Suryadi

  • Sejarah /
    7 Jun 2008

    J.L. Van Der Toorn: Kepala Sekolah Raja (Kweekschool) Bukittinggi Pemerhati Budaya Minang

    Bagi peneliti sejarah Minangkabau, khususnya di bidang bahasa, pendidikan, dan antropologi, nama J.L. van der Toorn tentu tidak asing lagi. Tetapi mungkin sekarang tidak banyak orang yang tahu nama Van der Toorn dan sumbangan ilmiah yang telah diberikanya kepada the body of knowledge kebudayaan Minangkabau. J.L. van der Toorn adalah salah seorang directeur (kepala) Sekolah Raja (Kweekschool) di Bukittinggi, sebuah sekolah Eropa yang ternama di Sumatra pada zaman kolonial yang mulai didirikan tahun 1872 (sebelumnya bernama Noormaalschool yang didirikan tahun 1856). Ia menjabat sebagai kepala sekolah itu tahun 1877 sampai 1888, dan kemudian menjabat lagi selama beberapa bulan saja di awal tahun 1895. Beberapa guru yang pernah membantu Van der Toorn mengajar di Sekolah Raja yaitu guru Ero
  • Sejarah /
    6 Jun 2008

    Mengenang Kebangkitan Bahasa Nasional

    Lebih dari 400 tahun lamanya sebuah bahasa asing dari utara, dengan struktur morfologis, sintaksis, dan semantis yang sangat aneh terdengar di telinga dan sulit dilafalkan oleh mulut si pribumi, bertengger di atas puncak piramid struktur sosial-politik bumi Nusantara bikinan Belanda. Bahasa itu adalah Bahasa Belandasebuah bahasa yang pada mulanya diperkenalkan di bumi persada ini oleh mulut para pencari rempah-rempah dari Eropa yang berkulit putih, berhidung mancung, berperawakan tinggi dan sering brewokan. Posisi superior dan ekslusif Bahasa Belanda itu ditegakkan oleh si penjajah di bumi Nusantara dengan pena, lidah, dan senjata. Selama beratus tahun Bahasa Belanda diangungkan dan dibuat ekslusif dalam masyarakat Hindia Belanda yang dikendalikan oleh minoritas ruling class penjajah sehi
  • Sejarah /
    15 Mar 2008

    Surat-Surat Sultan Buton, Dayyan Asraruddin dan Kaimuddin I. (Koleksi Universiteitsbibliotheek Leiden, Belanda)

    Abstract An important part of the Butonese manuscript treasure collection are the royal letters of the Sultanate of Buton, which were mostly sent during the colonial period to the Dutch colonial authority in Makassar or to Batavia. These letters were written in Arab-Malay (Jawi) script and used the Malay or Wolio languages. The Sultanate of Buton was a sovereign maritime kingdom situated on the south-eastern tip of Sulawesi. It was established in the 14th century but disappeared as a polity in 1960 after it integrated into the Republic of Indonesia. During the era of the Dutch East Indies Company (VOC) in Indonesia, Buton was already known as a transit harbour for trading ships belonging to the VOC, Gowa, Bone and Ternate. From the 17th to 19th centuries the Sultanate of Buton was the Du
  • Sejarah /
    29 Feb 2008

    Tuanku Imam Bonjol: Dikenang Sekaligus Digugat

    Instead, Tuanku Imam Bonjol is remembered, a man who was ultimately a military failure, who was ideologically disillusioned, and for whom a shift from violent action to conciliatory discourse was rewarded with exile and misery (Jeffrey Hadler). Sepanjang 62 tahun kemerdekaan Indonesia, nama Tuanku Imam Bonjol (TIB) hadir di ruang publik bangsa inisebagai nama jalan di banyak kota, nama stadion, nama universitas, bahkan di lembaran 5000-an rupiah keluaran Bank Indonesia 6 November 2001 (lihat ilustrasi). TIB (1772-1864), yang diangkat sebagai pahlawan nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No.087/TK/Tahun 1973, tanggal 6 November 1973, adalah salah seorang pemimpin utama Perang Paderi di Sumatra Barat (1803-1837) yang gigih melawan kolonialis Belanda. Namun, ba
  • Sejarah /
    10 Nov 2007

    Pemimpin Utama Perang Paderi

    Imam Bonjol, Tuanku (1722-1864) Tuanku Imam Bonjol (TIB) (1722-1864), yang diangkat sebagai pahlawan nasional berdasarkam SK Presiden RI Nomor 087/TK/Tahun 1973, 6 November 1973, adalah pemimpin utama Perang Paderi di Sumatera Barat (1803-1837) yang gigih melawan Belanda. Selama 62 tahun Indonesia merdeka, nama Tuanku Imam Bonjol hadir di ruang publik bangsa: sebagai nama jalan, nama stadion, nama universitas, bahkan di lembaran Rp 5.000 keluaran Bank Indonesia 6 November 2001. Namun, baru-baru ini muncul petisi, menggugat gelar kepahlawanannya. TIB dituduh melanggar HAM karena pasukan Paderi menginvasi Tanah Batak (1816-1833) yang menewaskan “jutaan” orang di daerah itu (http://www.petitiononline. com/bonjol/petition.html). Kekejaman Paderi disorot dengan diterbitkannya bu
  • Sejarah /
    6 Nov 2007

