Suryadi

  • Paco-paco Minangkabau /
    1 Dec 2015

    Paco-paco Minangkabau #35 Orang Komunis mencincang mati Asisten Demang

    Orang Komunis mencincang mati Asisten Demang Sincincin       “Menoeroet kabar Aneta dari Padang tanggal 7 Aug, j.l. [1926]  baroe-baroe ini di Padanglawas t. Ass Demang Sitjintjin diserang oleh sekawan kaoem kominis, ja’ni waktoe beliau bersama-sama dengan seorang Nagari hoofd, djoeroetoelis Penghoeloe dan seorang opas mengoendjoengi tempat terseboet oentoek menahan beberapa orang anggota Sarekat Tani dan merampas kartjis kartjis tanda mendjadi anggota perhimp. terseboet. T. Ass. Demang dan Nagari hoofd menembakkan péstolnja sampai doea kali, tetapi ta’ mengenai seorangpoen. T. Ass. Demang laloe ditjintjang oleh mereka itoe, sedang temannja melarikan diri.         18 orang dari kaoem penjerang telah ditan
  • Minang Saisuak /
    1 Dec 2015

    Minang Saisuak #241 - Jirat Syekh Mungka

    Di Minangkabau, makam ulama-ulama terkemuka atau orang kaya-kaya kadang-kadang ditempatkan dalam sebuah bangunan yang sengaja dibuat untuk melindungi makam itu. Makam seperti itu disebut jiraik (sering di-Melayutinggikan menjadi jirat). Biasanya dalam jirat dimakamkan pula ulama-ulama lain yang masih termasuk trah murid oleh ulama terkemuka itu, atau, dalam kasus orang kaya-kaya, anggota keluarga atau keturunannya. Rubrik Minang saisuak kali ini menurunkan sebuah foto klasik yang mengabadikan secara visual jiraik Syekh Mungka. Beliau adalah seorang ulama terkemuka yang pernah dimiliki Minangkabau pada awal akhir abad ke-19 dan awal abad-20. Al-Faqir Apria Putra dalam blognya http://surautuo.blogspot.nl/2011/12/al-marhum-syekh-muhammad-saad-al.html menulis bahwa nama lengkap ulama yang
  • Sejarah /
    28 Nov 2015

    Melawan Amnesia Sejarah : [Menggugat Patung] Jenderal Van Heutsz

    [MENGGUGAT PATUNG] JENDERAL VAN HEUTSZ [DI JAKARTA] Kami telah menerima manifest dari P.P.P.I. yang berbunyi sebagai berikut: Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia mengadakan rapat anggota pada hari Jumat tanggal 12 Agustus 1932 di Gedong Indonesia di Kramat 106 di kota Jakarta: Setelah mendengarkan pembicaraan-pembicaraan tentang soal pendirian patung van Heutsz yang dianjurkan oleh van Heutsz komite, dan akan dilantik di muka [orang] ramai pada tanggal 23 Agustus 1932: Lalu rapat mengeluarkan pikiran dan memutuskan: pertama: bawa riwayat Jenderal van Heutsz adalah berarti suatu kesengsaraan [bagi] rakyat Indonesia sebagai bangsa yang terjajah dan nama van Heutzs adalah bergantung [terkait] dengan kehilangan kemerdekaan beberapa daerah di tanah tumpah darah Indonesia [yang] menjadi kor
  • Sejarah /
    24 Nov 2015

    Melawan Amnesia Sejarah : Putusan SPOED Konferensi Dewan PERMI

    PUTUSAN SPOED KONFERENSI  DEWAN PELAJARAN DAN PENDIDIKAN PERSATUAN MUSLIM INDONESIA (PERMI) Konferensi Dewan Pelajaran dan Pendidikan Permi yang terjadi di Bukittinggi pada 26-27 Desember 1932 dihadiri oleh 214 utusan guru-guru dan pengurus-pengurus putri-putri dari 59 sekolah Thawalib dan sekolah-sekolah yang di bawah pernaungan Dewan Pelajaran dan Pendidikan Permi, setelah memperbincangkan dengan lebar panjang tentang ordonansi baru yang ditujukan kepada segenap sekolah partikulir; konferensi: Berpendapat: Bahwa ordonansi sekolah partikulir bertentangan dengan dasar keislaman dan kemanusiaan; Sekolah Thawalib dan Dewan Pelajaran dan Pendidikan Permi dan sekolah-sekolah di bawah pernaungannya, semuanya itu dapat pukulan dari ordonansi tersbut; Ordonansi sekolah partikulir merusa
  • Renung /
    24 Nov 2015

    Renung #55 | Perut

    “Apabila perut terlalu penuh, Keluarlah fiil yang tiada senonoh.” (Raja Ali Haji, Gurindam Dua Belas, Pasal III, bait 5) Perut adalah bagian tubuh manusia yang paling nyata tampak perubahannya. Perubahan itu tak mungkin dapat disembunyikan, walau dalam baju longgar bergaya Hadramaut sekalipun. Mungkin usia rata-rata manusia Indonesia tak lebih dari 70 tahun, dan memasuki usia setengahnya, malah sering lebih awal, perubahan perut sudah terlihat nyata: membuncit dan melebar ke kiri-kanan…tanpa dapat dikendalikan. Walau banyak orang, terutama kaum hawa, gundah dengan perubahan pada bagian tengah tubuh ini, tak sedikit pula yang acap tak sadar akan perubahan itu dan menganggapnya sebagai sesuatu yang lumrah dan biasa saja. Mungkin ada baiknya jika sesekali Anda, terutama
  • Paco-paco Minangkabau /
    24 Nov 2015

