Suryadi

  • Kabar Berita / Tokoh Minang /
    27 Jan 2015

    Orang Koto Gadang 1* : Perubahan sosial-budaya di Minangkabau

    Oleh: St. Perang Boestami 2* Bumiputera Pulau Sumatera yang mula-mula maju ialah orang Sumatera Barat. Sebab itu di Sumatera Baratlah mula-mula berdiri Sekolah Raja (Sekolah Guru) 3*. Anak Sumatera Barat pulalah yang mengembangkan ilmu pengetahuan yang dituntutnya di Sekolah Raja itu ke seluruh Pulau Sumatera. Kampung yang mula-mula maju di Sumatera Barat ialah kampung Koto Gadang.4* Sebab itu dimana saja di Kepulauan Hindia ini adalah tersua orang Koto Gadang atau [ke]turunan Koto Gadang memegang rupa-rupa pekerjaan Gubernemen dan pekerjaan partikulir. Pada masa ini [1923] anak Koto Gadanglah yang sebanyak-banyaknya menjadi dokter, di antaranya ada yang bergelar Dr., yakni Dr. Sjaaf, yang gambarnya telah pembaca lihat di dalam Pandji Poestaka no. 32 [Tahoen 1, 9 Agustus 1912:1-2].5* Di
  • Sejarah / Tokoh Minang /
    22 Oct 2014

    In Memoriam Prof. Harun Zain (1 Maret 1927 - 19 Oktober 2014)

    Pada Minggu pagi 19 Oktober 2014 Allah SWT telah memanggil kembali salah seorang putra Minang terbaik: Bapak Harul Alrasyid Zain, mantan Gubernur Sumatra Barat dua periode (1966-1977). Dalam usia 87 tahun, beliau pergi mengahadapNya dengan tenang di kediaman beliau di Jakarta. Hasril Chaniago dalam 101 Orang Minang di Pentas Sejarah (2010:284) mencatat bahwa Harun Zain, begitu beliau sering dipanggil, adalah seorang gubernur yang berhasil mengembalikan harga diri orang Minangkabau yang hancur remuk akibat kalah dalam pergolakan PRRI (1958-1961). Dalam pertemuan penulis dengan Bapak harun Zain di kediaman beliau di Kebayoran Baru Jakarta pada 21 Januari 2014, beliau bercerita betapa pada masa awal tugasnya sebagai gubernur Sumatra Barat, beliau menghadapi masyarakat Minangkabau yang m
  • Tokoh Minang /
    14 Mar 2010

    In Memoriam Prof. Dr. Umar Junus (1934-2010)

    Ketika sedang menuju ruang kuliah siang di tepian kanal Van Eyckhof, Leiden, Belanda, awal minggu ini, sebuah pesan pendek (sms) masuk ke hp kuno saya: Dear frens (sic!), Bapak passed away peacefully at. 9.15 pm. Sms itu dikirim dari Kuala Lumpur oleh Ervan Yunus, anak bungsu Umar Junus, yang memberitakan kepergian ayahnya menemui sang Khalik. Saya tertegun, dan langsung teringat kepada dunia ilmu dan kritik sastra Indonesia dan Malaysia yang kini telah kehilangan lagi salah seorang pakarnya yang terbaik dan sangat prolifik: Prof. Dr. Umar Junus. Umar Junus meninggal pada hari Senin, 8 Maret 2010 pukul 9.15 malam waktu Kuala Lumpur dalam usia 76 tahun. Beliau meninggal di Pusat Perubatan Universiti Malaya (University Malaya Medical Centre) setelah menderita sesak napas akibat penyaki
  • Tokoh Minang /
    1 Dec 2008

