Suryadi

  • Minang Saisuak /
    10 Nov 2015

    Minang Saisuak #239 - Tewasnya Si Patai Maharajo Jambi

    Tewasnya Si Patai Maharajo Jambi: Hero Padangsche Ommelanden Akhir tahun 1926 sampai Januari 1927 Ranah Minangkabau bergolak: orang-orang kominis (ditulis demikian, bukan ‘komunis’) melakukan pemberontakan di mana-mana. Yang paling heroik di daerah Sijunjung dan sekitarnya, khususnya di Silungkang dan Sawahlunto. Itu adalah masa ketika rasa palak kepada Pemerintah Kolonial Belanda memuncak akibat kebijakan-kebijakan penjajah yang makin lama makin mencekik leher rakyat.             Sudah sejak awal 1920-an ideologi komunis mendapat sambutan hangat di Sumatera Barat yang bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah itu. Mulanya benih itu muncul di Padang Panjang, Serambi Mekah. Adalah Datuak Batuah dan kawan-kawan seangkat
  • Sejarah /
    6 Nov 2015

    “Komidi Bangsawan” asuhan Sultan Riau Lingga

    Foto yang menjadi fokus pembicaraan dalam esai ini direproduksi dari Bandera Wolanda No. 76, 1911, hlm. 5. Berkala ini, yang kaya dengan tulisan dan gambar yang bagus-bagus tentang berbagai tempat dan peristiwa politik di dunia dan di Hindia Belanda, terbit di Amsterdam sejak 1900, dan sempat bertahan sekitar sepuluh tahun. Terajunya dipegang oleh tiga mahasiswa Hindia (Indonesia) yang memiliki talenta jurnalistik yang amat mengesankan: J. E. Tehupeiory asal Maluku (yang malangnya meninggal di Utrecht tahun 1908 karena keracunan gas pemanas kamar tidurnya yang lupa dimatikan) dan dua orang Minangkabau: Abdul Rivai dan Amaroellah gelar Soetan Mangkoeto. Turut memapah dari belakang Tuan Clockener Brousson, pensiunan tentara KNIL yang bersimpati kepada orang Indonesia itu. Di nomor Bander
  • Sejarah /
    4 Nov 2015

    Horor Bandung dan Kekejaman Agresi Belanda pasca 1945

    “Niuwe foto’s wreedheden Nederlands-Indië opgedoken” (Foto-foto baru tentang kekejaman di Hindia Belanda bermunculan), demikian judul satu artikel Volkskrant  terbitan Amsterdam edisi 16 Oktober 2015 (lihat: http://www.volkskrant.nl/buitenland/nieuwe-foto-s-politionele-acties-nederlands-indie-opgedoken~a4164141/). “Niuw bewijs van executies in Indië” (Bukti baru tentang eksekusi di Hindia Belanda), kata artikel lain di harian itu yang ditulis oleh Lidy Nicolasen. Artikel itu terkait dengan temuan baru sebanyak 179 foto di Verzetsmuseum  (Museum Perlawanan) Zuid-Holland di Gouda. Foto itu secara tak sengaja ditemukan oleh Joost Lamboo, kurator yang menangani koleksi visual museum tersebut. Ia menemukannya dalam tumpukan “memories o
  • Paco-paco Minangkabau /
    1 Nov 2015

    Paco-paco Minangkabau #32. Sumatranenbond ganti pengurus

         “Karena Sumatranenbond soedah kehilangan beberapa pemoekanja, diantaranja voorzitter Dt. Toemanggoeng dan lid2 bestuur jang lain tinggal sedikit lagi, maka baroe-baroe ini telah diadakan vergadering oentoek melengkapi lagi bestuurnja. Hoofdbestuur dipilih, terdiri dari t.t.: Voorzitter: St. Mohd. Zain (Minangkabau), Secretaris: Parada Harahap (Tapanoeli), 2de secretaris: M. Noer Iskandar (Minangkabau).      Penningmeesteer: Hamid (Tapanoeli). Komissarissen: M. Sjahriar (Minangkabau), M.A. Moehammad (Palembang), Boerhanoedin (Lampoeng), Dr. Joenoes (Bengkoelen), nanti akan dilengkapi lagi wakil dari Atjeh dan Djambi. Openbare vergadering akan diadakan pada hari Minggu tl. 13 Februari digedoeng Loge Weltevreden. (B. T.).” *** Laporan maj
  • Minang Saisuak /
    1 Nov 2015

    Minang Saisuak #238 - Emas Hitam di Perut Sawahlunto

    Dinding yang berpendar karena cahaya kamera yang sedang dipacul oleh pekerja dalam foto ini adalah batubara kualitas terbaik di Indonesia. Itulah ‘emas hitam’ di perut bumi Ombilin, Sawahlunto. Tujuh orang pekerja yang terlihat dalam foto ini berada di bawah tanah, dalam lorong yang gelap dan lembab tapi penuh dengan batubara. Sejarah telah mencatat bahwa adalah W.A. de Greve (meninggal dalam kecelakaan perahu di Sungai Kuantan pada 18 Oktober 1872) yang menemukan kandungan batubara di Sawahlunto. Geolog muda itu lahir di Frakener, Belanda, pada 15 April 1840. Dalam usia masih 19 tahun, ia telah meraih gelar insinyur pertambangan dari Akademi Delft pada 1859. Kemudian ia segera pergi ke Hindia Belanda untuk mengadu peruntungan. Pada 14 Desember 1861 ia ditunjuk oleh Pemerin
  • Sejarah /
    1 Nov 2015

