Suryadi

  • Diskusi Media Nusantara /
    3 Aug 2007

    Perpustakaan Dunia Koleksi Naskah Buton

    Kendari- Puluhan naskah Buton dalam bentuk surat resmi yang menggambarkan eksistensi kerajaan Buton pada masa lalu saat ini banyak tersimpan di sejumlah perpustakaan dunia seperti Belanda dan Inggris. Naskah tersebut menjadi koleksi yang tinggi nilainya karena dapat membuka tabir pemerintahan kesultanan buton dan VOC Belanada pada masa itu. Demikian disampaikan Suryadi, dosen budaya di Universitas Laiden Belanda, saat membawakan materi pada seminar internasional tentang khazanah kebudayaan melayu di Sultra yang digelar Pusat Penelitian Budaya dan Pariwisata Unhalu, Senin (23/7). “Surat tersebut telah beratus tahun lamanya tersimpan di luar negeri,” ungkap Suryadi. Tiga surat terakhir yang menjadi kajian akdemis, menurut Suryadi, saat ini berada di perpustakaan Universi
  • Kabar Berita /
    27 Jul 2007

    Suryadi: Tak Mudah Dapatkan Dokumen

    Bima, Nusatenggaranews.com Penyerahan 33 surat Sultan Abdul Hamid merupakan pengabdian sebagai warga negara yang memiliki akses kuat di luar negeri. Demikian pengakuan Dosen Departemen Asia Tenggara dan Oceania, Universitas Leiden Belanda, Suryadi, PhD, kepada Bimeks usai acara pembukaan di ruang sidang utama dewan, kemarin. Suryadi juga mengaku untuk mendapatkan dokumen itu tidak mudah, kecuali yang memiliki akses kuat dengan perpustakaan nasional Belanda. Peraturan di perpustakaan di sana sangat ketat. Setiap orang tidak boleh membawa alat tulis, karena dikuatirkan mencoret arsip. Meski demikian, kata Suryadi, siapa saja bisa mendapatkannya, namun memerlukan waktu, kemauan, dan semangat. Ia mengaku bisa membawa foto dan surat-surat itu dengan biasa-biasa saja, dengan harapan bermanf
  • Sastra & Budaya Minang /
    1 Jul 2007

    Stempel Datuak Katumanggungan dan Datuak Parpatiah Nan Sabatang

    Stempel Datuak Katumanggungan (a) dan Stempel Datuak Parpatiah Nan Sabatang (b). (Sumber: Leiden University Library Cod.Or. 1745, hal. ii & iii) Umumnya orang Minangkabau bukan Minang kerbau seperti acap kali ditulis dalam koran Soenting Melajoe pimpinan Mahyuddin Dt. St. Maharadja mengenal nama Datuak Katumanggungan dan Datuak Parpatiah Nan Sabatang. Mereka termasuk founding father orang Minang. Nama keduanya disebut-sebut dalam berbagai wacana kebudayaan Minangkabau dalam tambo, dalam cerita rakyat, dalam pidato adat dan pasambahan, dalam kaba, dan mungkin juga dalam mimpi para datuak kita.Konon jejaknya juga dapat dilacak dalam material culture Minangkbau: ada Batu Batikam di Batusangkar, sebagai bukti arkeologis percanggahan ideologis yang amat prinsipil antara kedua mamak mu
  • Surat-surat Suryadi /
    26 Jun 2007

    Sumuk....

    (Lies Suryadi-Belanda) Geachte Zev, Langsung aja… Saya juga ingin berbagi pengalaman, tepatnya keluh kesah (yg aneh). Saya dan sudah tinggal di Belanda, di kota kecil/kota pelajar Leiden yang tenang, sejak 1998. Istri dan anak menyusul tahun 2001. Kami tinggal di rumah kecil saja. Kemana-mana pakai sepeda. Saya kerja di universitas, tapi gaji tidak begitu besar juga. Istri juga kerja di sebuah restoran, gajinya juga tak besar. Tapi cukuplah buat kami untuk hidup bulan ke bulan. Dan menabung sedikit buat hari tua. Juga ada pensiun sedikit. Kami senang2 saja, sebab ada jaminan kesehatan (disubsidi lagi oleh pemerintah Belanda); anak juga hampir dibilang gratis masuk sekolah. Kami enjoy2 saja: toh bukan kami sendiri yg hidup dengan cukup-cukupan begitu. Saya sering lihat orang2 bule,
  • Sastra & Budaya Minang /
    7 Jun 2007

    Syair Sunur : Tentang duka dan rindu-dendam seorang Ulama Melayu-Minangkabau kepada kampung halamannya di abad ke-19

    Syair Sunur (SSn) adalah sebuah naskah Melayu-Minangkabau klasik yang belum banyak dikenal oleh filolog Indonesia, khususnya yang berasal dari Sumatra Barat. Ini misalnya dapat dikesan dari pembicaraan Hasanuddin WS tentang filologi Minangkabau dalam buletin kebudayaan Suratkabar (Edisi 03/April 2002:12-13), yang tidak menyebut SSn dalam daftar judul-judul naskah Minang yang disenaraikannya. Leni Nora dari Fakultas Sastra Universitas Andalas pernah membicarakan SSn berdasarkan satu fotokopi salinan tercetaknya yang tersimpan di Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM) Padang Panjang (lihat Leni Nora: Syair Sunur: Transliterasi dan Tinjauan Isi [Skripsi Fak. Sastra Universitas Andalas, 2000). Kajian yang cukup komprehensif mengenai SSn sudah saya lakukan untuk meraih
  • Sejarah /
    25 Feb 2007

