasional

    PERNAH SEKELAS DENGAN TAN MALAKA Padang, SinggalangMungkin, belum banyak yang mengenal nama H. Bagindo Dahlan Abdullah. Ia urang awak asli Pariaman. Tokoh besar Indonesia yang harum namanya hingga ke luar negeri. Ia senior Bung Hatta, seangkatan dengan Tan Malaka. Ikut pula memperjuangkan kemerdekaan. Saat ini, dia sedang diajukan sebagai pahlawan Indonesia. Dahlan Abdullah menyumbangkan banyak jerih payah untuk tanah air. Aktif dalam banyak organisasi perjuangan kemerdekaan. Pernah menjadi walikota, burgermeester Jakarta (waktu itu masih kota bernama Hindia Belanda) hingga menjadi duta besar di Irak. Ia juga salah seorang pendiri UniversitasIndonesia dan Universitas Islam Indonesia. Sungguh nama Dahlan Abdullah sudah sejak lama harum di luar negeri. Makamnya di Irak dimuliakan. P
  • Kajian Umum / Sejarah /
    23 Aug 2014

    Peresmian 'Jalan Pahlawan Bagindo Dahlan Abdullah' di Pariaman

    Tanggal 25 Agustus 2014 Pemerintah Kota Pariaman membuat alek gandang untuk meresmikan nama baru sebuah jalan di kota itu, yaitu Jalan Pahlawan Bagindo Dahlan Abdullah. Acara itu diramaikan dengan seminar setengah hari tentang Bagindo Dahlan Abdullah (dalam catatan-catatan colonial namanya dieja ‘Baginda Dahlan Abdullah’), tokoh nasional asal Pariaman yang namanya diabadikan untuk nama jalan tersebut. Suryadi dari Universitas Leiden akan menapaktilasi sejarah hidup Bagindo Dahlan Abdullah (1895-1950) dan Prof. Gusti Asnan dari Universitas Andalas akan memaparkan konteks sejarah Pariaman sebagai salah satu entrepot yang maju dalam era perdagangan pantai di abad ke-19 untuk memberikan latar historis kehidupan masa kecil Bagindo Dahlan Abdullah. Setelah itu, beberapa wakil da
  • Kabar Berita / Sejarah /
    16 Jul 2014

    Pariaman: Kota Bersejarah

    Tanggal 2 Juli 2014 kota Pariaman merayakan hari ulang tahunnya yang ke-12. Bersempena dengan peringatan hari ulang tahun kota Pariaman itu, diadakan Rapat Paripurna Istimewa DPRD Kota Pariaman yang dihadiri oleh Wakil Gubernur Sumatera Barat Muslim Kasim, Walikota Pariaman Mukhlis Rahman, Wakil Walikota Pariaman Genius Umar, dan para pejabat terkait serta perwakilan tungku tigo sajarangan. “Hari Ini Kota Pariaman 12 Tahun, Bertabur Penghargaan”, tulis Sumbar Online.com (diakses 3-7-2014) yang memberitakan berbagai penghargaan yang diterima oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Pariaman bersama masyarakatnya. Di tengah sukacita perayaan hari jadi kota Pariaman itu, ada sedikit catatan yang hendak saya kemukakan, lebih sebagai sumbangan pikiran dari seorang perantau awam asal Pariama
  • Sejarah /
    19 Feb 2014

    H. Bgd. Dahlan Abdullah: Nasionalisme seorang Putra Pariaman (Tamat)

    Yayasan Siti Akmar Abdullah Keturunan H. Bagindo Dahlan Abdullah juga mendirikan yayasan atas nama istri beliau: Yayasan Siti Akmar Abdullah.Yayasan ini didirikan untuk membantu wanita-wanita mendapatkan pinjaman berbunga rendah untuk modal mendirikan usaha rumah tangga. Pinjaman ini telah berhasil menolong berpuluh-puluh pengusaha wanita di Pariaman dan Sungai Limau. Yayasan juga memberikan bantuan keuangan setiap tahun kepada Mesjid Perempuan di Sungai Limau, mesjid wanita pertama di Indonesia. Bantuan itu melanjutkan amal Hj. Siti Akmar yang telah beliau lakukan semasa hidupnya. Sekretariat kedua yayasan itu beralamat di Jalan Sudirman 36, Pariaman. Pembina Yayasan: H. B. Abdul Malik Abdullah, MA; Ketua Umum: Drs. Syafrizal; Sekretaris: Drs. Ichwan Idham; Bendara: Rahmatina Abdullah
  • Sejarah /
    18 Feb 2014

