Suryadi

  • Minang Saisuak /
    24 Dec 2015

    Minang Saisuak #244 - Pesta “mencukur anak” Hoofddjaksa Padang

    Pesta “mencukur anak” Hoofddjaksa Padang: Angkoe Pamoentjak Maharadja (1902) Dahulu di Minangkabau, kalau seorang anak lahir ke dunia, bukan ayah-ibunya saja yang berbahagia, tapi juga seluruh isi korong-kampung. “Lah lahia anak si anu?”  “Alah!.” “Sia namonyo?” “Abaknyo.” “Baa ruponyo?” “Kundua”. Begitulah dialog dalam cara kampung apabila seorang anak lahir, seperti dicatat oleh A.A. Navis dalam bukunya, Alam Terkembang Jadi Guru (Jakarta: Grafiti Pers, 1984). Apalagi kalau yang lahir itu adalah anak orang gedang-gedang, anak orang-orang berbangsa, anak raja asal-berasal, anak puti sundut-bersundut. Maka itu berarti rahmat bagi seluruh isi kampung. Barangkali ini tradisi yang berasal dari dunia k
  • Minang Saisuak /
    27 Oct 2015

    Minang Saisuak #237 - Anugrah bintang untuk putra Koto Gadang M. Rasad

    Anugrah bintang untuk putra Koto Gadang M. Rasad Dt. Gunuang Ameh Dalam satu nomor rubrik ini, kami sudah menurunkan profil Moehammad Rasad gelar Maharadja Soetan, Hoofddjaksa Landraad di Medan. Beliau putra Koto Gadang. Kini kami turunkan pula secuplik cerita tentang putra Koto Gadang yang lain yang juga punya nama panggilan Moehamad Rasad. Beliau adalah Moehammad Rasad gelar Datoek Goenoeng Emas. Belum diketahui kapan persisnya Moehamad Rasad lahir. Tapi, besar kemungkinan ia juga bersekolah di Fort de Kock, seperti banyak anak-anak Koto Gadang yang hidup sezaman dengannya. Yang jelas, pada Januari 1893 Rasad sudah menjadi leerling di kantor tuan Controleur Alahan Panjang. Dalam bulan Juli 1899 ia diangkat jadi inlandsch schrijver di tempat yang sama. Moehammad Rasad kemudian dipromo

Author

Recent Post

Recent Comments