Suryadi

  • Sejarah /
    6 Sep 2009

    Sejarah Tambang Emas SALIDA, Pesisir Selatan

    Mungkin tambang emas Salida (selanjutnya: Tambang Salida) di Pesisir Selatan adalah tambang tertua di Sumatra, bahkan mungkin di Indonesia. Sayang sekali tak banyak sejarawan yang tertarik untuk meneliti sejarah tambang ini (dalam sumber-sumber sejarah tertulis Salida, bukan Salido), padahal studi sejarah tambang mulai trend akhir-akhir ini. Sebelum kedatangan VOC di pantai barat Sumatra, kandungan emas di Salida sudah ditambang oleh penduduk setempat. Jauh sebelum bangsa Barat berhasil menemukan Sumatra, berita mengenai Pulau Emas sudah sampai ke Eropa melalui cerita-cerita para pelaut Arab. Penyair Portugis yang terkenal, Luiz de Camoens (1524-1580), menulis dalam Os Lusiadas (terbit 1572), sebuah puisi epik panjang yang monumental, tentang Gunung Ophir di Pasaman yang kaya emas, ya
  • Sejarah /
    25 May 2009

    Temuan Dokumen Sejarah Sulawesi Tenggara: Surat Tertua Kerajaan Buton dari Abad Ke-17

    Pendahuluan Dalam studi pernaskahan Nusantara, genre surat sudah menjadi objek kajian tersendiri yang telah menarik para peneliti untuk membahas kandungan isi, iluminasi, bahasa dan aksara, mohor/cap, serta aspek historisnya. Umumnya surat-surat Melayu dari abad ke-17 yang sekarang masih tersimpan di beberapa perpustakaan di dunia dianggap cukup tua, meskipun tercatat ada dua pucuk surat yang dikirim oleh Sultan Ternate yang masih kecil, Bayan Sirullah, kepada Raja Portugal, John III, masing-masing bertarikh 1521 dan 1522 yang menurut C.O. Blagden [1] dan Annbel Teh Gallop [2] (1994:120, 123) adalah naskah Melayu yang tertua di dunia. [3] Kedua pucuk surat itu sekarang tersimpan di Arquivos Nacionais Torre do Tombo, Cidade Universitaria, Lisabon, Portugal. Dalam artikel ini saya m
  • Sejarah /
    15 Mar 2009

    Sejarah Pop Minang Periode Awal

    Salah satu iklan rekaman lagu-lagu Minang dalam piringan hitam oleh Toko Anti Mahal, Fort de Kock (Sinar Sumarta, 1-8-1940) Lagu-lagu Minang, atau yang lebih dikenal sekarang dengan istilah pop Minang, ternyata sudah memiliki sejarah yang cukup panjang. Cikal-bakal pop Minang sudah muncul sejak akhir abad ke-19, demikian yang dapat dikesan dari artikel Bart Barendregt, The sound of longing for home; Redefining a sense of community through Minang popular music (BKI 158-3, 2002: 411-50). Paling tidak ada dua faktor yang saling terkait sebagai pendorong munculnya pop Minang pada masa itu: 1) tumbuhnya budaya urban di Padang akibat pemodernan ibukota Sumatras Westkust itu oleh Belanda dengan dibangunnya infrastruktur modern seperti perkeretaapian dan Pelabuhan Emmahaven (Teluk Bayur); 2) s
  • Sejarah /
    28 Feb 2009

    Karaeng Sangunglo dan Heroisme Bugis di Sri Lanka

    Namanya Karaeng Sangunglo atau kadang ditulis Sanguanglo. Ia adalah keturunan bangsawan Gowa, sebuah kerajaan lokal di Sulawesi Selatan. Tapi lelaki yang, menurut kesaksian seorang Inggris, berbadan besar berdegap itu berkubur jauh di seberang Laut Sahilan. Ia tewas dalam mempertahankan Kerajaan Kandy di jantung Pulau Ceylon (Sri Lanka) dari aneksasi kolonialis Belanda dan Inggris. Siapakah Karaeng Sangunglo? Inilah hikayat tentang dirinya, dirangkai dari serpihan data sejarah yang terserak dalam laporan orang Eropa, surat kabar, majalah dan buku-buku tua, naskah-naskah bertulisan Jawi, dan juga beberapa sumber kedua. Pulau Sumbawa suatu hari di tahun 1767. Sultan Fakhruddin Abdul Khair al-Mansur Baginda Usman Batara Tangkana Gowa sedang berada di ibukota Kerajaan Bima, penghasil kayu
  • Sejarah /
    1 Feb 2009

    Nagari Koto Gadang yang Fantastis

    Minggu yang lalu perhatian masyarakat Minangkabau, bahkan mungkin nasional, kembali tertuju ke Koto Gadang. Pada 24 & 25 Januari 2009 di nagari yang terletak di tepi Ngarai Sianok dan di barat kota Bukittinggi ini telah dilangsungkan puncak perhelatan Rang Minang Baralek Gadang, yang dihadiri oleh Wakil Presiden H.M. Jusuf Kalla. Pesta itu sendiri sudah usai bersamaan dengan berakhirnya rangkaian iven yang digelar di beberapa tempat dalam rangka alek gadang itu. Koto Gadang mungkin akan kembali lengang, sebagaimana banyak nagari lainnya di Minangkabau yang ditinggal pergi oleh warganya yang merantau ke berbagai belahan dunia. Tapi apakah yang dapat kita pelajari dari perjalanan sejarah Koto Gadang, sebuah nagari Minangkabau yang, sejak ditulis oleh K.A. James dalam artikelnya De
  • Sejarah /
    21 Dec 2008