    ANWAR ST. SAIDI : Putra Minang penggagas Bank Nasional

    Orang Minang memang sudah lama menjadi pedagang. Tapi sistem berdagang mereka masih bersifat tradisional: mereka menyimpan uang dan emas dalam peti atau karung yang disembunyikan di tempat yang aman di kedai atau di rumah. Mereka amat jarang berurusan dengan bank dan asuransi. Akibatnya, jika terjadi kebakaran, misalnya, uang dan harta benda mereka habis tandas dilalap sigulambai, seperti dicatat dalam Kitab Sjair Pasar Kampoeng Djawa Padang terbakar pada 5 Juli 1904 oleh Mohamad Thahar galar Radja Mangkoeta (Padang: De Volharding, 1906): Habis segala barang dagangan / oeang dan emas beriboe etongan / Tidak berapa dapat pertoeloengan / menjadi <h>aboe sampai bilangan (hal.2). Sampai kemudian di tahun 1930-an muncul gagasan dari seorang putra Minang untuk mendirikan bank guna memajuk
  • Tokoh Minang /
    24 Oct 2008

    Jahja Datoek Kajo dan Pemberontakan Bahasa Indonesia di Volksraad

    Jahja Datoek Kajo (1 Agustus 1874 9 September 1942) Pria berkumis melintang itu terpilih menjadi anggota Volksraad mewakili masyarakat Minangkabau selama dua periode (1927-1931 & 1935-1939). Sejak dilantik menjadi anggota Dewan Rakyat itu, Jahja Datoek Kajo (JDK), demikian nama pria itu, telah mengubah sebuah tradisi di salah satu majelis tinggi kolonial itu: ia konsisten menggunakan Bahasa Indonesia (pada waktu itu disebut juga Bahasa Melayu) dalam setiap pidatonya, suatu tindakan yang sebelumnya tabu dilakukan di Volksraad. JDKlahir di Koto Gadang, Sumatera Barat, tanggal 1 Agustus 1874 dari pasangan Pinggir (ayah) dan Bani (ibu)adalah salah satu dari delapan wakil masyarakat Minangkabau yang pernah duduk di Volksraad. Ia telah menjabat berbagai posisi dalam jajaran administrasi
  • Tokoh Minang /
    9 Jul 2006

    SYARIFAH NAWAWI : Wanita Minang pertama yang mengecap sistem pendidikan Eropa

    Orang Minangkabau terkesan terlalu membanggakan demokrasi matrilinealnya, yang katanya membuat status kaum wanita mereka lebih baik dalam masyarakat ketimbang kaum wanita dari suku bangsa lain. Sampai batas tertentu hal itu mungkin betul. Namun, pada hakekatnya kaum wanita Minang pada zaman lampau, seperti halnya di tempat-tempat lain, juga tersubordinasi di bawah dominasi kaum pria. Di bidang pendidikan umpamanya, umumnya keluarga Minang menganggap lebih penting menyekolahkan anak laki-laki ketimbang anak perempuan (lihatlah refleksinya dalam banyak novel Indonesia awal yang dituils oleh penulis Minang). Anak-anak gadis dipingit orang tuanya di rumah untuk kemudian menjalani kawin paksa di usia muda. Mungkin Syarifah Nawawi adalah gadis Minang pertama yang terbebaskan dari tradisi kuno i
  • Tokoh Minang /
    11 Jun 2006

    Marzuki Dt. Mangulak Basa

    Marzuki Dt. Mangulak Basayang lebih terkenal dengan gelar adatnya: Dt. Mangulak Basaadalah salah satu dari sepuluh pendiri (oprichter) Bank Nasional, banknya urang awak yang didirikan di Bukittinggi akhir tahun 1930. Sembilan pendiri lainnya adalah: Anwar St. Saidi, H. Mohd. Jatim, H. Sjamsuddin, H. Mohd. Thaher, H.M.S. Sulaiman, Djamain Abd. Murad Tk. Mudo, H. Sjarkawi Chalidi, Rasjid St. Tumanggung, dan Malin Sulaiman. Dilahirkan di Bukittinggi pada tahun 1886, Marzuki kecil disekolahkan oleh orang tuanya di Volkschool (sekolah dasar 3 tahun) di kota kelahirannya. Ayahnya, Angku Kitab gelar Dt. Dunia Basa, adalah seorang pedagang tembakau di Bukittinggi. Sepulang dari sekolah Marzuki kecil sering membantu ayahnya di toko, terutama pada hari pekan di Bukittinggi, yaitu hari Rabu dan Sab

Author

Recent Post

Recent Comments