    Menjemput kenangan 87 tahun silam: Sumpah Pemuda 1928

    Bagaimanakah bangsa Indonesia, khususnya kaum mudanya, memaknai Sumpah Pemuda, yang pada bulan ini kita peringati lagi? Mungkin, dalam riak zaman yang makin menggila ini, dan akibat digital amnesia, ingatan kaum muda kita terhadap peristiwa itu makin sayup. Mereka mungkin sedang galau dalam memaknai tiga kata inti dalam sumpah yang diikrarkan oleh kaum muda Indonesia tahun 1928 di Batavia (Jakarta): tanah air, bangsa, bahasa. Memasuki dekade kedua abad 21, ketiganya terasa makin terombang-ambing makin tak menentu di tengah meruyaknya budaya materialisme permisif global yang melanda bangsa ini.             Mungkin kaum muda sekarang perlu mengingat lagi gagasan-gagasan para pendahulu mereka, yang telah mencentuskan Sumpah Pemuda. “[D]alam boelan Oc
  • Paco-paco Minangkabau /
    27 Oct 2015

    Paco-paco Minangkabau #31. Pantolan komunis Si Patai tewas

         “Padang 4 Febr. [1927] (Aneta). Kemarin satoe patroli jang dikepalaï oléh sersan Menado Lindong soedah menangkap doea orang kawan si Patai: agaknja meréka itoe disoeroeh beli beras. Meréka itoe dipaksa oléh militér menoendjoekkan tempat semboenji si Patai. Apabila si Patai melihat kedatangan patroli itoe, ia menjerang dengan péstol browning dan rentjong. Militér menémbak si Patai itoe, kena di kepalanja dan toeboehnja, hingga mati. Dalam perkelahian itoe seorang kawan si Patai, Boejoeng namanja, [juga] mati ditémbak. Majat si Patai itoe hari ini dibawa ke kampoeng[nja]. (J.B.).” (a)      “Padang 7 Febr. [1927] (Aneta). Majat si Patai tidak diserahkan kepada kaoem k
  • Minang Saisuak /
    27 Oct 2015

    Minang Saisuak #237 - Anugrah bintang untuk putra Koto Gadang M. Rasad

    Anugrah bintang untuk putra Koto Gadang M. Rasad Dt. Gunuang Ameh Dalam satu nomor rubrik ini, kami sudah menurunkan profil Moehammad Rasad gelar Maharadja Soetan, Hoofddjaksa Landraad di Medan. Beliau putra Koto Gadang. Kini kami turunkan pula secuplik cerita tentang putra Koto Gadang yang lain yang juga punya nama panggilan Moehamad Rasad. Beliau adalah Moehammad Rasad gelar Datoek Goenoeng Emas. Belum diketahui kapan persisnya Moehamad Rasad lahir. Tapi, besar kemungkinan ia juga bersekolah di Fort de Kock, seperti banyak anak-anak Koto Gadang yang hidup sezaman dengannya. Yang jelas, pada Januari 1893 Rasad sudah menjadi leerling di kantor tuan Controleur Alahan Panjang. Dalam bulan Juli 1899 ia diangkat jadi inlandsch schrijver di tempat yang sama. Moehammad Rasad kemudian dipromo
  • Paco-paco Minangkabau /
    23 Oct 2015

    Paco-paco Minangkabau #30. Para pantolan komunis berhasil dilumpuhkan

         “Kepala-kepala kominis di Soematera Barat hampir semoeanja soedah dapat ditangkap atau diboenoeh, misalnya: Si Patai (ditémbak mati), Ngadimin (ditémbak mati), Soeman (ditangkap), Hadji Iman Samad (ditangkap), Nain (ditangkap), dan Hadji Dagam (ditangkap). Tetapi masih ada beberapa orang lagi jang tidak berapa pentingnja haroes ditangkap (J.B.).”      “Aneta kabarkan dari Padang, bahwa ketika malam Selasa j.l. dibilangan Kotatengah ada orang mentjoba hendak merampok. Tiga orang dari pada perampok-perampok itoe soedah ditangkap. (J.B.).”       “Dari Padang Aneta mengabarkan t[g]l. 4 Februari Majoor Rhemrev terima soerat kawat pemberian selamat dari toean Besar Goebernoer Djenderal oent
  • Minang Saisuak /
    23 Oct 2015

    Minang Saisuak #236 - Abdoel Moeis: Penentang Peraturan Pajak Kolonial

    Abdoel Moeis adalah nama yang tidak asing lagi bagi kita. Lahir di Sungai Puar, 3 Juli 1883, Moeis dikenal sebagai sastrawan, wartawan dan politikus. Ayah Moeis, Datoek Toemanggoeng Soetan Soelaiman, adalah laras Sungai Puar yang kritis kepada Belanda (lihat Minang saisuak, 6 Februari 2011). Sebagai sastrawan, Moeis menjadi kondang karena novelnya Salah Asoehan (1928) yang difilmkan Asrul Sani tahun 1972. Novel-novelnya yang lain adalah Pertemuan Jodoh (1933), Surapati (1950), dan Robert Anak Surapati (1953). Ia juga menerjemahkan beberapa novel asing ke dalam Bahasa Indonesia. Sebagai wartawan, Moeis berpengalaman bekerja sebagai anggota redaksi beberapa surat kabar, antara lain Bintang Hindia, Preanger Bode, dan Neratja. Sebagai politikus, kiprah Moeis di Sarekat Islam (SI) sudah dic

Author

Recent Post

Recent Comments