    Imbas Gerakan Paderi di Pantai Barat Sumatera (Cuplikan dari buku 'Syair Sunur')

    Tuanku Nan Renceh nyatakan perang jihad Di Sumatera, orang Belanda menuruti perintah rajanya itu dengan menyerahkan wilayah Sumateras Westkust kepada Inggris. Walaupun Inggris hanya berkuasa di Inggris, namun mereka mendengar bahwa di pedalaman ada sebuah kerajaan yang berdaulat, juga terhadap wilayah pantai dimana mereka sekarang berada. Orang-orang Inggris itu juga mendengar bahwa di pedalaman sebuah revolusi digerakkan oleh sekelompok ulama reformis yang baru pulang dari Mekah. Pertentangan-pertentangan dan pertumpahan darah antara sesama orang Minangkabau sendiri akibat revolusi itu sudah sering terjadi dan orang-orang Inggris di Padang mendengarnya dari laporan para pedagang, tetapi mereka enggan campur tangan dalam kisruh agama antara sesama pribumi itu. Sampai akhir dekade ke
  • Sejarah /
    15 Feb 2007

    Kontroversi Kaum Paderi: Jika Bukan Karena Tuanku Nan Renceh

    Keterangan foto: Benteng Fort de Kock di Bukittinggi (1826). Seorang panglima Paderi dengan pedang dan al-Qur’an dalam kantong kain yang digantungkan di leher mengawasi benteng itu dari kejauhan. Sumber: H.J.J.L. Ridder de Stuers, De vestiging en uitbreiding den Nederlanders ter Westkust van Sumatra, Deel 1, Amsterdam: P.N. van Kampen, 1849: menghadap hlm. 92 Masyarakat Minangkabau masa lampau pernah merasakan pengalaman pahit akibat radikalisme agama. Di awal abad ke-19, demikian catatan sejarah, dekadensi moral masyarakat Minang sudah tahap lampu merah. Golongan ulama kemudian melancarkan gerakan kembali ke syariat, membasmi bidah dan khurafat. Mereka melakukannya dengan pendekatan persuasif melalui dakwah dan pengajian. Namun, kemudian muncullah seorang yang radikal dan militan
  • Sejarah /
    6 Jan 2007

    Siapakah Kini yang Menyimpan 'Naskah Tuanku Imam Bonjol' yang Asli?

    Sampai sekarang sudah banyak publikasi ilmiah mengenai Perang Paderi, di antaranya studi Muhammad Radjab (1958), Christine Dobbin (1983; terjemahan Indonesianya terbit tahun 1992 dan 2008), dan Rusli Amran (1981, 1985), belum lagi puluhan artikel yang terbit di berbagai jurnal ilmiah terbitan dalam dan luar negeri. Studi-studi tersebut banyak merujuk kepada sumber-sumber primer yang umumnya ditulis oleh pemimpin-pemimpin militer, komandan-komandan lapangan, dan juga pegawai swasta kolonial Belanda yang, langsung atau tidak, pernah terlibat dalam Perang Paderi. Ini dapat dikesan, misalnya, dalam publikasi terbaru mengenai Perang Paderi oleh sejarawan militer G. Teitler: Het Einde van de Padrie-oorlog Het beleg en de vermeestering van Bonjol, 1834-1837; Een Bronnenpublicatie [Akhir Perang P
  • Kajian Umum /
    1 Jan 2007

    Suryadi, Kekayaan Minangkabau di Negeri Orang

    SETIAP kali pulang ke Ranah Minang, Sumatera, isi tas ransel Suryadi selalu saja tambah padat. Ia seakan tak peduli dengan isi tas yang beratnya hampir setara dengan bobot badannya. Ia mau berberat-berat karena isi tasnya sesuatu yang amat berharga dan boleh dikatakan langka, yaitu sejumlah hasil penelitiannya tentang “kekayaan” Minangkabau di negeri orang. Terakhir, ketika bersua Suryadi di Gedung Genta Budaya, Jalan Diponegoro, Padang, Sabtu (24/7), ia membawa sejumlah hasil penelitiannya yang telah dimuat di jurnal ilmiah terbitan Indonesia, Malaysia, Amerika Serikat, Singapura, dan Belanda. Dia juga membawa hasil penelitian berjudul “Syair Sunur: Suntingan Teks, Konteks, dan Pengarang”. Hasil penelitian yang membawanya meraih gelar master of art di Universiteit
  • Tokoh Minang /
    9 Jul 2006

    SYARIFAH NAWAWI : Wanita Minang pertama yang mengecap sistem pendidikan Eropa

    Orang Minangkabau terkesan terlalu membanggakan demokrasi matrilinealnya, yang katanya membuat status kaum wanita mereka lebih baik dalam masyarakat ketimbang kaum wanita dari suku bangsa lain. Sampai batas tertentu hal itu mungkin betul. Namun, pada hakekatnya kaum wanita Minang pada zaman lampau, seperti halnya di tempat-tempat lain, juga tersubordinasi di bawah dominasi kaum pria. Di bidang pendidikan umpamanya, umumnya keluarga Minang menganggap lebih penting menyekolahkan anak laki-laki ketimbang anak perempuan (lihatlah refleksinya dalam banyak novel Indonesia awal yang dituils oleh penulis Minang). Anak-anak gadis dipingit orang tuanya di rumah untuk kemudian menjalani kawin paksa di usia muda. Mungkin Syarifah Nawawi adalah gadis Minang pertama yang terbebaskan dari tradisi kuno i

Author

Recent Post

Recent Comments