    Leiden, Naskah Minangkabau, dan Tradisi Pengarsipan Belanda

    Cod.Or.1751: Buku Catatan Tuanku Imam Bonjol (655 hlm.), hlm.107-8 (warisan Akademi Delft, 1864): sketsa payung Rasulullah, kupiah Umar Umayya dan panji-panji Muhammad untuk melindungi diri dari setan (lihat Wieriga 1998:112). Leiden kota kecil di Belanda berpenduduk kurang lebih 250.000 jiwa adalah salah satu tempat banyak naskah Minangkabau disimpan sampai sekarang. Tepatnya naskah-naskah tersebut disimpan di Perpustakaan (Universiteitsbiliootheek [UB]) Universitas Leiden, universitas tertua di Belanda yang didirikan tahun 1575, dan di Koninklijk Instituut voor Taal,- Land- en Volkenkunde yang sering disingkat dengan KITLV Leiden.Naskah-naskah Minangkabau yang tersimpan di UB Leiden dan KITLV Leiden adalah bagian dari ribuan naskah Nusantara yang kini tersimpan di Belanda. Hal ini tent
  • Sejarah /
    23 Nov 2008

    Nonton Bioskop Di Padang Tempo Doeloe

    Padang adalah kota di Sumatera yang paling duluan maju. Mendekati akhir abad ke-19 budaya perkotaan modern sudah mulai berkembang di Padang. Kota modern tentu memerlukan berbagai sarana, termasuk sarana hiburan bagi warga kotanya. Media-media hiburan modern hasil teknologi Barat segera pula dikenal di Padang. Biasanya kalau media itu sudah dikenal di Batavia, tak lama kemudian akan diperkenalkan juga di Padang. Phonograf (mesin bicara), misalnya, pertama kali diperkenalkan di Padang tahun 1898, setelah teknologi ini dibawa dari Eropa ke Jawa beberapa tahun sebelumnya (Suryadi 2006). Lalu diperkenalkan juga teknologi fotografi. Menyusul kemudian film yang pada 1900 mulai diperkenalkan di Batavia. Pada dekade awal abad ke-20 warga kota Padang sudah menikmati film bioskop (dari kata Belanda
  • Sejarah /
    28 Oct 2008

    80 Tahun Sumpah Pemuda : Ramalan Perceraian dari Ruang Sidang Volksraad

    Adalah tiga lapisan benteng jang mentjeraikan bangsa itoe dan bangsa lain. Pertama sjak wasangka (vooroordeel), kedoea bahasa (taal) dan ketiga agama. Kutipan di atas berasal dari pidato anggota Fraksi Nasional, Abdoel Rasjid, dalam sidang Volksraad tanggal 13 Juli 1938, dua minggu setelah para intelektual dan pemuda republiken usai mengadakan Kongres Bahasa Indonesia I di Solo (25-28 Juni), sebagai pengejawantahan salah satu ikrar Sumpah Pemuda yang telah dicetuskan sepuluh tahun sebelumnya, yaitu Menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia. Gema kongres itu akhirnya sampai juga ke ruang sidang Volksraad di Batavia, dimana hirarki antara bahasa penjajah dan bahasa subjek terjajah dipertontonkan secara kasatmata. Walau agak terlambat, Fraksi Nasional, yang terbentuk pada bulan Januari
  • Sejarah /
    19 Oct 2008

    Buku 'Greget Tuanku Rao' dan Kontroversi Kepahlawanan Tuanku Tambusai

    Kompas (Kamis, 16/10/2008) memberitakan hasil diskusi tentang versi Bahasa Indonesia terbitan kedua (yang pertama 1992 oleh INIS) buku Christine Dobbin yang sudah cukup klasik: Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam dan Perang Padri (Jakarta: Komunitas Bambu, 2008). Buku itu juga didiskusikan lagi di Padang tanggal 18 Oktober ini. Diskusi buku itu adalah semacam kelanjutan dari polemik tentang Perang Paderi (1803-1837) yang telah berlangsung sejak tahun lalu. Salah seorang penggagas polemik itu adalah Basyral Hamidi Harahap (BHH), penulis buku Greget Tuanku Rao (Jakarta: Komunitas Bambu, September 2007). Dalam buku itu penulisnya antara lain mengeritik Tuanku Tambusai (1784-1882), Pahlawan Nasional pertama asal Riau berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 071/TK/Tahun 1995. Polemik mengenai
  • Sejarah /
    12 Sep 2008

    Letusan Krakatau di Mata Pribumi

    Halaman penutup Syair Lampung Karam, yang ditulis Muhammad Saleh, tentang kesaksian meletusnya Gunung Krakatau pada tahun 1883. Letusan gunung tersebut menimbulkan tsunami dan gelombang laut setinggi 40 meter, serta mengakibatkan setidaknya 36.000 orang tewas. (Orang banyak nyatalah tentu, Bilangan lebih daripada seribu, Mati sekalian orangnya itu, Ditimpa lumpur, api, dan abu. Pulau Sebuku dikata orang, Ada seribu lebih dan kurang, Orangnya habis nyatalah terang, Tiadalah hidup barang seorang. Rupanya mayat tidak dikatakan, Hamba melihat rasanya pingsan, Apalah lagi yang punya badan, Harapkan rahmat Allah balaskan.) Berita ditemukannya satu-satunya sumber pribumi tertulis yang memuat kesaksian mengenai letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883, mengejutkan banyak orang. Dalam tempo 48

Author

Recent Post

Recent Comments