Suryadi

  • Minang Saisuak /
    24 Dec 2015

    Minang Saisuak #244 - Pesta “mencukur anak” Hoofddjaksa Padang

    Pesta “mencukur anak” Hoofddjaksa Padang: Angkoe Pamoentjak Maharadja (1902) Dahulu di Minangkabau, kalau seorang anak lahir ke dunia, bukan ayah-ibunya saja yang berbahagia, tapi juga seluruh isi korong-kampung. “Lah lahia anak si anu?”  “Alah!.” “Sia namonyo?” “Abaknyo.” “Baa ruponyo?” “Kundua”. Begitulah dialog dalam cara kampung apabila seorang anak lahir, seperti dicatat oleh A.A. Navis dalam bukunya, Alam Terkembang Jadi Guru (Jakarta: Grafiti Pers, 1984). Apalagi kalau yang lahir itu adalah anak orang gedang-gedang, anak orang-orang berbangsa, anak raja asal-berasal, anak puti sundut-bersundut. Maka itu berarti rahmat bagi seluruh isi kampung. Barangkali ini tradisi yang berasal dari dunia k
  • Sejarah /
    24 Dec 2015

    Melawan Amnesia Sejarah : Almarhum Syekh Djamil Djambek

    Pada petang 30, malam 31 Desember 1947, berpindahlah ia dari dunia ini ke alam baka dalam usi 86 tahun, di Bukittinggi. Syekh Muhammad Djamil Djambek, nenek Guru-Guru, penyiar Islam yang giat, penyebar ilmu agama Islam, yang mempunyai daerah rantau yang luas, anggota Dewan Penasehat Agung Republik Indonesia. Pada masa remajanya, Teruna Djamil bukanlah pemuda yang tekun belajar. Ia seorang pemuda yang gemar bertualang, jadi tualang kelana yang melampau-lampau. Orang tuanya yang taat beragama bersilau-mata memandang tingkah laku anaknya itu. Sesudah ia akil-baligh, barulah ia mulai belajar membaca Quran di Pariaman dan di Padang Panjang. Pada suatu ketika, yakni pada masa peralihan abad ke-19 dengan abad ke-20, ia mendengar orang tuanya hendak pergi ke Mekah. Alangkah terkejut orang tuany
  • Paco-paco Minangkabau /
    24 Dec 2015

    Paco-paco Minangkabau #38 - Orang Komunis membuat senjata dalam hutan

          “A. I. D. dengar kabar seperti di bawah ini:       Pada soeatoe hari ada seorang Boemipoetera asal dari Padang si Boesoek minta beli batoe bara barang satoe ton dari tambang Ombilin. Ketika diterangkan kepadanja bahwa arang itoe sangat mahal harganja, ia tidak berkeberatan dan laloe diambilnja wang kertas dari sakoenja boeat bajar kontan. Djadi arang itoe dikirim kepada orang itoe dengan harga franco terima distation.       Setelah beberapa lamanja dari pada itoe orang itoe datang poela. ‘Arang itoe bagoes’, katanja, sekarang ia minta beli barang 3 atau 4 ton lagi. Hal itoe menimboelkan sjak dalam hati toean Van Wijngaarden. Orang itoe diadjaknja bertjakap-tjakap sambil menjoeroeh merapo[r]tkan h
  • Resensi Buku / Kajian Umum /
    24 Dec 2015

    Refleksi - Penyengat, perempuan, literasi

    Mungkin tak seluruh rahasia sebuah pulau kecil di zamrud khatulistiwa yang unik dan penting yang sudah berhasil diungkapkan orang. Pulau yang saya maksud adalah Penyengat. Di Pulau kecil ini pernah berdiri istana (pusat kekuasaan) sebuah kerajaan Melayu berdaulat di masa lampau, yang masih eksis sampai 1911, sebelum dihancurkan oleh orang putih: Kerajaan Riau-Lingga. Dari logika kemiliteran, Pulau Penyengat yang kecil itu sama sekali tidak menguntungkan sebagai basis pertahanan. Pulau yang hanya berjarak sepenghisapan rokok (15 menit berkayuh sampan) dari Tanjung Pinang, ibukota Pulau Bintan, di mana penj[el]ajah Belanda pernah mendudukkan resident-nya, pastilah dapat digempur musuh dari segala arah dengan sangat mudah. Misalkan ada perang dengan orang-orang putih kasar pemburu rempah ra

Author

Recent Post

Recent Comments