    Paco-paco Minangkabau #34. Mosi tak percaya terhadap anggota Volksraad

    Mosi tak percaya terhadap anggota Volksraad Yahya Datuak Kayo “Sum[atra] Bode mewartakan, di Pajakomboeh baroe-baroe ini diadakan vergadering oléh ± 5000 orang Kepala negeri dan wakil-wakil dari Tanah Datar. Oléh vergadering itoe dipoetoeskan akan memadjoekan permohoenan pada Déwan Hindia dengan kawat soepaja t. Loetan diangkat poela mendjadi lid Volksraad, karena t. [Jahja] Datoek Kajo jang terpilih djadi lid Volksraad itoe ta’ dipandang sebagai wakil Minangkabau (J. B.).” *** Laporan majalah Pandji Poestaka, No. 9, Tahoen V, 1 Februari 1927, hlm. 135 (rubrik Kroniek) tentang rapat besar yang diadakan oleh para penghulu dan kepala nagari luhak 30 Kota, yang juga dihadiri oleh wakil-wakil dari Luhak Tanah Datar. Hasil rapat itu antara lain me
  • Minang Saisuak /
    24 Nov 2015

    Minang Saisuak #240 - Bgd Dahlan Abdoellah masa bersekolah di Den Haag

    Dalam rubrik ‘Minang saisuak’ edisi Minggu, 29 Desember 2013, sudah diturunkan profil Bagindo Dahlan Abdoellah, salah seorang putra Pariaman generasi awal yang bersekolah ke Negeri Belanda. Lahir di Pasia, Pariaman, pada 15 Juli tahun 1895, Dahlan Abdullah – dalam dokumen-dokumen kolonial namanya biasa ditulis ‘Baginda Dahlan Abdoellah’ – menamatkan pendidikannya di Kweekschool (Sekolah Radja) Fort de Kock, kemudian melanjutkan pendidikannya ke Belanda. Di Kweekschool Fort de Kock, Dahlan Abdoellah kurang lebih seangkatan dengan Tan Malaka dan Sjarifah Nawawi (lihat: rubrik ‘Minang saisuak’, edisi Minggu, 27 Februari 2011). Selama berada di Belanda, Dahlan aktif dalam Perhimpoenan Hindia (Indische Vereeniging), organisasi pertama yang men
  • Resensi Buku /
    15 Nov 2015

    NAPAK TILAS HISTORIS DUNIA MELAYU

    Ahmad Dahlan, PhD, Sejarah Melayu. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2014, ISBN 978-979-91-0798-5 (hard cover) Mungkin tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa buku ini adalah ‘cermin terus’ untuk menelusuri perjalanan sejarah bangsa Melayu sejak zaman sebelum ‘air bersentak naik, bumi bersentak turun’ hingga zaman sekarang. Tebalnya mencapai xxiv + 623 halaman, mencakup 30 bab, termasuk bab Pengantar oleh budayawan Melayu (almarhum) Dr. (HC) H. Tenas Effendy (hlm.xix –xxiii), Warkah Pembuka  atau bab pendahuluan (hlm. 1-24), dan Kesimpulan dan Saran (Bab XXX, hlm. 561-565).   Beberapa saat setelah saya menerima satu eksemplar buku ini dari sastrawan Riau Fakhrunnas MA Jabbar dan Ramon Damora dalam kesempatan kunjungan mereka berdua ke Leiden
  • Sejarah /
    13 Nov 2015

    Renungan Hari Pahlawan 2015: Orang Minang Menghadapi Agresor Belanda

    Renungan Hari Pahlawan 2015: Orang Minang Menghadapi Agresor Belanda : Perang Sabil Melawan ‘Musuh Allah dan Musuh Kita’  Pada pertengahan Juli 1947, kaum Muslim di Indonesia sedang menunaikan ibadah puasa. Suasana Ramadahn tentu terasa di mana-mana, juga di Sumatera Barat: surau dan mesjid diramaikan oleh jemaah yang melaksanakan shalat taraweh. Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh serangan Belanda yang dilakukan secara mendadak. Belanda menyerang titik-titik penting wilayah Republik Indonesia, terutama di Jawa dan Sumatera. Banyak orang tidak menyangka bahwa Belanda tanpa rasa malu melanggar kesepakatan damai Perundingan Linggarjati yang baru saja ditandatangani pada 25 Maret 1947. Pada 20 Juli 1947 Belanda melancarkan perang yang kemudian dikenal sebagai Agresi Belanda I.
  • Paco-paco Minangkabau /
    10 Nov 2015

    Paco-paco Minangkabau #33. Usulan Sumatranenbond kepada Pemerintah (19

         “Oléh rapat ‘Sumatranenbon[d]’jang diadakan di Betawi pada hari [M]inggoe jbl. telah ditetapkan akan memadjoekan 2 boeah motie [ke]pada pemerintah, oentoek angkatan lid Volksraad. Motie jang pertama berisi nama seorang kandidat jaïtoe t. Dr. A. Rivai dan motie jang kedoea berisi nama t. t. Dachlan Abdoellah, hoofdonderwijzer H.I.S. Tj. Pinang; Abdoel Moeis di Garoet; dr. Rasjid, Ind[landsche] Arts Tapanoeli; Tjik Nang, Schoolopziener; Tengkoe Taijeb di Atjéh, dan St. Moh. Zain di Weltevreden.”   *** Laporan majalah Pandji Poestaka, No. 14, Tahoen V, 18 Februari 1927, hlm. 225 (rubrik Kroniek) tentang dua usulan yang disampaikan oleh ikatan intelektual Sumatera Sumatranenbond kepada Pemerintah, yaitu pencalonan beberapa

Author

Recent Post

Recent Comments