    Jejak Kabur G30S di Benak Generasi Digital

    Begitu tanggal 28 Oktober menjelang tiap tahun, bertebaran opini di koran-koran kita mengenai Sumpah Pemuda. Para kolomnis, yang hidup telah begitu jauh dari zaman ketika Soempah Pemoeda itu lahir, mencantelkan sedikit kenangan buram mereka tentang peristiwa heroik itu untuk kaum muda kita. Bahwa ada tiga ikrar yang diucapkan tgl. 28 Oktober 1928 oleh para pemuda dengan semangat merdeka membaja, di Betawi, ibukota Hindia Belanda. Selebihnya adalah debat apakah Sumpah Pemuda itu masih relevan untuk Indonesia masa kini, khususnya kaum mudanya. Ada yang bilang masih, yang lain mengatakan sudah tidak. Mungkin ada baiknya menayangkan sedikit film hitam-putih itu, untuk sekadar membangkitkan kenangan historis para pemuda kita hari ini, yang sehari-hari melahap menu MTV, McDonald, dan HP made i
  • Sejarah /
    6 Nov 2007

    Dari "Selompret Malajoe" Sampai "Slompret Melayoe"

    Yogyakarta Forum Kompas, Selasa, 06 November 2007 Oleh Suryadi Benarkah Selompret Melajoe Terbit Perdana 1860? demikian judul tulisan Saifur Rohman, kandidat doktor ilmu filsafat UGM, di harian ini September lalu. Artikel itu menanggapi pernyataan Dr Dewi Yulianti, pakar sejarah pers Fakultas Sastra Universitas Diponegoro, yang mengatakan bahwa Selompret Melajoe terbit tahun 1860. Hal itu dikemukakannya dalam sarasehan “Melacak Jejak Pers Jawa Tengah” yang diselenggarakan oleh Persatuan Wartawan Indonesia Jawa Tengah. Menurut Saifur Rohman, jika yang dimaksud Dewi Yulianti adalah Selompret Melajoe-dengan kata “Melajoe”, bukan “Melaijoe”-maka ia meragukan bahwa surat kabar itu terbit pertama kali tahun 1860. Tulisan ini dimaksudkan untuk memberi sedikit
  • Sejarah /
    25 Oct 2007

    Giliran Sejarah Perang Paderi yang Hendak Direvisi?

    Laporan itu dipicu oleh direpublikasikannya buku Mangaraja Onggang Parlindungan, Pongkinangolngolan Sinamabela gelar Tuanku Rao: Teror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak, 1816-1833 (Yogyakarta: LKiS, 2006) (pertama kali diterbitkan oleh Penerbit Tandjung Pengharapan, Djakarta, [1964]) dan satu buku lain karangan Basyral Hamidy Harahap, Greget Tuanku Rao (Jakarta: Komunitas Bambu, 2007). Dalam buku itu, dan merujuk laporan Tempo di atas, diceritakan kembali kekejaman dan kebrutalan yang telah dilakukan Kaum Paderi waktu mereka melakukan ivansi ke Tanah Batak. Kedua penulis, yang kebetulan berasal dari Tanah Batak, menceritakan penderitaan nenek moyang mereka selama serangan pasukan Paderi antara 1816-1833 di Tanah Batak yang dipimpin oleh komandan-komandan Paderi seperti Tuanku Rao,
  • Sejarah /
    25 Feb 2007

    Imbas Gerakan Paderi di Pantai Barat Sumatera (Cuplikan dari buku 'Syair Sunur')

    Tuanku Nan Renceh nyatakan perang jihad Di Sumatera, orang Belanda menuruti perintah rajanya itu dengan menyerahkan wilayah Sumateras Westkust kepada Inggris. Walaupun Inggris hanya berkuasa di Inggris, namun mereka mendengar bahwa di pedalaman ada sebuah kerajaan yang berdaulat, juga terhadap wilayah pantai dimana mereka sekarang berada. Orang-orang Inggris itu juga mendengar bahwa di pedalaman sebuah revolusi digerakkan oleh sekelompok ulama reformis yang baru pulang dari Mekah. Pertentangan-pertentangan dan pertumpahan darah antara sesama orang Minangkabau sendiri akibat revolusi itu sudah sering terjadi dan orang-orang Inggris di Padang mendengarnya dari laporan para pedagang, tetapi mereka enggan campur tangan dalam kisruh agama antara sesama pribumi itu. Sampai akhir dekade ke
  • Sejarah /
    15 Feb 2007

    Kontroversi Kaum Paderi: Jika Bukan Karena Tuanku Nan Renceh

    Keterangan foto: Benteng Fort de Kock di Bukittinggi (1826). Seorang panglima Paderi dengan pedang dan al-Qur’an dalam kantong kain yang digantungkan di leher mengawasi benteng itu dari kejauhan. Sumber: H.J.J.L. Ridder de Stuers, De vestiging en uitbreiding den Nederlanders ter Westkust van Sumatra, Deel 1, Amsterdam: P.N. van Kampen, 1849: menghadap hlm. 92 Masyarakat Minangkabau masa lampau pernah merasakan pengalaman pahit akibat radikalisme agama. Di awal abad ke-19, demikian catatan sejarah, dekadensi moral masyarakat Minang sudah tahap lampu merah. Golongan ulama kemudian melancarkan gerakan kembali ke syariat, membasmi bidah dan khurafat. Mereka melakukannya dengan pendekatan persuasif melalui dakwah dan pengajian. Namun, kemudian muncullah seorang yang radikal dan militan

Author

Recent Post

Recent Comments