    H. Bgd. Dahlan Abdullah: Nasionalisme seorang Putra Pariaman (Bag. #4)

    Menjadi Dubes Republik Indonesia di Irak dan berpulang saat menjalankan tugas negara Pada tahun 1950, Dahlan diangkat oleh Presiden Sukarno menjadi Duta Besar (Dubes) Republik Indonesia Serikat untuk Kerajaan Irak, Syria, dan Trans-Jordania yang berkedudukan di Bagdad, Irak. Beliau berangkat menuju Irak tgl 27 Maret 1950 (lihat :Java-Bode, 21-2 dan 23-3-1950; DeLocomotief, 23-3-1950; Het Nieuwsbladvoor Sumatra, 25-3-1950). Namun Tuhan berkendak lain. Dahlan hanya sempat menjalankan tugas sebagai Duta Besar RI selama 3 bulan saja. Beliau wafat pada tanggal 12 Mei 1950 di Bagdad setelah mendapat serangan jantung. Menurut keterangan keluarga, sebelumnya beliau memang juga sudah mengidap gejala gangguan jantung. Kepergian beliau selamanya tidak sempat disaksikan oleh istri dan beberapa
  • Sejarah /
    18 Feb 2014

    H. Bhd. Dahlan Abdullah: Nasionalisme seorang Putra Pariaman (Bag. #3)

    Naik haji ke Mekah dan kembali ke Indonesia Sebelum balik ke Indonesia, Dahlan Abdullah naik haji ke Mekah. Inilah dasar agama yang penting dari seorang putra Minangkabau: walau sudah berada di negeri Eropa sekuler seperti Belanda, dasar Islam pemberian orang tua di waktu kecil tidak akan hilang. Bagindo Dahlan Abddullah naik haji pada bulan Juli tahun 1920 sewaktu beliau masih bersekolah di Belanda (lihat: Het Nieuws van den DagvoorNederlandsch-Indie, 25-8-1920). Poeze (Poeze 2008:135) mengatakan ketika pergi ke Mekah menunaikan ibadah haji, Dahlan mendapat pengalaman yang kurang menyenangkan, tapi tidak disebutkan apa masalahnya. Rupanya Dahlan menulis laporan yang cukup lengkap mengenai perjalanannya ke Mekah dalam harian DeTelegraaf (lihat: DeTelegraaf edisi 9,10, 15,16, dan 2
  • Sejarah /
    17 Feb 2014

    H. Bgd. Dahlan Abdullah: Nasionalisme seorang Putra Pariaman (Bag. #2)

    Dahlan Abdullah melanjutkan sekolah ke Belanda Setamat dari Kweekschool Fort de Kock, atassokongan keluarga dan karena kepintarannya, Dahlan mendapat kesempatan pergi belajar ke NegeriBelanda bersama dua sepupu beliau, putra Pariaman lainnya, yaitu Zainuddin Rasad and Jamaluddin Rasad. Mereka bertiga tercatat sebagai putra Pariaman pertama yang mendapat pendidikan di Eropa (Negeri Belanda). Dahlan mengambil studi indologi di Universitas Leiden dan Zainuddin Rasad mendalami hukum di universitas yang sama, sementaraJamaluddin Rasad mengambil kuliah tentang pertanian (landbouw) di Deventer. Masih belum jelas mengapa ketiganya, yang merupakan anak pedagang biasa dan kadi di Pariaman, bisa memperoleh kesempatan bersekolah ke Negeri Belanda, yang pada masa itu lebih diperuntukkan bagi anak-a

Author

Recent Post

Recent Comments