Suryadi

  • Kajian Umum /
    7 Jan 2008

    Khazanah Naskah dari Kepulauan Riau di Belanda

    Di Indonesia, mencari buku tua atau naskah klasik yang berumur mencapai 500 tahun mungkin tidak semudah menemukan HP atau mobil model terbaru. Lain halnya di Belanda: banyak dokumen tua dan artefak sejarah tersimpan baik di berbagai perpustakaan dan museumnya. Sulit untuk menyangkal bahwa kesadaran akan pentingnya arsip berbanding lurus dengan kemajuan kebudayaan sebuah negara-bangsa. Berkat kerapian sistem pengarsipan dan ketelitian sistem administrasinya sejak dulu sampai sekarang, Belanda yang tergolong negara maju, menjadi salah satu destinasi internasional studi kepustakaan sejarah Asia (Tenggara). Hal ini tentu terkait dengan sejarah kolonialisme Eropa pada zaman lampau yang juga dilakoni Belanda di beberapa negeri Asia (Sri Lanka, Taiwan, Indonesia, dsb.). Sudah menjadi pemandanga
  • Sastra & Budaya Minang /
    28 Dec 2007

    Posisi Geografis Benteng Marapalam : Catatan Singkat ke Arah Studi Genealogi ABS-SBK

    Munculnya kini euphoria ABS-SBK di Sumatera Barat, langsung atau tidak, tentu menimbulkan pertanyaan dalam masyarakat, terutama generasi muda, tentang sejarah pembentukan falsafah hidup kebanggaan orang Minang itu. Siapa yang merumuskan, bagaimana rumusannya, apakah rumusan itu tertulis atau lisan saja, tak ditemukan penjelasan yang komprehensif dalam buku sejarah. Generasi Minangkabau kini tidak memperoleh warisan tertulis apapun mengenai falsafah ABS-SBK, dasar negara etnis Minangkabau itu. Akibatnya, muncul berbagai interpretasi dan implementasinya dalam masyarakat. Memang ada semacam TOR lisan ABS-SBK itu yang diciptakan oleh cerdik-pandai Minangkabau di zaman dulu: syarak mandaki, adat manurun; syarak mangato, adat mamakai; syarak babuhua mati, adat babuhua sentak; syarak balinduang,
  • Kabar Berita /
    13 Dec 2007

    Belajar Bahasa Indonesia di Belanda

    Nina Nanlohy dan Bari Muchtar Rabu, 12 Desember 2007, Radio Nederland Siaran Indonesia ( Ranesi ) kedatangan tamu. Mereka adalah para mahasiswi Belanda yang baru tiga bulan kuliah di fakultas sastra jurusan bahasa Indonesia, Universitas Leiden. Apa motif mereka belajar bahasa negara bekas jajahannya itu? Ditemani dua orang dosen yaitu Suryadi dan Supriyanto, para mahasiswi ikut berdialog dalam acara Kotakpos Live. Di acara asuhan Nina Nanlohy, Eka Tanjung dan Bari Muchtar ini, pendengar diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan atau berkomentar dengan mengirim sms ke +31-64 500 3133. Selain itu ada beberapa pendengar yang ditelpon. Pada edisi ini pembawa acara menelpon Carles Ritonga, kepala sekolah SMPN 2, di Parapat, Sumatera Utara. Alasan belajar bahasa Indonesia Ditanya menge
  • Sejarah /
    10 Nov 2007

    Pemimpin Utama Perang Paderi

    Imam Bonjol, Tuanku (1722-1864) Tuanku Imam Bonjol (TIB) (1722-1864), yang diangkat sebagai pahlawan nasional berdasarkam SK Presiden RI Nomor 087/TK/Tahun 1973, 6 November 1973, adalah pemimpin utama Perang Paderi di Sumatera Barat (1803-1837) yang gigih melawan Belanda. Selama 62 tahun Indonesia merdeka, nama Tuanku Imam Bonjol hadir di ruang publik bangsa: sebagai nama jalan, nama stadion, nama universitas, bahkan di lembaran Rp 5.000 keluaran Bank Indonesia 6 November 2001. Namun, baru-baru ini muncul petisi, menggugat gelar kepahlawanannya. TIB dituduh melanggar HAM karena pasukan Paderi menginvasi Tanah Batak (1816-1833) yang menewaskan “jutaan” orang di daerah itu (http://www.petitiononline. com/bonjol/petition.html). Kekejaman Paderi disorot dengan diterbitkannya bu
  • Sejarah /
    6 Nov 2007

    Jejak Kabur G30S di Benak Generasi Digital

    Begitu tanggal 28 Oktober menjelang tiap tahun, bertebaran opini di koran-koran kita mengenai Sumpah Pemuda. Para kolomnis, yang hidup telah begitu jauh dari zaman ketika Soempah Pemoeda itu lahir, mencantelkan sedikit kenangan buram mereka tentang peristiwa heroik itu untuk kaum muda kita. Bahwa ada tiga ikrar yang diucapkan tgl. 28 Oktober 1928 oleh para pemuda dengan semangat merdeka membaja, di Betawi, ibukota Hindia Belanda. Selebihnya adalah debat apakah Sumpah Pemuda itu masih relevan untuk Indonesia masa kini, khususnya kaum mudanya. Ada yang bilang masih, yang lain mengatakan sudah tidak. Mungkin ada baiknya menayangkan sedikit film hitam-putih itu, untuk sekadar membangkitkan kenangan historis para pemuda kita hari ini, yang sehari-hari melahap menu MTV, McDonald, dan HP made i
  • Sejarah /
    6 Nov 2007

    Dari "Selompret Malajoe" Sampai "Slompret Melayoe"

    Yogyakarta Forum Kompas, Selasa, 06 November 2007 Oleh Suryadi Benarkah Selompret Melajoe Terbit Perdana 1860? demikian judul tulisan Saifur Rohman, kandidat doktor ilmu filsafat UGM, di harian ini September lalu. Artikel itu menanggapi pernyataan Dr Dewi Yulianti, pakar sejarah pers Fakultas Sastra Universitas Diponegoro, yang mengatakan bahwa Selompret Melajoe terbit tahun 1860. Hal itu dikemukakannya dalam sarasehan “Melacak Jejak Pers Jawa Tengah” yang diselenggarakan oleh Persatuan Wartawan Indonesia Jawa Tengah. Menurut Saifur Rohman, jika yang dimaksud Dewi Yulianti adalah Selompret Melajoe-dengan kata “Melajoe”, bukan “Melaijoe”-maka ia meragukan bahwa surat kabar itu terbit pertama kali tahun 1860. Tulisan ini dimaksudkan untuk memberi sedikit
  • Kajian Umum /
    30 Oct 2007

    Realitas dan Mitos Sumpah Pemuda

    Begitu tanggal 28 Oktober menjelang tiap tahun, bertebaran opini di koran-koran kita mengenai Sumpah Pemuda. Para kolomnis, yang hidup telah begitu jauh dari zaman ketika Soempah Pemoeda itu lahir, mencantelkan sedikit kenangan buram mereka tentang peristiwa heroik itu untuk kaum muda kita. Bahwa ada tiga ikrar yang diucapkan tgl. 28 Oktober 1928 oleh para pemuda dengan semangat merdeka membaja, di Betawi, ibukota Hindia Belanda. Selebihnya adalah debat apakah Sumpah Pemuda itu masih relevan untuk Indonesia masa kini, khususnya kaum mudanya. Ada yang bilang masih, yang lain mengatakan sudah tidak. Mungkin ada baiknya menayangkan sedikit film hitam-putih itu, untuk sekadar membangkitkan kenangan historis para pemuda kita hari ini, yang sehari-hari melahap menu MTV, McDonald, dan HP made in
  • Sejarah /
    25 Oct 2007

    Giliran Sejarah Perang Paderi yang Hendak Direvisi?

    Laporan itu dipicu oleh direpublikasikannya buku Mangaraja Onggang Parlindungan, Pongkinangolngolan Sinamabela gelar Tuanku Rao: Teror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak, 1816-1833 (Yogyakarta: LKiS, 2006) (pertama kali diterbitkan oleh Penerbit Tandjung Pengharapan, Djakarta, [1964]) dan satu buku lain karangan Basyral Hamidy Harahap, Greget Tuanku Rao (Jakarta: Komunitas Bambu, 2007). Dalam buku itu, dan merujuk laporan Tempo di atas, diceritakan kembali kekejaman dan kebrutalan yang telah dilakukan Kaum Paderi waktu mereka melakukan ivansi ke Tanah Batak. Kedua penulis, yang kebetulan berasal dari Tanah Batak, menceritakan penderitaan nenek moyang mereka selama serangan pasukan Paderi antara 1816-1833 di Tanah Batak yang dipimpin oleh komandan-komandan Paderi seperti Tuanku Rao,
  • Resensi Buku /
    24 Sep 2007

    Yang Tersisa Dan Masih Bertahan Dari Tradisi Pernaskahan Minangkabau

    Yusuf, M. (ed.). Katalogus Manuskrip dan Skriptorium Minangkabau. Tokyo: The 21th Century Centre of Excellence Programme, The Centre for Documentation & Area Transcultural Studies Tokyo University of Foreign Studies, 2006 (viii [i] + 295 [1] halaman) Usaha pemetaan dan pengidentifikasian kekayaan naskah Minangkabau yang tersebar di masyarakatnya di Sumatera Barat sudah lama menjadi cita-cita beberapa teman di Padang, khususnya di Fakultas Sastra Universitas Andalas (Unand). Saya ingat, semasa saya kuliah di Unand (1986-1991) dosen filologi dan sastra kami, Ibu Adriyetti Amir, pernah melontarkan ide ini. Namun, usaha itu terbentur dana dan tenaga. Dengan terbitnya Katalogus Manuskrip dan Skriptorium Minangkabau ini, akhirnya cita-cita itu kini jadi kenyataan. Katalogus ini y
  • Kajian Umum /
    6 Aug 2007

    Simposium Internasional XI Pernaskahan Nusantara Ungkap Bukti Otentik Perjalanan Sejarah Bima

    SIMPOSIUM Internasional XI Pernaskahan Nusantara yang berlangsung di Bima 26-28 Juli 2007 telah berakhir. Banyak kisah dan cerita masa lalu yang terungkap dan menjadi bahan diskusi 31 pemakalah dari dalam dan luar negeri serta 189 peserta simposium dalam sidang yang menarik. Kearifan lokal yang terkandung dalam naskah Nusantara membuka wawasan baru bagi pemerhati naskah kuno dan peserta yang nota bene baru mengenal keragaman sejarah masa lampau yang tercatat dalam naskah-naskah Nusantara. Suryadi, Opleiding Talen en Culturen van Zuidoost Azi en Oceani, Universiteit Leiden, Belanda, dalam makalahnya berjudul Surat-surat Sultan Bima Abdul Hamid kepada Kompeni Belanda Koleksi Universiteitsbibliotheek Leiden menyebutkan, sejauh penelusuran kepustakaan yang ia lakukan, tidak ada surat dari s

Author

Recent Post

Recent Comments